Fiction
Emprit Ganthil [3]

25 Dec 2015


Cerita sebelumnya <<<<



Suatu malam ketika Luhtitisari sedang menunggu ibunya bersama dengan Angger ia mendengar lagi cuitan burung malam yang mengerikan itu, “cuittt-cuittt-cuittt.”
“Suara apa itu, Bu Angger?” tanyanya pada perempuan gempal berkulit hitam yang sering mencela jika diberi makanan. Seolah lebih berharap diberi persenan uang. Benar-benar bukan jenis orang yang pantas menemani orang sakit serta keluarganya. Tetapi untuk saat ini tidak ada pilihan lain.

Mulutnya terus asyik mengunyah dan menonton acara televisi yang menjadi kesukaannya. Baginya menunggui orang sakit hanyalah sambilan. Tugas utamanya menonton aneka sinetron yang disajikan pesawat televisi sambil bersantai. Si sakit hanyalah tugas sampingan yang dapat dilakukannya sambil memejam mata.
“Ohh,... itu suara burung emprit ganthil. Suara burung kematian. Katanya sih demikian. Aku tidak terlalu percaya. Di rumah sakit ini banyak pepohonan otomatis tentu saja banyak burung-burung yang berkeliaran.”

Telinga Luhtitisari seolah berdiri mendengar kata itu. Burung kematian.
Selama ini ia hanya menduga-duga tentang kematian. Ia tak sanggup membayangkan kematian ibunya sungguh telah membayangi. Ibu yang melahirkan dan membesarkannya dengan susah payah. Ibu yang memberinya napas, air, dan kehidupan layak sekalipun ia bergulat dengan kepahitan dan rasa kecewanya sendiri.

 “Emprit ganthil? Burung apa itu Bu? Mengapa disebut burung kematian?” tanya Luhtitisari antara penasaran dan sedikit takut.

“Ini hanya hikayat saja Mbak Luhtitisari, bahwa barang siapa mendengar suara burung itu mencuit-cuit pertanda bahwa ada orang terdekatnya yang akan dijemput kematian.”
“Burung itu sendiri sesungguhnya adalah sejenis burung kedasih. Dan disebut burung jahat karena ia menitipkan anaknya pada burung lain. Ia meletakkan telurnya pada sarang burung lain dan membiarkan anaknya dibesarkan serta diasuh oleh burung lainnya. Suaranya sendiri memang lebih sering terdengar di waktu malam, mencuit-cuit seolah meniupkan siulan panggilan dari pintu neraka.”

Luhtitisari memandang Angger dengan pandangan terluka. Bulu kuduknya merinding dan rasa tak sukanya pada perawat berkulit gelap itu kian membesar. Tapi ia menahan diri. Ia masih butuh jasa Angger untuk terus merawat ibunya.

Dokter dan para perawat senior rumah sakit menekankan betapa perlunya mereka dengan jasa perawat yang diperbantukan karena keterbatasan jumlah perawat yang ada di rumah sakit itu.

“Hmm... sejarah cerita yang menarik Bu Angger,” ucapnya datar. Tak mau menanggapi lagi ocehan perempuan yang matanya masih tak lepas dari pesawat televisi itu.
Ingatan Luhtitisari melayang pada Anggabaya. Apakah adiknya itu adalah anak titipan emprit ganthil entah dari mana, yang dikandung oleh rahim ibunya dan dibesarkan dengan cara yang benar, namun hasilnya tetap saja menyalahi kodrat. Sama seperti anak kedasih yang dititipkan secara sembarangan pada burung lainnya.

Tanpa rasa sungkan Anggabaya menempatkan dirinya sebagai penguasa harta ibu mereka dan mengirim uang secara berkala pada kakaknya. Lalu dalam sehari atau dua hari ia akan menelepon selama lima menit untuk menanyakan keadaan ibu mereka. Bagi Anggabaya, kakaknya adalah salah satu pegawai yang ditempatkan dan digajinya pula untuk merawat ibu mereka.

Rasa kurang ajarnya makin bertambah dengan memerintah kakaknya untuk melakukan hal ini dan itu, seolah kakaknya adalah pembantu yang belum terlatih untuk menjaga Atmaranti.

“Jangan lupa kau oleskan madu mahal ini pada bibir Ibu. Lalu jika sempat, jangan lupa pula kau pijit-pijit tangan dan kaki Ibu.”

