Meski 9 musim tanpa gelar, predikat pelatih terbaik dekade ini tak ragu diberikan The International Federation of Football History and Statstics (IFFHS) kepada pelatih 64 tahun ini. Meski ditinggal para pemain bintang, di tangan Arsene Wenger, Arsenal masih jadi tim yang disegani para lawan.
1. Insting yang Kuat
Pelatih asal Prancis ini dikenal sebagai pelatih yang hobi berbelanja pemain-pemain muda berbakat. Ia begitu jeli melihat performa pemain yang akan direkrut. Tak sembarang muda, Wenger memilih bocah-bocah dengan skill tinggi dan bertalenta: Cech Fabregas, Theo Walcott, hingga yang terbaru Calum Chambers.
Kata Psikolog: Insting tersebut muncul karena jam terbang dan pengalaman. Biasanya, mereka yang sudah senior yang bisa memiliki insting ini. Tak ada faktor lain yang bisa mengembangkan kemampuan ini, selain pengalaman. Untuk itu, pertajam insting agar proses menemukan potensi baru ini berjalan efektif dan tidak ngawur.
2. Beri Banyak Kesempatan
Yang membuat Wenger berbeda dari pelatih lain adalah kepercayaannya yang besar pada pemain nonbintang. Tanpa ragu Wenger memoles dan memberikan kesempatan kepada para pemain muda untuk menunjukkan kemampuannya. Tim seperti inilah yang ditawarkan Wenger bagi para calon bintang di Arsenal. “Seorang pemain bintang pada satu tahap adalah seorang yang tak dikenal dengan bakat yang cemerlang. Dan Arsenal menjadi klub yang memberikan kesempatan kepada mereka ini,” ungkapnya pada suatu wawancara.
Kata Psikolog: Pemimpin harus rajin melakukan evaluasi dan pengamatan. Karena, mau tidak mau, pemimpin harus bisa menyiapkan second layer. Anda sebaiknya jangan terus mengandalkan anak buah yang sudah jago. Anda tetap harus menyiapkan the second layers, agar bisa meneruskan tugas di masa mendatang. Saat membuat tim kerja, upayakan tim tersebut terdiri dari karyawan senior dan junior. Si senior akan belajar cara menyampaikan ilmu, dan si junior akan belajar mengaplikasikan teori yang selama ini mereka pahami.
3. Menginspirasi
Wenger merupakan sosok yang menginspirasi para pemainnya di lapangan. Saat Robin Van Persie didera cedera tak berkesudahan dan disebut ‘merepotkan’, Wenger selalu mendukung Persie hingga Persie berhasil meraih puncak performanya. Wenger pun membela serta menanggapi dengan santai saat Presiden Real Madrid, Florentino Perez, mengatakan Mesut Ozil tak disiplin dan tak profesional, saat Arsenal membeli Ozil dari Real Madrid beberapa waktu lalu.
Kata Psikolog: Dalam organisasi, mengayomi berarti bisa dipercaya dan punya integritas. Apa yang Anda sampaikan kepada bawahan, harus pula Anda praktikkan. Dengan begitu, anak buah merasa nyaman, karena Anda bisa dijadikan teladan dan role model. Jangan sampai bersikap sebaliknya, seperti menghilang saat pekerjaan sedang sulit, lalu mendadak muncul saat tugas kantor terbilang mudah. Sikap yang seperti itu membuat Anda kehilangan wibawa. Ketahuilah, kenyamanan dalam tim muncul karena faktor trustworthy.
4. Survive ketika Terpuruk
Kondisi keuangan Arsenal yang buruk memaksa Wenger tak bisa royal berbelanja pemain bintang dengan harga selangit layaknya Chelsea atau Real Madrid. Tapi, hal ini tak menjadi kendala berarti bagi ‘The Profesor’, julukannya. Bagi Wenger, Arsenal tak membutuhkan sederet pemain bintang untuk berjaya di lapangan hijau.
Kata Psikolog: Seorang pemimpin yang baik harus punya achievement drive, yakni kemampuan memotivasi diri untuk selalu berprestasi. Kemampuan ini terbilang penting agar tidak mudah terpuruk. Kalaupun situasi perusahaan sedang terpuruk, pemimpin harus mampu berpikir positif dan makin merangkul anak buah. Dalam situasi seperti ini, dibutuhkan kekompakan antara atasan dan bawahan untuk saling back up demi meminimalkan isu-isu negatif perusahaan yang berkembang di luar sana.(RIZKA AZIZAH, AYU WIDYA S.)