Mas Andi memang kadang-kadang menyebalkan. Semua yang wajib hadir sudah berkumpul di sini sejak kemarin. Mama dan Mbak Fira kemarin sore sudah sampai dari Semarang. Aku sampai persis menjelang magrib. Lalu, selepas isya, Lestari muncul. Jadi, tinggal Mas Andi yang belum menunjukkan batang hidungnya.
Katanya, dia akan berangkat dari Yogya tengah malam agar bisa sampai sebelum pukul sepuluh pagi. Tapi kemudian, yang muncul tadi pagi cuma pesan singkatnya, isinya minta pertemuan ditunda jadi besok sore. Alasannya, apa lagi kalau bukan masalah pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Ada buyer Italia yang datang mendadak dan harus dijamu katanya. Ehmm… jadilah kami berempat menunggunya.
Tadi pagi Mbak Fira sudah menelepon Pak Gigih untuk perubahan jadwal. Jadi tak ada kegiatan selama dua hari, alias bebas. Makanya, Mama dan Mbak Fira sudah pergi sejak tadi pagi. Mencari oleh-oleh dan anjangsana ke teman-teman lama Mama, katanya. Sedangkan aku, ehmm malas ke mana-mana. Aku banyak kehilangan kontak dengan teman-teman kecil dulu. Lagi pula, badanku terasa capek karena deraan kerja yang menggila akhir-akhir ini. Jadi, waktunya beristirahat sekarang.
Aku nyaris berpikir bahwa di rumah ini cuma ada aku dan Mak Darti, sampai kulihat kelebat Lestari di halaman belakang. Dia berdiri di bawah pohon mangga gadung dengan wajah mendongak ke atas, seperti Pak Raden sedang menghitung buah jambunya. Dia mengenakan rok terusan panjang hingga mata kaki yang menurutku agak terlalu muram untuk seorang gadis muda sepertinya. Kakinya telanjang tanpa alas. Ehmm... dulu, ketika kami sama-sama masih kanak-kanak, dia memang sering berkeliaran seperti itu, tanpa alas kaki. Tapi, kulit kakinya tak pernah tampak menjadi gelap. Mungkin karena pada dasarnya pigmen kulitnya memang sedikit, ya.
Dia menoleh ke arahku, merasa diperhatikan. Senyumnya mengembang ragu-ragu. Kini dia memasukkan kedua belah tangannya ke dalam saku besar roknya, berdiri mematung, seperti menunggu reaksiku atas senyumannya tadi.
Kutunjuk pohon itu dengan gelas yang ada di tanganku. “Pohon itu sudah malas berbuah. Mungkin sudah memasuki masa menopause.”
Dia tertawa karena selorohku. Cara tertawanya mengingatkanku pada almarhum Papa. Keduanya punya cara yang sama.
“Dulu kita sering memanjatinya.”
****
Ya, dulu. Aku ingat sekali itu. Waktu itu umurku sembilan tahun, sedangkan dia lima tahun. Dia juga masih tinggal di rumah belakang dengan Bu Nanik; demikian aku biasa menyebutnya; bersama ibunya. Jadi, sebenarnya begini, rumahku; rumah depan; dan rumahnya; rumah belakang; adalah dua kavling yang saling memunggungi.
Rumah depan lebih besar dan lebih luas halaman depan dan belakangnya. Sedangkan rumah belakang lebih kecil dengan halaman yang lebih minim pula. Papa membeli rumah belakang sejak ada Lestari dan ibunya. Lalu tembok belakang yang membatasi dua halaman belakang dijebol sebagian, diganti dengan pagar besi pendek dengan pintu kecil yang selalu berderak engselnya ketika dibuka. Jadi, Lestari harus melewati pintu kecil tersebut baru bisa memanjati pohon mangga yang memang ada di wilayah halaman belakang rumah depan.
Ibu Lestari adalah madu mamaku alias istri kedua Papa. Jadi, Lestari adalah saudara tiriku. Aku masih belum genap lima tahun ketika itu terjadi, sedangkan Mbak Fira sudah dua belas tahun dan Mas Andi empat belas. Papa menikah lagi dengan anak salah seorang penjaga tambak udangnya di Sidoarjo. Kelak, ketika dewasa, aku baru mengerti bahwa Mama sangat marah dengan hal itu.
Tentu saja. Apalagi pernikahan itu dilakukan diam-diam di luar sepengetahuan Mama. Waktu itu aku tak banyak mengerti. Yang aku ingat cuma Mama meninggalkan kami semua, tinggal berhari-hari di rumah Eyang, hal yang selama ini tak pernah dia lakukan. Mama baru kembali setelah Papa menjemputnya.
