Iben menanggapi, kalaupun ada tugas membaca buku, setelah itu para siswa hanya ditugaskan membuat sinopsisnya saja. Pada akhirnya, mereka membuat sinopsis berdasarkan buku kumpulan sinopsis karya-karya sastra Indonesia. “Seharusnya, setelah itu dibuat diskusi mengenai buku yang dibaca. Sehingga, siswa pun dapat memetik pelajaran dari buku yang dibacanya,” komentar Okky.
Memang, Iben menegaskan, inti dari membaca bukanlah seberapa banyak yang sudah kita baca, tapi seberapa banyak yang bisa kita pelajari atau maknai dari hal yang kita baca. “Membaca sebaris copy writing iklan akan lebih berguna jika hal itu membuat benak kita berpikir dan memaknainya, dibandingkan membaca buku setebal beratus-ratus halaman tanpa berhasil memetik hikmah atau menambah wawasan,” ujar Iben.
Tantangan untuk membudayakan membaca menjadi lebih besar lagi di era ini karena kita berkompetisi dengan perkembangan teknologi komunikasi dan internet. “Jadi, masyarakat yang sudah susah cari buku, sekarang dihadapkan dengan kemudahan mengakses internet dan membeli ponsel,” papar Okky.
Kehadiran e-book yang seharusnya bisa sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi rupanya tidak dapat banyak mendorong meningkatkan minat baca seseorang. Padahal, e-book dapat membantu kita memperoleh bacaan dengan mudah dan murah.
Apalagi, sebagian besar anak-anak usia sekolah dasar di kota besar kini telah menggunakan tablet. Namun, mereka lebih tertarik menggunakan tablet-nya untuk main game atau mengakses internet. “Jadi, yang perlu dibenahi terlebih dahulu memang minat dan ketertarikan untuk membaca. Karena, ketersediaan akses pun bisa sia-sia jika tidak ada rangsangan maupun dorongan,” ujar Iben. (f)