Kebaikan seolah beradu dengan azab sengsara. Jika ia menerima segala perintah adiknya, ia merasa jadi budak adiknya dan bukanlah anak ibunya. Namun, jika ia melawan adiknya, lelaki itu akan menghentikan segala biaya perawatan yang berasal dari uang milik ibunya. Sementara kemampuan finansial Luhtitisari masih terbatas. Ada biaya cicilan rumah dan angsuran pendidikan yang masih harus ditanggungnya.

Bukan beban oleh karena dekatnya kematian yang menghampiri, yang menjadikan hidup manusia diliputi kesedihan. Tetapi, siksaan oleh orang-orang yang masih hidup dan memojokkan pada sudut kematianlah yang menjadikan derita sesungguhnya.
Bagi Luhtitisari, api kekerabatan itu makin suram, hanya serupa bara kecil yang siap mati. Ditahannya segala apa, semua demi Atmaranti. Ia masih berharap ada mukjizat dan ibunya adalah salah satu yang sempat menerimanya.

Piala kehidupan adalah harapan yang tak kunjung putus. Itulah piala yang harus diraih oleh segenap insan. Sebab, apa artinya hidup jika hanya diisi oleh pesimisme dan ketidakyakinan bahwa ia akan mampu memenangkan piala tersebut? Kata-kata akan menjadi sabda yang hidup. Itu dipercaya oleh Luhtitisari.

Luhtitisari mencintai ibunya, bukan karena ibunya berbangga pada dirinya. Tetapi karena ia kagum pada kecintaan tanpa pamrih Atmaranti pada Anggabaya. Seluruh siklus kehidupan bersama Atmaranti dan Anggabaya di masa kecilnya membuat Luhtitisari tak mau menoleh ke belakang, sepi. Masa-masa sepi yang sesungguhnya membuat ia tetap bertahan di taman Tuhan.

Hidup ini adalah lelakon tersendiri bagi tiap anak manusia. Tanpa terasa Luhtitisari menjadi dekat dengan Halayuda. Ada kalanya ia menemani dokter muda berkumis tipis itu minum kopi di kantin rumah sakit. Sekalipun mereka menjadi tumpuan pandangan cemburu perawat-perawat muda dan dokter-dokter wanita yang cantik, Luhtitisari sama sekali tak merasakan itu. Isi otaknya terbendung oleh rasa khawatir.

Ia ingin tahu langkah-langkah apa lagi yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan Atmaranti secepatnya dan dia butuh seseorang untuk bicara. Halayuda adalah satu-satunya kesempatan yang ada baginya dikota asing itu.

“Tidak ada lagi yang dapat dilakukan,” kata Halayuda, seolah hal itu fakta yang tak terbantahkan. “Yang kita butuhkan hanyalah upaya agar sistem dalam tubuhnya meregenerasi dan memperbaiki diri. Terutama antibodinya. Segala injeksi obat dan pencegahan sudah kami lakukan secara maksimal.”

Luhtitisari tak mengerti ketika dokter mengatakan tidak ada lagi yang dapat dilakukan. Lalu apa gunanya mereka menjadi dokter? Hanya berjalan tiga langkah lalu jatuh duduk terengah?

Ini bicara soal kematian yang sudah kian dekat. Pada seorang perempuan tua yang seumur hidupnya hanya merasa nestapa dan mengeluh saja adanya. Sebagai anak, Luhtitisari merasa belum sanggup membahagiakan ibunya. Belum mencapai puncaknya. Lalu apa yang harus dilakukannya lagi?

“Mengapa dokter dengan mudah berkata demikian? Bukankah seharusnya ada langkah-langkah yang mampu kita amati untuk melihat perbaikan dan kemajuan perawatan ibu?” tanya Luhtitisari kebingungan.

Ia tak mengerti bahwa tak ada seorang dokter pun yang akan  tega untuk mengatakan, tinggal menunggu saatnya. Mungkin   jika orang itu masih muda dan terkena penyakit yang sudah jelas tingkat keganasannya.

Bagi orang-orang tua segala sesuatunya bisa terjadi kapan saja. Hanya beban pikiran yang menggantung sekian lama di kehidupan akhirnya menjadi bendungan pecah yang menyebabkan timbulnya berbagai penyakit. Rasa optimisme akan mampu melawan penyakit namun rasa pesimisme melarutkannya makin dalam. Semua berpulang pada kemampuan masing-masing individu.

