Bagian 2
Kisah Sebelumnya
Maha, wanita asal Jakarta, pergi ke Mentawai untuk menenangkan diri. Perkawinannya di ambang keretakan. Tak disangka, di pulau itu dia bertemu dengan Lui, pria asli Mentawai yang besar dan tinggal di Jakarta. Liu mengajak Aira untuk tinggal di rumahnya. Di kampung Lui, Aira belajar filosofi tato (titi) dalam hidup orang Mentawai.
Hari Kedua. Pagi
Kelopak mataku serasa dilekatkan dengan lem perekat. Sulit sekali dibuka. Nyanyian ayam hutan bersahutan tanpa henti. Sinar mentari yang berhasil menyelinap di sela dinding kayu, menyilaukan mata. Suara di balik kelambu terus memanggil namaku. Akhirnya, mataku terbelalak dan terseok menyibak kelambu.
“Ayo, nanti kita ketinggalan rombongan,” perintah si pemilik suara.
“Oke tunggu sepuluh menit, ya. Aku mandi dulu.”
“Buat apa mandi? Kamu tidak akan ketemu Presiden di sini. Mandi di alam terbuka lebih menyulut andrenalin.”
“Menurutmu kamar mandi di sini kurang terbuka?”
Lui tertawa seraya beranjak pergi. Tertatih aku mengikuti langkah tungkainya yang panjang. Sekelompok ina telah berkumpul di bawah tangga memegang leggeu (tombak) dan keranjang bambu.
“Mau ke mana?” kulontarkan lagi pertanyaan yang belum juga dijawabnya.
“Kamu harus mencoba kegiatan sehari-hari perempuan di sini agar bisa makan. Salah satunya paligagra, mencari ikan di sungai. Mereka tak kalah dengan para lelaki.”
“Ayo, berangkat,” ajak Ina Ama. Tak disangka lidahnya lancar berbahasa Indonesia.
Aku dan Lui berjalan di belakang mengikuti iring-iringan.
“Selagi para pria masih nyenyak tidur, mereka sudah bangun untuk memanen hasil ladang, mengurus ternak atau ke sungai menangkap ikan. Sampai di rumah mereka memasak dan mengurus pekerjaan rumah tangga. Jika hasil panen berlebih, mereka akan pergi ke pasar untuk dijual atau dibarter dengan kebutuhan lain,” cerita Lui sepanjang jalan. Melewati hamparan ladang, aku melihat para perempuan baya didampingi anak-anaknya memetik keladi.
“Apa yang dilakukan para pria untuk mencari nafkah?”
“Mereka berburu binatang di hutan atau mencari ikan di laut. Alam memberikan kehidupan bagi kami. Untuk itulah, kehidupan kami harus selaras dengan alam demi generasi penerus. Sebelum menebang pohon, menyembelih hewan atau membuka lahan, kami harus menyampaikan pesan kepada alam bahwa tindakan itu terpaksa dilakukan semata-mata untuk menyambung nyawa. Tapi anak muda sekarang kurang menghargai alam. Mereka malah menjauhi alam.”
Tiba di tepi sungai, rombongan perempuan di depan kami segera terjun ke sungai. Aku ragu mengikuti mereka.
“Kamu harus bisa menangkap ikan supaya bisa makan,” selorohnya dengan ekspresi dipasang angker.
Tanpa pikir panjang lagi, aku menceburkan diri ke sungai dan beraksi dengan leggeu di tangan. Sementara Lui hanya menunggu di pinggir. Aku melonjak kegirangan setelah berhasil menangkap seekor ikan. Sampai ikan yang kutangkap hampir terlepas lagi. Untung saja, tangan Ina Ama yang cekatan berhasil menangkapnya kembali. Sekilas kulihat seekor ular berenang mendekatiku. Sontak aku berteriak histeris. Lui menarik tanganku ke atas dan meredam reaksiku yang dianggap berlebihan. Sementara yang lain tetap memburu ikan, seolah tak terjadi apa-apa. Aku jera turun ke sungai lagi.
****
“Mengapa memilih Mentawai?” tanya Lui, saat aku duduk di sebelahnya.
“Nama pulau ini yang keluar saat aku undi. Semesta yang menuntunku untuk mampir ke sini, bertemu denganmu, lalu jatuh cinta denganmu, mungkin.”
