Meningkatnya kelas menengah Indonesia diikuti dengan kemampuan konsumsi yang juga meningkat, tak mengherankan bila masyarakat kini mulai mencari hiburan alternatif dan rela membayar cukup mahal. Nonton film bioskop atau konser musik? Itu, sih, biasa.
Menurut Bre Redana, wartawan dan editor seni senior, meningkatnya minat masyarakat terhadap pertunjukan seni kontemporer ini adalah sebuah gejala urban. “Ini sebuah tanda bahwa Jakarta sedang mengalami perubahan menuju kota metropolitan yang lebih berbudaya,” katanya. Bagi Bre, seni dan budaya adalah indikasi peradaban sebuah kota. Sebagai gejala urban, di mana seni makin dinikmati oleh kalangan luas, kondisi ini tidak khas Indonesia. Fenomena ini juga terjadi di kota-kota maju dan berkembang di seluruh dunia.
Sebetulnya, peningkatan minat bukan hanya terjadi pada pertunjukan, tapi juga pada dunia seni secara lebih luas, terutama di kalangan kelas menengah ke atas yang mengejar eksklusivitas. Bre tak memungkiri bahwa konsumsi karya seni memang erat kaitannya dengan gengsi. “Dulu, orang kaya menunjukkan statusnya dengan membeli barang bermerek, misal tas. Kini, karena semua orang kaya pasti mengincar tas bermerek, beberapa ada yang beralih ke ranah seni rupa, misalnya dengan membeli lukisan-lukisan mahal, supaya lebih ‘canggih’,” ungkap Bre.
Meskipun kesannya pertunjukan seni sedang booming di sini, dalam konteks urbanisasi dan hubungannya dengan perkembangan seni pertunjukan, Bre menilai Jakarta sebetulnya sangat terlambat. Janganlah dibandingkan dengan New York dengan Broadway-nya atau London dengan West End-nya yang sudah eksis puluhan tahun. Dibanding Bangkok atau Beijing saja, kita masih kalah.
Di kota-kota ini, seni pertunjukan sudah ditunjang oleh infrastruktur yang memadai selama bertahun-tahun. Pertunjukan berlangsung tiap malam, pemainnya profesional, panggung dan gedungnya memadai, penontonnya pun selalu membanjir. “Nah, saat ada tamu asing yang datang ke Jakarta dan ingin menonton pertunjukan seni lokal, kita mau bawa ke mana?” tanya Bre, menyayangkan.(f)