Langkahnya malu-malu ketika hendak memasuki lobi utama lokasi pertemuan kami. Malah, ia sempat menyembunyikan tubuhnya di balik dinding kaca yang memisahkan SAE Institute dengan lorong lantai enam gedung mal ini. “Halo…,” sapa Nicky Astria (46) dengan lembut kepada femina sembari menyembulkan kepalanya dari balik pintu kaca. Kami langsung menuju studio satu. Nicky yang ditemani manajer serta putri pertamanya meminta maaf karena waktu pertemuan yang harus diubah menjadi lebih siang.
Rasanya tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Nicky Astria (46) merupakan salah satu wanita penyanyi tanah air yang kejayaannya tak kedaluwarsa. Bagaimana tidak. Meskipun album terakhirnya rilis dua tahun silam dan sempat beristirahat dari dunia rekaman selama sembilan tahun sebelumnya, namanya tak pernah redup. Wajah dan aksi panggung Nicky masih tetap meramaikan perhelatan musik besar yang tayang di layar televisi selama beberapa tahun ini. Sebut saja Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2014 Juni lalu yang menampilkan kolaborasi lintas generasi antara wanita kelahiran Bandung ini bersama Ian Antono (63) dan Husein ‘Idol’ Alatas (25). Atau penampilan memukaunya di televisi bersama grup musik Kotak dan beberapa rekan penyanyi sejawat.
Tidak hanya itu. Salah satu lagu dari album Retrospective yaitu Carry On (Terus Melangkah) sempat meraih penghargaan AMI Awards 2013 untuk kategori rock solo pria/wanita. Istirahat dari dunia rekaman ternyata tidak membuat dirinya tenggelam dimakan waktu dan regenerasi. Uniknya, menurut Nicky, segala pencapaian dan eksistensinya hingga kini bukanlah sesuatu yang dipaksakan.
“Setelah melihat kembali perjalanan saya, ternyata dari awal merintis karier, saya memang dianugerahi skenario yang serba mengalir oleh Tuhan,” kisahnya. Ia memang tidak pernah membayangkan atau bercita-cita akan terjun ke industri musik. “Semua yang saya kerjakan bisa terwujud berkat motivasi dari orang-orang sekitar. Berawal dari Kang Bucky (kakak kandung Nicky -red) yang melihat potensi dalam diri saya dan akhirnya mengenalkan saya kepada almarhum Mas Denny Sabri yang bertangan dingin,” katanya lagi.
Meski mengaku bukan berawal dari ambisi pribadi, wanita yang ternyata merasa kurang nyaman diberikan predikat ‘lady rocker’ ini sangat bersyukur telah menekuni musik sebagai pilihan kariernya. Sembari mencondongkan tubuhnya yang semula bersandar di sofa, wanita bernama lengkap Nicky Nastiti Karya Dewi ini mengatakan, “Musik itu bagaikan rumah kedua bagi saya.”
“Sejak usia 16 tahun saya sudah terjun ke industri musik. Tapi, ya, gitu, namanya juga remaja, yang dipikirkan pasti lebih banyak bermain! Tidak semua tawaran nyanyi saya terima,” kisahnya, penuh semangat. Karakternya yang tidak ngotot juga membuat dirinya tenang-tenang saja ketika musik rock sempat padam di tahun ’90-an. “Banyak memang penyanyi yang akhirnya pindah aliran, tapi saya tidak. Bagi saya, ya, kalau ada yang masih mau, hayu, kalau tidak, ya, tidak apa-apa juga!” katanya, dengan logat Sunda yang kental.
Napak tilas masa remajanya mengantarkan ingatan Nicky pada satu hari yang luar biasa berkesan bagi dirinya. “Ketika konser tunggal saya di Bandung tahun lalu, saya dibikin terbengong-bengong karena waktu itu pihak penyelenggara sampai harus menambah kursi!” katanya. “Saat itu adalah momen yang…,” ia diam sejenak, lalu melanjutkan, “bagi saya, wow, berkesan sepanjang karier saya menjadi penyanyi!”
Wajar bila Nicky begitu terkesan. Dihitung-hitung, saat itu sudah sembilan tahun ia tidak merilis album. “Jadi saya merasa sangat tersanjung, bersyukur, dan sangat berterima kasih karena orang-orang masih mengingat dan menghargai keberadaan saya. Ditambah lagi, ada penggemar yang menyebut diri mereka sebagai Nicky Family datang beramai-ramai untuk menonton juga. Sungguh, semuanya terjadi di luar ekspektasi saya!” katanya, penuh haru.
Sekian lama malang-melintang di dunia musik tidak membuat penggemar Salena Jones (70) dan Al Jarreau (74) ini kemaruk. Keteguhan dirinya untuk tidak diatur oleh industri itulah yang membuat Nicky sudah merasa cukup. “Kalau mau dihitung, saya sudah bergelut di dunia musik selama lebih dari 20 tahun. Jadi, mau apa lagi?” ujarnya pelan. “Kasarnya, saya sudah diberikan anugerah sebanyak ini, masa belum puas juga?” tambahnya.
Bukan berarti ia menutup diri terhadap kemungkinan berkarya lagi. Hanya, Nicky kini telah menetapkan prioritasnya. “Masih sama seperti dulu, saya tidak pernah ngoyo dalam segala hal, termasuk bermusik. Jika ada yang masih percaya dan mengajak berkarya, maka marilah berdiskusi. Saya akan membincangkan hal tersebut dengan suami, dan sebaliknya, saya akan mengatur supaya pekerjaan ini yang mengikuti kondisi saya kini sebagai istri dan ibu anak-anak. Itu yang penting.” (f)