Lui menatap mataku seolah mencari jawaban apakah aku bersungguh-sungguh mengucapkan kalimat tadi.
“Lalu apa yang kau cari di sini?”
“Aku tidak mencari apa pun. Aku hanya melarikan diri.”
“Dari apa?” selidiknya. “Oke, dari siapa, mungkin?”
“Masalah.”
“Ah, ya. Manusia dan masalah. Memang tak bisa dipisahkan. Selama manusia ada, masalah akan selalu muncul membayanginya. Masalah adalah akibat dari perilaku manusia sendiri. Nah, solusinya tergantung manusia itu menyikapinya.”
“Oke, bagaimana kamu menyikapi pengkhianatan?”
“Apa yang dikhianati? Cinta?”
Aku menanggapinya hanya dengan melemparkan sebongkah batu ke sungai.
“Kalau dampak dari dikhianati aku merasa sakit hati dan sulit untuk memaafkan, apalagi membangun kepercayaan lagi, aku akan memilih untuk meninggalkan dan menumbuhkan cinta yang lain.”
“Bagaimana kalau kamu tidak bisa merasakan apakah kamu sakit hati atau tidak?”
“Kalau sampai melarikan diri ke tempat asing dengan harapan ketika kembali ke rumah masalah telah selesai dan kondisi kembali normal, bisa dipastikan kamu sangat patah hati.”
Aku merasa tertampar oleh kata-katanya. Kalau saja tak dibayangi ular tadi, aku akan menyemplung ke sungai untuk mendinginkan wajahku yang memanas.
“Kalau ada kesempatan, kamu harus mengobrol dengan Ina Ama. Dia bersahabat dengan pengkhianatan.”
Keningku berkerut. Pantas saja bila ia tak bersahabat melihatku. Mungkin takut suaminya kepincut.
“Dia telah diceraikan oleh suaminya yang berengsek, setelah berkali-kali dikhianati. Makanya, dia sekarang tinggal di uma milik Ukkui karena dipulangkan tanpa hormat. Padahal, bukan dia yang bersalah.”
Kadang-kadang aku curiga, jangan-jangan Lui punya kemampuan membaca pikiran orang.
“Hei, kok, kita ditinggal!?” seruku, melihat iring-iringan perempuan yang meninggalkan sungai sambil memanggul keranjang dipenuhi ikan.
Siang
Selama perjalanan pulang, aku sudah tak sabar membayangkan ikut ke dapur untuk mengolah ikan yang berhasil kutangkap. Menginjak pekarangan uma, seorang perempuan muda yang berdiri di tangga melambaikan tangan ke arah kami. Aku melirik Lui yang membalas lambaian tangannya. Makin dekat, paras perempuan itu terlihat makin menawan. Ia menyambut kami dengan senyum yang memamerkan deretan gigi yang putih terawat. Kulitnya yang kuning langsat kontras dengan rambut panjangnya yang sehitam arang.
“Hei Ura, kapan kau tiba?” sapa Lui.
“Baru saja,” jawabnya, manja.
“Perkenalkan, Maha, kawanku dari Jakarta.”
Aku mengulurkan tangan yang disambutnya hangat dengan menyebutkan namanya. Tapi, sorot matanya seperti terancam. Ah, ya, mungkin aku dianggap sebagai pesaing.
“Ura sepupuku yang tinggal di sini. Dia baru tiba dari mengunjungi temannya di muara sekaligus menjual hasil kerajinan tangannya.”
“Kerajinan tangan?”
“Nanti Ura akan ceritakan,” sahut Lui. “Ura, sekarang kau ajak Maha ke purusuat (dapur). Dia tak sabar untuk memasak ikan hasil tangkapannya.”
Di dapur, rombongan ina tadi sedang mengeluarkan tangkapan ikan dari keranjang. Aku kaget melihat wajah mereka yang mendadak berwarna putih. Ura menyodorkan kasai, bedak cair yang terbuat dari tepung beras dan ramuan dedaunan. Aku mengikuti Ura yang menorehkan bedak itu di wajah. Terasa dingin seperti ditempel es batu.
“Sudah lama berkawan dengan Lui?” tanya Ura, sambil membersihkan sisik, sirip dan isi perut ikan.
“Dua hari,” ujarku diakhiri derai tawa. “Kami memang sama-sama dari Jakarta, tapi baru ketemu di sini, kemarin.”