Lalu gelombang kedua datang lagi. Bu Nanik; demikian aku biasa memanggil ibu Lestari; muncul di rumah dengan menggendong bayi berselimut. Dia bersama Pak Saleh, bapaknya. Aku ingat seisi rumah mendadak senyap. Mama segera masuk ke kamar dan tak mau diganggu oleh siapa pun. Lalu Papa membawa mereka ke suatu tempat yang aku tak tahu di mana.
Setelah kembali, Papa masuk ke kamar dan sempat kudengar keributan dan suara keras Mama dari dalamnya, sebelum Mak Darti membawaku menyingkir.
*****
Entah dealing seperti apa yang dicapai oleh orang tuaku selama keributan itu. Yang pasti, tak sampai dua bulan kemudian rumah belakang itu mulai direnovasi. Lalu Lestari dan ibunya tinggal di sana.
Semenjak itu Mama jadi lebih pendiam dan sering membawa kami pergi menengok Eyang tanpa Papa. Mungkin akulah satu-satunya yang merasa diuntungkan oleh semua kejadian itu. Aku jadi punya teman kecil, yaitu Lestari yang sejak bisa jalan sangat suka membuntut ke mana pun aku pergi. Tapi, Mama dalam diamnya tak terlalu suka melihat kami akrab.
Walau tak pernah melarang, Mama sering memanggilku dengan berbagai alasan jika melihat kami sedang asyik akan sesuatu. Terlebih jika aku yang pergi bertandang ke rumah belakang. Mak Darti akan segera datang menyusul, tentu atas suruhan Mama.
Aku masih ingat saat Papa berjalan melintasi halaman belakang, membuat pintu pagar kecil itu berderak sebelum mencapai dapur rumah belakang. Biasanya malam hari. Lalu Papa akan muncul kembali menjelang kami berangkat sekolah.
Suatu hari aku baru pulang sekolah ketika kulihat Mas Yanto, sopir Papa, memasukkan kardus-kardus ke dalam mobil. Juga tas koper. Lalu Lestari dan ibunya masuk ke dalam mobil. Ketika kembali, Mas Yanto bilang mengantarkan mereka ke terminal. Sejak itu kuhabiskan masa kecil tanpa buntut Lestari di belakangku. Dan baru melihatnya kembali pada saat pemakaman Papa bulan lalu.
Kini Lestari, yang gadis dewasa itu, ada di depanku. Tubuhnya langsing semampai, cenderung kurus. Rambutnya mewarisi rambut ibunya: tebal dan ikal, diikat sekenanya. Sedangkan wajah di bawah anak-anak rambut itu adalah duplikat papaku. Mata, hidung, dan bibir ditirunya nyaris bulat-bulat. Dia adalah Papa dalam versi wanita.
Kemarin aku, Mama, dan Mbak Fira agak terkejut dia datang sendirian. Kami semua berpikir, setelah semua masa lalu dan nihilnya komunikasi antara kami, dia akan datang dengan diantar seseorang, salah satu pamannya misalnya. Tapi, dia muncul cuma ditemani sebuah ransel kecil warna kuning semalam. Wajahnya tenang sekali waktu menyalami dan berbincang sebentar dengan kami bertiga. Tapi, kutangkap sikap waspada dan berjaraknya, seperti berusaha menunjukkan martabat pada dirinya sendiri. Ah, dia benar-benar gadis dewasa.
Akhirnya terbuka sudah wasiat Papa. Di ruang makan, di depan Mama, Mbak Fira, Mas Andi, aku, dan Lestari, Pak Gigih membacakannya. Cuma ada satu hal yang mengejutkan. Rumah ini seluruhnya, jadi termasuk rumah belakang, diwasiatkan Papa untuk jadi milik Lestari. Ruangan senyap. Mama dengan matanya mengisyaratkan agar kami bertiga tak bereaksi frontal. Kulihat mulut Lestari agak terbuka. Jadi ini juga di luar dugaannya. Ketika beradu pandang denganku, matanya polos tak mengerti, seakan menyampaikan pesan 'aku tak mengerti'.
Pak Gigih pergi setelah membuat janji dengan Lestari mengenai pengurusan harta yang menjadi haknya. Lestari seperti sekadar mengiyakan semua yang dikatakan notaris karib almarhum Papa itu. Lalu dia pergi ke rumah belakang dengan langkah lambat. Sementara kami berempat tanpa rencana berkumpul di ruang tengah.
“Ma… bagaimana?”
Suara Mbak Fira terdengar sangat hati-hati, seperti sedang membangunkan Mama dari tidurnya.
