Salah seorang murid memosisikan diri di balik meja. Sikap dan penampilannya mirip gaya seorang news anchor. Di belakangnya, terlihat layar yang menampilkan peristiwa hujan asam yang materinya mereka ambil dari internet dan edit menjadi satu video. Tetapi, audiensinya kali ini bukanlah para penonton TV, melainkan guru dan teman-teman sekelasnya.
Demikianlah gambaran salah satu proses belajar di kelas bahasa Indonesia SD Mentari, Jakarta. Di era digital seperti sekarang guru harus memiliki sejuta ide kreatif dan tak boleh kalah canggih dari murid-muridnya yang adalah generasi digital native. Berikut ini cara mereka untuk berkejaran dengan cepatnya laju teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
“Anak-anak sendiri yang mencari narasumber, gambar, atau video yang mendukung berita mereka,” jelas M. B. Sri Tjipta Rieni, guru di SD Mentari, tentang kreativitas murid-muridnya saat mempresentasikan materi ala presenter TV berita ini. Beberapa sumber tersebut tentu ditemukan mereka melalui pencarian di internet.
Skype juga menjadi fitur yang cukup membantu Rieni dalam proses mengajar. Seperti ketika salah satu muridnya mengikuti sebuah kompetisi di Belgia. “Sewaktu itu di kelasnya juga ada tes. Jadi, saya bacakan soal tesnya lewat Skype, yang kemudian akan langsung dia jawab. Dengan begitu, dia tidak perlu melakukan tes susulan,” cerita Reini. Meski untuk yang satu ini ia harus rela online pada malam hari untuk menyesuaikan dengan aktivitas muridnya di Belgia.
Ia juga menggunakan fasilitas blog, seperti Edmodo.com untuk membagikan atau mengumpulkan PR secara online untuk murid. Fasilitas blog ini hanya bisa diakses oleh pihak sekolah dan para murid. “Tidak hanya itu. Blog ini juga berisi proyek dan materi pelajaran yang belum dibahas di kelas.” (f)