“Tak kenal sebelumnya?” Sorot matanya tampak penasaran.
Aku menggeleng tegas. Senyum merekah di bibirnya yang dipoles gincu merah.
“Aku pun baru bertemu lagi dengan Lui. Terakhir kami berjumpa saat aku masih usia tujuh tahun. Bahkan aku tak ingat lagi wajahnya.”
“Tapi kalian terlihat seperti tak pernah terpisah.”
Ura mengulum senyum. Pipinya bersemu malu.
“Dia sangat bersahabat kepada siapa pun,” ujar Ura, matanya berbinar.
****
Dengan tangkas Ura menumbuk bumbu menggunakan alu yang terbuat dari bongkahan batu sisa letusan gunung api. Setelah berkali-kali meminta untuk mencobanya, akhirnya Ura menyerahkan alu dengan ragu. Tapi aku meyakinkan bahwa aku mampu melakukannya. Tiga kali mengangkat alu, lenganku seketika kelu. Ternyata aku menganggap remeh kekuatan tangan mungilnya.
Melihat alunan alu di tanganku yang mulai tak beraturan, ia memintaku untuk mengambilkan batang bambu yang telah dipersiapkan Ina Ama di dekat tungku. Aku yakin ia tak mau menyinggung perasaan orang kota yang dikenal memiliki gengsi tinggi. Setelah meletakkan alu di lantai, Ura mencampur ikan dan bumbu dan mengaduknya. Lalu ia memintaku memasukkan adonan tersebut ke dalam batang bambu dan menaruhnya di atas tungku. Aroma bambu berisi bumbu yang terbakar seketika tersulut ke udara dan memenuhi dapur. Mendadak perutku mengirim pesan.
Setelah memastikan seluruh bambu terangkat dari tungku yang membuatnya menjelma berwarna kelabu, Ura mengajakku beranjak dari dapur.
“Perut bisa berontak kalau berlama-lama di purusuat tapi hanya bisa menatapi makanan itu,” selorohnya.
Sementara tangan perempuan lain masih bergelut dengan sagu di kuali.
Ura menghampiri lemari kayu dan mengambil sebuah kotak cukup besar. Di lantai, ia membuka kotak yang berisi manik warna-warni seperti yang kulihat menghias leher Ura dan para perempuan paruh baya. Seperti halnya tato, aku perhatikan anak muda tak mengenakan perhiasan manik. Ura satu-satunya perempuan muda yang masih berpakaian seperti para sesepuh.
Gerakan tangannya terlihat luwes menguntai butiran manik menjadi seutas kalung.
“Ajari aku,” pintaku tak sabar.
Permintaanku tampaknya telah ia nantikan. Dengan telaten ia memperlihatkan tahap demi tahap menjalin manik. Sepanjang hidup, aku tak pernah memegang manik. Tapi, atas arahannya ternyata tak butuh waktu lama untuk mengikuti kelenturan jemarinya. Boleh aku berbangga, kalung buatan murid yang baru belajar satu jam, serupa dengan buatan sang guru.
Bukan hanya membuat kalung, Ura pun pandai membuat gelang, ikat kepala, dompet, dan tas. Aku teringat perkataan Lui tadi, buatan tangannya ini dijual di pasar. Cerita Ura, makin banyak turis yang datang ke pulau ini, makin banyak yang membutuhkan cendera mata. Namun, anak muda makin jarang mengisi waktu dengan membuat perhiasan dari manik.
Ura teringat semasa kecil sering kali para perempuan belia hingga tua menghabiskan waktu senggang, bila tak pergi ke ladang, dengan membuat kalung atau barang lainnya dari manik-manik. Entah untuk dipakai sendiri ataupun dibarter di pasar dengan barang lain. Ritual itu perlahan tersempal oleh perguliran zaman. Generasi penerus tak mau mewarisi keahlian para leluhurnya. Seperti halnya tato yang mulai dianggap sebagai masa lalu.
Ura terlihat lebih matang dari usianya. Riwayat hidupnya telah menggembleng dirinya menjadi sosok perempuan yang lebih cerdas dibandingkan teman sebayanya. Siapa duga, Ura yang selalu menghiasi wajahnya dengan senyum tak pernah mengenal sosok ayahnya, begitu pula ibunya. Ayahnya seorang peneliti yang datang ke pulau ini, sementara ibunya adalah seorang gadis muda yang punya impian untuk sekolah di pulau seberang.