Mama memandang seluruh ruangan. “Biarlah. Toh, itu yang diinginkan Papa kalian.”
“Tapi Ma, rumah ini kan ....”
Mama cuma diam bermenit-menit dan kami menunggu dengan tegang seakan sedang ada yang meregang nyawa di hadapan kami. Akhirnya kalimat yang keluar dari mulut Mama adalah sebuah pengulangan. “Biarlah. Toh, itu yang diinginkan Papa kalian.”
Mbak Fira langsung mendelik. “Tapi, Ma, kan tidak bisa begitu! Ini kan rumah sejarah kita! Kenapa ....”
Mama memberi isyarat Mbak Fira untuk diam. “Fira, papamu cuma memberikan rumah ini pada Lestari. Sisanya untuk kalian bertiga. Mama rasa ini cukup adil. Dia juga anak papamu, saudara kalian.”
Ini pertama kalinya aku dengar Mama menyebut Lestari adalah saudara kami.
“Mas... ?” Mbak Fira meminta dukungan Mas Andi.
Mata Mbak Fira beralih padaku, tapi yang dilihatnya adalah aku yang mengangguk. Jujur, aku tak merasa perlu memprotes keputusan yang dibuat Papa. Toh, rumah ini hanyalah sebagian kecil dari harta warisan yang ditinggalkan Papa untuk kami. Dan aku yakin, bagian kami masing-masing tidaklah lebih kecil dari nilai rumah ini.
Mbak Fira menyerah. Sempat kudengar gerutuannya bahwa rumah ini adalah rumah pertama, tempat kenangan kami semua menghabiskan masa kecil. Tapi, Mama tak menanggapinya.
*****
Aku agak kaget melihat Lestari duduk termenung sendirian di teras dapur ketika aku ke belakang. Dia menoleh padaku dan wajahnya tampak tolol.
“Percayalah .... aku tidak pernah meminta .... “ Dia menggelengkan kepalanya seakan gelengannya mampu membuatku percaya.
“Meminta apa?” Sebenarnya aku tahu maksudnya.
“Warisan itu .... aku tidak pernah memintanya. Aku datang menengok Bapak waktu itu bukan untuk ini ….”
Ahhh… ini rupanya. Dia sendiri yang berprasangka.
“Sudahlah, tidak usah berpikir macam-macam.” Kutepuk pundaknya sebelum meninggalkannya.
Suasana ruangan masih sehening ketika kutinggalkan tadi. Mama, Mbak Fira, dan Mas Andi masih diam, seperti hal buruk sedang terjadi. Ehmm… mungkin sebenarnya Mama dan Mas Andi sama saja dengan Mbak Fira, sama-sama tidak cukup ikhlas menerima keputusan Papa. Jangan-jangan, apa yang dikatakan Mama tadi cuma basa-basi untuk meredam kami. Mungkin saja, ‘kan?
Lestari masuk. Kali ini lengkap dengan ransel kuning kecil menempel di punggungnya. Berdiri di depan kami yang tengah diam tentu membuatnya canggung.
“Mau ke mana, Les?”
“Pulang ke Surabaya.” Matanya beralih dari wajahku ke arah Mama. “Bu, saya pamit pulang.”
Begitu senyum Mama mengembang, dia maju ke arah Mama sambil mengulurkan tangannya. Mama berdiri menyambut. “Jangan lupa hubungi Pak Gigih untuk mengurus semuanya ya, Les.”
Kentara sekali Mbak Fira tidak suka pada ucapan Mama itu.
“Bu, saya tidak pernah meminta ini… saya datang menengok Bapak tempo hari bukan untuk ini….”
“Sudahlah, kami tidak berprasangka seperti itu. Papa yang memutuskan, jadi kita terima saja. Tak ada masalah.”
Wajah Lestari masih tampak tolol. Dengan wajah itu dia mendatangi dan menjabat tangan kami satu per satu. Lalu dia menuju pintu sambil mengucap salam. Kupikir semua mengantarkannya sampai keluar. Ternyata, cuma aku yang berjalan mengiringinya ke pagar. Dia melambai ke arah tukang becak yang kebetulan lewat.
“Kenapa tidak pulang besok pagi saja? Bareng denganku. Aku besok kembali ke Sidoarjo setelah subuh.”
Dia menggeleng. “Aku tidak bisa, ada pekerjaan.”
“Hei, beri aku nomor teleponmu.”
Dia membuat panggilan ke teleponku setelah kudiktekan nomorku. Lalu pak tukang becak membawanya ke terminal bus. Begitu saja, tak banyak kata, seperti dulu ketika Mas Yanto membawanya pergi entah ke mana.
