Trending Topic
Gerakan Independen untuk Meningkatkan Minat Baca

1 Oct 2015

Sastra mendapat cap elite dan sukar dipahami karena memang masyarakat kita tidak dibiasakan membaca karya-karya sastra sejak dini. Lagi-lagi, akses terhadap buku dan kurikulum pendidikanlah akar masalahnya.

Hal serupa juga terjadi pada musik jazz belasan tahun lalu. Namun, kehadiran festival-festival jazz yang berusaha membumikan musik jazz dengan juga menampilkan penyanyi, musikus, maupun band pop atau rock di festival, mengubah itu semua. Kini, festival jazz makin banyak diselenggarakan dan selalu ramai pengunjung.

“Kita dapat belajar dari festival-festival jazz itu. Walaupun yang datang mungkin masih sekadar ikut-ikutan, tidak masalah. Makin sering bersentuhan, orang akan  makin akrab dan dapat belajar untuk benar-benar menyukai. Demikian juga dengan sastra dan buku,” ujar Ibnu Wahyudi, pengamat sastra dan pengajar penulisan kreatif FIB UI.

Karena itu, Iben menilai, kita memang membutuhkan gerakan-gerakan independen dan swadaya dalam menumbuhkan minat baca di masyarakat yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. “Pada tahun ini, pemerintah sendiri lewat Badan Bahasa membuat Gerakan Indonesia Membaca-Menulis (GIMM) yang melibatkan siswa, mahasiswa, dan guru. Tujuannya adalah mewujudkan generasi yang suka membaca dan pandai menulis,” tutur Iben.
Advertisement
   
Namun, program tersebut belum dapat menyerap banyak orang. Sehingga, partisipasi aktif masyarakat untuk terus menggiatkan program-program sastra maupun meningkatkan minat baca terus diharapkan. “Sebaiknya, festival diperlakukan sebagai program puncak saja. Tapi, harus ada program-program lain yang berkelanjutan dan menyentuh masyarakat langsung, terutama anak-anak, remaja, dan anak muda,” ujar Okky Madasari, penulis dan penggagas ASEAN Literary Festival. Sehingga, berbagai diskusi dan sesi yang terjadi di festival tidak berhenti di situ saja, tapi ada kelanjutannya.
        
Sebagai rangkaian ASEAN Literary Festival, Okky juga melakukan ASEAN Literary Festival Goes to Campus dan Goes to School untuk memperkenalkan sastra kepada siswa SMP, SMA, dan mahasiswa. Selain itu, sejak tahun 2010, ia mendirikan Yayasan Muara yang mengelola taman kanak-kanak dan perpustakaan untuk warga di sekitar tempat tinggalnya, di daerah Jakarta Selatan.

Program-program inilah yang perlu kita perbanyak. Semangat orang-orang seperti Mita dan Ridwanlah yang perlu kita teladani. “Kita punya tanggung jawab untuk mengenalkan sastra dan menumbuhkan minat baca kepada masyarakat maupun lingkungan di sekitar kita. Kita semua dapat menjadi agen perubahan dengan mengajak orang-orang di sekitar kita untuk cinta membaca,” ajak Okky. (f)




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?