Karisma sang peneliti memikat hati si gadis belia. Tiba-tiba lelaki itu menghilang dan meninggalkan gadis itu berbadan dua, yang putus asa. Berkali-kali si gadis mencoba bunuh diri, namun berkali-kali pula Bajak Ruji berhasil menyelamatkannya. Meskipun dalam kondisi mengandung, keelokan gadis itu membuat para pemuda dari kampung tetangga sekalipun rela meminangnya. Namun, gadis itu mengancam akan bunuh diri, bila dipaksa untuk dikawini. Ura lahir selamat saat tengah malam purnama. Tapi, esok paginya sang ibu menghilang tanpa jejak. Tiga hari kemudian ditemukan mayat mengambang di sungai.
Bayi yang diberi nama Ura sempat dirawat oleh istri Bajak Ruji sebelum ia melahirkan dan nyawanya tak bisa diselamatkan. Kemudian Ura yang sebatang kara diasuh oleh Ina Ama yang kebetulan pulang ke uma milik kakaknya setelah diceraikan suaminya yang gemar selingkuh. Syukurlah gen Ura lebih banyak diturunkan dari ibunya, bukan ayahnya yang tak bertanggung jawab. Diberi kepercayaan mengasuh Ura, Ina Ama yang tak dikaruniai buah hati seakan mendapat keberuntungan. Bajak Ruji menganggap Ura sebagai pengganti putrinya yang tak berusia panjang dan putranya yang dijauhkan dari hadapannya.
Sebagai gadis kesayangan yang tak banyak menuntut, Bajak Ruji sulit menolak satu permintaan Ura untuk melanjutkan sekolah di pulau seberang. Seakan hendak mewujudkan impian ibunya yang telah lama terkubur. Apalagi gadis itu berjanji tak akan melupakan tanah leluhurnya. Luluh atas permohonan Ura, akhirnya Bajak Ruji menitipkan Ura kepada kerabatnya di tanah Minang.
Prestasi Ura di sekolah sangat membanggakan. Setelah menyelesaikan sekolah kebidanan, tanpa diminta ia menepati janjinya untuk pulang ke bumi leluhurnya. Dengan ilmu yang diperoleh dari sekolah, ia tak bermaksud menentang peran yang dilakoni oleh ibu yang telah mengasuhnya, namun untuk saling melengkapi demi keselamatan nyawa ibu dan anak.
Sepulang dari sungai tadi, mataku tak menangkap bayangan Lui.
“Dari tadi aku tak melihat Lui.”
“Pasti dia sedang mengajarkan para lelaki yang masih muda tapi makin malas untuk mencari makanan di hutan,” jawab Ura.
“Lui sedang mengambil sagu. Pergilah, kau mesti lihat. Searah menuju sungai. Kalau kau lupa, tanyalah, banyak orang akan kau jumpa di jalan,” kata Ina Ama yang sedang menyedot kubek di sudut dekat dapur. Sering kali kupergoki mata Ina Ama yang menatapiku dengan tajam seakan hendak membaca pikiranku. Senyum yang acap kali absen dari raut wajahnya yang tajam membuatku menghindar darinya. Tubuhnya yang kurus dan dadanya yang kempis bisa dimaklumi mengingat kubek yang tak pernah padam di tangannya, kecuali saat tertidur. Dari satu batang ke batang lain, dari pagi hingga malam, dan berganti hari, kubek di tangannya yang bertato terus menyala.
“Baik Ina, aku masih ingat,” sahutku, sambil membenahi manik yang belum sempat diuntai.
“Aku ikut,” sambar Ura.
“Tak usah, Ura. Biarkan dia pergi sendiri. Temani aku menyiapkan makanan di sini.”
“Nanti Maha tersesat, Baboe (Ibu).”
“Aku masih ingat, Ura. Tak perlu repot.”
Ura seperti tak rela aku pergi sendiri. Aku tak sangka dia begitu mengkhawatirkan aku. Atau, justru khawatir aku akan menghampiri Lui.
