• Saat menghadapi masalah pelik, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menerima masalah tersebut dengan lapang hati dan tidak saling menyalahkan. Yang perlu diingat, jangan posisikan diri sebagai korban.
• Selain itu, jangan memaksakan diri apabila tidak dapat memberikan dukungan secara aktif. Kepribadian setiap manusia menyebabkan tak semua wanita dapat menyikapi masalah dengan cara yang sama. Ada wanita yang berkepribadian ekstrovert, sehingga lebih mampu melakukan tindakan proaktif ketimbang wanita yang introver. “Tipe kepribadian yang satu tidak lebih baik ketimbang yang lain, karena setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan,” ujar psikolog perkawinan Kassandra Putranto.
• Jika Anda ingin memberi penjelasan pada anak tentang apa yang terjadi, maka berikanlah keterangan sesuai dengan usia anak. Jangan memberi terlalu banyak informasi, sebab itu dapat membingungkan anak dan merusak kebanggaan mereka terhadap orang tuanya. “Yang penting, jangan sampai anak berpikir bahwa masalah ini terjadi karena kesalahan mereka,” kata Kassandra.
• Lalu, sampai kapan dukungan mesti terus diberikan? Idealnya, seorang istri mesti tetap berada di sisi suami dalam kondisi seburuk apa pun. Namun, tingkat kekuatan seseorang saat menghadapi tekanan berbeda-beda, ditentukan oleh banyak faktor, seperti kompleksitas permasalahan, kualitas komunikasi dengan pasangan, serta dukungan moril dari lingkungan.
• Tidak dapat dipungkiri, sekuat-kuatnya cinta, pasti ada istri yang akhirnya tidak tahan dan memutuskan untuk berpisah. Menanggapi kejadian ini, jangan menuding istri sebagai pihak yang tidak setia atau ‘habis manis sepah dibuang’. Setiap manusia pasti memiliki harapan-harapan dalam hidupnya. Jika ternyata harapan itu tak terpenuhi, maka hak setiap orang untuk mencari kehidupan yang lebih baik, mengikuti kata hatinya. (f)