Celebrity
Impian Tertunda Aisya Adiputri

12 Mar 2013

Aisya Adiputri (24) tertegun. Untuk beberapa detik ia hanya bisa mematung, mencoba mencerna bahwa benar namanyalah yang dipanggil sebagai Pemenang III Wajah Femina 2012. “Jujur, di malam penobatan itu, sebenarnya saya sedang menahan sakit kepala dan mau pingsan. Namun, kemenangan  ini membuat badan saya seketika segar kembali,” ungkap wanita kelahiran Jakarta, 12 Mei 1988, ini. “Ternyata, obat pusing saya: memegang piala!” lanjutnya, tertawa. 

Aisya Adiputri menapaki dunia modeling sejak usia 14 tahun, saat ia terpilih sebagai finalis pemilihan model sebuah majalah remaja. Namanya pun makin menanjak seiring dengan makin banyaknya gelar finalis yang diperolehnya dari berbagai ajang pemilihan. Salah satunya, terpilih sebagai finalis untuk mewakili DKI Jakarta dalam Pemilihan Puteri Indonesia 2010. 

“Meski hanya finalis, saya bangga bisa lolos ke tahap itu, karena menyisihkan ratusan peserta lainnya,” ujar lulusan Public Relations Universitas Pelita Harapan ini, bangga.  

Namun, ketika model muda kebanyakan fokus menambah portofolio, Aisya yang kala itu masih berusia 22 tahun dan sedang berada di puncak popularitas, justru memutuskan untuk menikah. Ia mengatakan, menikah di usia relatif muda merupakan keputusan yang telah ia pikirkan secara serius. “Bagi saya, menikah bukan masalah usia. Waktu itu saya dan pasangan punya modal utama, yaitu siap berkomitmen dan menerima tanggung jawab,” ungkap istri dari Adra Janitra (28) ini.  

Setelah menikah, kegiatan Aisya di dunia modeling masih tetap berjalan seperti biasa. Suaminya pun mendukung penuh. “Bahkan, sampai usia kehamilan saya 4 bulan, saya sesekali masih menerima tawaran pemotretan untuk iklan dan majalah,” ujarnya, bangga. Namun, setelah memasuki kehamilan 6 bulan hingga ia melahirkan, kegiatan modelingnya berhenti total. 

Selama masa kehamilan, berat badannya melonjak, dari 45 kg menjadi 60 kg. Kondisi yang jelas menjadi tantangan berat seorang model. Tetapi, mengurus sendiri bayinya, ternyata menjadi cara paling efektif mengembalikan tubuhnya ke bobot normal. Tiga bulan setelah melahirkan, berat badan Aisya turun hingga menjadi 54 kg! “Itu karena saya sering begadang mengurusi anak,” katanya, terbahak. Selain itu, ia juga selalu mengonsumsi makanan berserat tinggi, seperti sayur bayam dan pisang. 

Bobot yang kembali normal ini membuatnya  makin percaya diri untuk mengejar impian lamanya, yaitu berhasil menembus kompetisi Wajah Femina. Meski banyak rekannya  sesama model yang curhat tentang ketatnya penyaringan masuk di Wajah Femina, Aisya bertekad tidak terpengaruh opini teman-teman. “Prinsipnya, saya coba dulu.  Menang kalah itu urusan nanti,” ungkap ibu dari Aleshandrea Callysta (10 bulan) ini. 

Advertisement
Impiannya tercapai. Namanya berada dalam daftar 20 finalis Wajah Femina. Meski menjadi satu-satunya peserta yang telah berstatus sebagai ibu satu anak,  Aisya tidak minder. Ia mengandalkan bekal kepercayaan diri dan pengalamannya 10 tahun di dunia modeling. Aisya yakin Wajah Femina merupakan kesempatan terakhirnya untuk mengejar impian yang tertunda. “Jujur, menikah dan memiliki anak membuat saya harus menunda banyak hal yang ingin saya capai di dunia modeling. Jadi, kalau saya tidak mengejar sekarang, kapan lagi?” ungkap wanita yang mendaftar Wajah Femina secara online ini. 

Nyatanya, ambisi dan tekad kuatnya mengikuti kompetisi ini berbuah manis. Sikap anggunnya menyita perhatian para juri. Tak hanya itu, ia terlihat fokus menjawab semua pertanyaan yang dilemparkan para juri. “Saya bersyukur bisa lolos sebagai finalis. Apalagi, berhasil meraih Pemenang III. Ini seperti impian yang jadi kenyataan,” ujarnya. Kemenangan ini membuktikan kepada semua orang, sebagai ibu, tak menghalangi kariernya sebagai model. 

Menurut Aisya, karantina Wajah Femina memberinya banyak manfaat dan ilmu berharga. Kepercayaan diri dan mentalnya ditempa selama satu minggu penuh. “Kelas grooming bersama Ira Duaty, sesi yang paling menarik. Saya belajar bahwa menjadi model tak bisa mengandalkan wajah cantik atau badan proporsional. Kemampuan menggerakkan badan dan luwes dalam membawa diri, itu ilmu yang harus dipelajari,” ungkapnya. 

Lebih dari itu, ia merasa menemukan kembali dunianya yang hilang. “Bertemu dengan teman baru, menjalani photo shoot, memakai high heels. Hal seperti inilah yang benar-benar saya rindukan,” ungkapnya, terharu. 

Daria Rani Gumulya
Foto: Dok. Femina Group





 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?