Hari Ketiga. Pagi
Sejak semalam rintik hujan tak berhenti menetesi atap. Kelabu masih menguasai langit. Matahari malas berbagi kehangatan. Berada di desa ini, aku tak sempat menyentuh buku yang kubawa sebagai teman perjalanan. Mungkin karena aku menemukan teman baru dalam perjalanan ini. Latihan yoga yang tak pernah luput kulakukan pun tak sadar kulewatkan. Dingin yang menggigit kulit seakan membuat penghuni uma menunda waktu untuk menuruni tangga dan melakukan rutinitas. Mereka masih berkumpul di dalam uma untuk menyebar kehangatan. Ura membawakan secangkir kopi. Aku tak pernah meminum kopi di pagi hari. Tapi, aromanya tak mampu kutampik untuk segera menyeruputnya hingga tandas.
Air dari langit yang masih menetes tipis-tipis seakan mengundang anak-anak untuk berlarian di bawah guyuran hujan. Anak-anak yang seharusnya telah mengenakan seragam dan berangkat ke sekolah. Kumpulan bocah yang tertawa riang tanpa takut terserang demam itu mengingatkanku akan gadis kecil di Jakarta. Membuat rinduku makin dalam.
“Cuaca seperti ini membuat siapa pun malas melakukan apa pun. Termasuk anak-anak, memilih tidak ke sekolah,” tuturku yang terus mengikuti gerak mereka. Sekarang mereka sedang memberi pakan ternak di kandang yang berada di kolong uma.
“Tatoga sigosok (anak-anak kecil) itu memang tidak sekolah lagi. Sewaktu mereka masih sekolah, hujan bahkan badai sekalipun tak menyurutkan niat mereka untuk pergi ke sekolah.”
“Mengapa mereka tidak sekolah?”
“Sekolah dasar yang terdekat berada di muara yang membutuhkan waktu sekitar tiga jam dengan mengarungi sungai. Jika berjalan kaki memerlukan waktu lebih lama lagi,” ujar Ura.
Namun, jarak yang harus ditempuh sebenarnya tak meredam minat mereka untuk memakai seragam kumal tanpa alas kaki. Tak lupa menenteng selembar buku lusuh dan sebatang pensil tumpul dalam kantong kresek bekas yang diikat rapat agar tak basah bila terpaksa menerjang hujan yang deras.
Nasib anak perempuan lebih tidak beruntung. Mereka tidak diperkenankan oleh orang tuanya untuk sekolah dengan berbagai alasan. Tapi, alasan yang paling lantang dikatakan adalah tak ada gunanya perempuan sekolah. Sebaiknya mengasah keterampilan di dapur, sumur dan kasur, untuk bekal menikah nanti. Alasan klise yang sering kali terdengar dari pedalaman. Orang tua lebih suka darah daging mereka membalas jasa dengan membantu bekerja di ladang, memberi makan ternak, atau mencari ikan di sungai. Bocah-bocah bermata bening itu manut saja dengan perintah orang tuanya. Kalau menentang, mereka sadar harus siap diusir dari uma.
“Ura, mengapa kamu tidak mengajar mereka? Dari caramu mengajarkan aku membuat kalung kemarin, aku yakin kamu sangat berbakat menjadi guru.”
“Ya, aku sempat terpikir begitu. Apalagi membantu Ina Ama menangani persalinan tidak tiap hari. Tapi aku ragu, apakah orang tua mereka akan menyetujuinya.”
“Kegiatan belajar tak perlu lama. Cukup tiga jam sehari supaya mereka bisa membantu orang tua dulu. Aku yakin orang tua mereka tidak keberatan. Apalagi mereka tak perlu menempuh jarak yang jauh sehingga rentan capek dan sakit.”
Ura mengangguk setuju.
“Bukan hanya mengajar pelajaran, kamu bisa sekalian melatih keterampilan membuat manik.”
“Tapi, aku tidak yakin mereka tertarik membuat manik. Sejak lahir mereka tak dibiasakan mengenal manik.”
“Kalau mereka bisa menghasilkan uang dari barang yang mereka buat, pasti mereka tertarik. Buatan mereka bisa sekalian kamu jual di pasar.”
“Aku setuju. Mungkin inilah caranya memperkenalkan kembali tradisi yang seharusnya dijaga oleh generasi penerus. Kalau anak muda sulit diarahkan lagi, kita punya kesempatan untuk mengarahkan yang masih berusia dini. Lui pasti setuju dengan ide ini. Bukan hanya generasi laki-laki yang bisa dikembalikan ke tradisi, tapi juga kaum perempuan. Terima kasih, Maha.” Ura memelukku.
Pemenang III Sayembara Cerber Femina 2013