“Jujur saja, perceraian pertama itu benar-benar membuat saya depresi,” tuturnya. Nada bicaranya tegas. “Sebelum itu kehidupan saya bebas dari gosip. Lalu tiba-tiba semua perhatian publik tumpah-ruah ke ruang pribadi saya. Semua menimpa saya secara bertubi-tubi, kasarnya… sudah jatuh tertimpa tangga pula. Padahal, sudah cukup berat bagi saya untuk menghadapinya, memikirkan anak-anak saya, belum lagi mengingat amanat almarhum ayah saya untuk selalu menjaga nama baik keluarga,” kenang Nicky. “Dipikir saya bangga dengan status janda?” ujarnya. Mimik wajahnya seketika berubah.
Bibirnya mengerut dan dahinya mengernyit. “Saya malu sekali waktu itu!”
Beruntung, wanita berkulit putih ini dikelilingi oleh keluarga dan sahabat-sahabat yang begitu mengasihinya dan tidak lelah memberinya dukungan. “Saya tidak tahu bagaimana jadinya melalui masa itu tanpa kehadiran keluarga dan sahabat-sahabat,” katanya.
Waktu itu, ia dilarang menonton televisi, membaca berita hiburan, dan keluarganya bahkan mengurungnya di apartemen. Hanya ada beberapa orang dari keluarga dan teman yang diizinkan berkomunikasi dengannya. Karena apa? Itu semua agar Nicky bisa menahan diri untuk tidak bereaksi terhadap pemberitaan yang pada waktu itu muncul, atau omongan orang yang mungkin saja sampai ke telinganya. “Saya benar-benar harus mengunci mulut supaya tidak memperparah situasi dengan respons-respons yang mungkin saja terucap dari mulut saya,” tuturnya, sembari mengubah posisi duduk.
Kemelut dan keterpurukan yang pada waktu itu kian tidak berujung membuat Nicky akhirnya mencari segala cara untuk bangkit. “Mulai dari psikolog, hipnoterapis, hingga ustaz saya datangi dan libatkan supaya saya tidak jadi gila,” ujarnya. Ia mengaku harus berusaha tetap waras dan realistis! Sementara ia menyadari bahwa dirinya adalah sosok yang lemah, terutama saat itu.
Tujuh belas bulan setelah perceraian pertamanya, dunia hiburan kembali dikejutkan oleh berita pernikahan kedua Nicky dengan Hendra Priyadi (63), sosok yang terpaut usia sangat jauh dari dirinya. Namun, pernikahan ini tak berlangsung lama. Lagi-lagi Nicky harus menghadapi kondisi sulit yang berlipat ganda. “Sekali lagi, tidak ada orang yang menghendaki perceraian. Tentu saja saya berusaha untuk kembali membangun, walau kondisi saya saat itu masih labil akibat perceraian pertama,” katanya.
Rentang waktu yang singkat antara dua proses pernikahan Nicky pada masa itu membuat perhatian publik kembali terpusat kepadanya. Tak habis-habis wanita lincah ini merenung dan mencari tahu apa dan di mana letak kesalahannya. “Mungkin sayalah yang bodoh karena sampai gagal (menikah) dua kali,” tuturnya. Bagaimanapun juga, dua kegagalan itu membuatnya makin banyak introspeksi diri. “Tidak lupa saya juga sujud kepada ibu saya dan minta maaf atas segala kesalahan saya,” tambahnya.
Guncangan dan cobaan yang beruntun itu sempat membuat Nicky pesimistis akan kehidupan percintaannya. Jangankan memikirkan jodoh, ia justru pernah berucap tak ingin menikah lagi. “Boro-boro melirik pria, yang terjadi malah saya tidak mau bepergian ke tempat umum. Saya juga ingat betul pernah berkoar-koar kalau saya benci pria!” katanya.
Akan tetapi, manusia memang tidak memiliki kuasa untuk melangkahi kehendak Yang Di Atas. Seiring perjuangannya untuk kembali menata diri, wanita yang lebih suka melakukan olahraga di rumah ini bergabung ke Padepokan Thaha di Jakarta. Di sanalah ia bertemu dengan Gunanta Afrina (42), yang tanpa disangka-sangka menjadi pelabuhan hatinya hingga sekarang dan mereka diberi seorang putri bernama Kaia Nicolee Muqadissa Afrima (Oika, 7).
Tatkala hatinya dipenuhi oleh keraguan dan ketakutan untuk kembali membina hubungan pada saat itu, perlahan hati dan jiwanya mulai terbuka. “Ada perkataan ustaz yang mengena sekali. Katanya, ‘Lihatlah pasangan berdasarkan agamanya, karena itulah satu-satunya yang dapat menyelamatkan kalian. Jangan lihat dari usia, rupa, atau cinta semata,’” ungkap Nicky, yang mengaku sangat bersyukur karena ia dipertemukan dengan sosok suami yang betul-betul menyayangi, melindungi, membimbing, dan memberinya semangat untuk terus berjuang. Menurut Nicky, kekukuhan suaminya begitu tampak, hingga membantunya untuk terus berusaha.
“Setelah berada di fase sekarang, saya baru bisa mengerti bahwa memang seperti inilah jalan yang harus saya tempuh. Ternyata, Tuhan telah merancang skenario hidup yang begitu kompleks agar saya bisa mendapatkan yang terbaik, yaitu keluarga saya kini,” katanya. Ia lalu mengibaratkannya seperti menyusun puzzle. Awalnya semua terlihat sangat rumit karena potongan-potongan gambar itu belum menemukan tempat yang tepat. Tapi, jika kita terus berusaha secara perlahan, meskipun lama, pasti akan tampak juga wujudnya.
Kisahnya yang penuh dengan luka dan nestapa tak membuat wanita ini muram. Malahan, ia kerap mengucap syukur di sela-sela ceritanya. “Tidak ada yang harus disesali. Kondisi seperti ini bisa terjadi pada siapa saja, bukan hanya saya. Berkat segala permasalahan tersebut, saya jadi bisa mengerti tentang bagaimana menjadi ikhlas.”
Nicky bersyukur, karena berkat pernikahan pertama ia mendapatkan dua putri yang lucu. Ia juga bersyukur pernikahan kedua menambah kekuatan dalam dirinya dan menjadi bekal pendewasaan diri untuk menjalani pernikahan yang ketiga ini.(f)