****
Ternyata tidak terlalu sulit menemukan alamatnya. Tadi aku cuma perlu dua kali bertanya. Tapi tentu juga karena andil denah lokasi yang diberikan Sari, staf administrasiku, kemarin. Pagar dan pintu depan terbuka lebar. Ada suara musik instrumentalia dan dengung mesin keluar dari ruang depan. Di kaca ada tertempel stiker bertulis: RUMAH JAHIT INTAN LESTARI. Tulisan sederhana, tanpa pernik.
Seorang gadis muda mendongakkan wajah dari mesin jahit dan memasang senyum ramah ketika aku berdiri di ambang pintu. Ternyata ada dua orang di dalam; yang seorang berhadapan dengan mesin jahit, sedang yang lainnya tengah bersila di lantai dikelilingi kotak kancing dan payet. Masih ada satu mesin jahit, dua manekin setengah badan, dan entah mesin apa namanya bersama mereka di ruangan seukuran ruang tamu itu.
“Mau menjahitkan baju ya, Mbak?”
“Ini rumah Lestari?”
“Mbakkk…!“ Gadis itu berteriak sambil menengok ke ruangan di sisi kanannya.
Tubuh Lestari segera muncul di ambang yang tak berpintu. Dia terkejut melihat aku yang datang, tapi segera muncul senyumnya. Ada meteran kain melingkari leher dan pensil merah di tangan kanannya. Ternyata dia berkacamata.
“Hai, kau tidak bilang punya usaha seperti ini.”
“Mbak juga tidak bilang kalau sedang perlu baju baru.“ Dia tertawa renyah. “Ayo, masuk, Mbak.”
Aku mengikutinya ke dalam. Ruangan itu berisi satu meja besar yang di atasnya tergelar lembaran kertas koran dan beberapa penggaris panjang lurus dan lengkung. Sepertinya dia sedang membuat pola. Gadis yang tadi berteriak masuk lagi dengan nampan berisi es teh. Aku dan Lestari mengucapkan terima kasih nyaris bersamaan.
“Hebat sekali kau ini. Sepertinya sedang kebanjiran order, ya?” Kutunjuk tumpukan gelondongan kain aneka rupa di sudut ruangan. Di sebelahnya masih ada rak tinggi bertudung plastik transparan masih berisi tumpukan kain yang kuduga sudah berupa baju.
“Ah, cuma ini keterampilan yang aku punya. Cuma ini yang aku bisa. Kebetulan sedang ada order baju seragam tiga puluh tujuh potong. Berkat rekomendasi dari seorang teman. Yang lainnya itu orderan biasa dari perorangan. Mbak mau jahit juga? Nanti aku beri diskon khusus, deh. Atau gratis sajalah. Hei, tidak susah tadi mencari alamat ini?”
Tak kusangka bicaranya banyak juga. Dia seperti bukan gadis yang tempo hari melongo karena wasiat Papa.
“Ehm ... rasanya orang-orang di kantorku sudah waktunya punya seragam. Coba aku bicarakan dulu, ya, dengan rekanku. Kau bisa buatkan desainnya kan kalau misal aku malas berpikir? Juga bisa datang ke Sidoarjo untuk ambil ukuran?”
“Tentu! Telepon saja aku. Berikan alamatnya, lalu aku akan terbang ke sana! Kantor Mbak bergerak di bidang apa?”
“Desain interior. Aku joint dengan sahabatku. Kantor dan workshop ada di Sidoarjo. Kalau kau mau buat butik, aku bisa bereskan desain sekaligus pengerjaannya. Bagaimana?”
Dia bersiul. “Butik… ehmmm, sampai saat ini masih berupa mimpi. Bisa seperti ini saja aku sudah sangat bersyukur. Dulu awal-awal malah tak terpikir akan sanggup menggaji mereka berdua.”
“Tapi kulihat kau berhasil.”
Senyumnya mengembang. “Yaaa… paling setelah dua tahun berkeringat ada kemajuan yang bisa dilihatlah. Jadi Mbak arsitek, ya? Dulu kuliah di Surabaya?”
“Ya. Interior.”
“Wow… keren!”
“Ah, biasa saja.”
Dia menggeleng. “Aku dulu pernah bercita-cita menjadi arsitek. Membuat rumah, gedung… wow…!” Jempolnya terangkat ke arahku.
“Lalu?”
“Lalu? Ya, lalu aku mengambil kursus menjahit selepas SMA.” Tawanya pecah berderai.
Penulis: Ina Binanti Alasta