“Nona Titi,... Ibu Anda bukan sakit patah tulang yang kemudian dibalut dan diobati, lalu  tiap satu bulan dirontgen dan dilihat perkembangannya. Ibu Anda menderita beberapa penyakit sekaligus. Yang utama sekali pertahanan tubuhnya menurun dan melemah dengan tajam. Salah satu virus yang ada menyerang kekebalan tubuhnya. Itu menyebabkan kondisinya sangat labil dan beberapa penyakit langsung bersarang di tubuhnya. Secara bersama-sama menyerang dirinya. Apalagi usianya sudah terbilang senja, hal itu menjadi sangat berat.”

Halayuda menyeruput kopinya dengan perlahan. Sudah beratus kali ia bertemu dengan banyak keluarga pasien yang bersikeras agar ia melakukan mukjizat dan menyembuhkan anggota keluarga mereka.

Biasanya ia akan lebih tenang menghadapi mereka dan memberikan penjelasan. Namun, terhadap Luhtitisari ia tak dapat melakukan hal itu, sama dengan prosedur yang biasa dilakukannya terhadap anggota keluarga pasien yang lain. Pasalnya, ia memiliki suatu rasa terhadap gadis itu. Rasa yang ia sendiri sulit menjelaskannya.

Sudah banyak kali Halayuda melihat lelaki dan perempuan menangis. Menangisi anggota keluarga mereka yang sakit keras dan bersiap dijemput oleh malaikat maut. Ada yang terisak, ada yang meraung, ada yang tergagap-gagap, pada intinya tak seorang pun siap akan sebuah perpisahan panjang. Yang padanya takkan pernah ada lagi perjumpaan.
Luhtitisari berbeda.

Air matanya kerap menggenang di sudut mata. Tetapi ia selalu mampu mengucap argumen-argumennya dengan tepat. Seolah air mata hanyalah   sekadar pemanis wajah yang sama sekali tak masuk hitungan. Bagi Luhtitisari kesedihan tak harus menjadikan manusia hilang akal. Jiwa yang kosong akan mudah terisi oleh hal-hal lain, yang menjauhkan tubuh dari kehidupan.

Hal itulah yang pertama kali menarik perhatian Halayuda.
Perempuan itu bercakap dengannya manakala deraian air mata mengalir deras, namun sama sekali tak ada isak atau sumpah-serapah. Yang ada hanyalah kata-kata yang tersusun rapi dan bibir yang sedapat mungkin menyunggingkan senyuman.

Bagi Halayuda, Luhtitisari terlihat bak dewi yang mengingkari takdirnya untuk berduka. Ia bukan mengingkari kesedihan, tetapi ia menerima kesedihan itu sebagai bagian dari kehidupan. Dan dengan sebaik mungkin mengelolanya sebagai kekuatan untuk lebih tegar lagi pada cobaan selanjutnya.
Advertisement

Halayuda tahu, itulah kelebihan Luhtitisari dibanding orang-orang lain yang dikenalnya.
Kehidupan dan deraan nestapa tidak akan pernah berhenti selama napas masih berembus. Tiap hari,  tiap saat di bidang pekerjaannya ia melihat aneka perlintasan kehidupan.

Istri yang meraung keras. Orang tua yang menjual tanah demi kesembuhan anaknya. Suami yang tak menerima sakit istrinya. Anak-anak yang menangis keras karena sakit ibunya. Dan materi? Sama sekali tak berarti di hadapan Tuhan. Ada dan ketiadaan materi tidak turut campur tangan atas hidup-matinya seseorang.

Sebanyak apa pun harta yang dikeluarkan, jika waktunya sudah tiba maka maut akan menjemput. Seminim apa pun perawatan yang dilakukan, jika Tuhan belum berkehendak maka napas masih akan terus diperpanjang.

Bahkan Halayuda pernah merawat seorang pilot yang jatuh dari pesawat latih terbang dan hanya tergores di keningnya. Itu dulu ketika ia masih menjadi mahasiswa. Baginya perkara hidup dan mati jadi vonis yang takkan pernah muncul dari bibirnya.
Dari dirinya yang akan ada hanyalah upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa. Namun, ketika hitungan kembali pada masalah untung dan rugi, sikap manusia pasti berbeda-beda.

Luhtitisari tetap bersikeras, “Maafkan saya dokter. Saya hanya tidak mengerti mengapa seolah tidak ada kemajuan terukur mengenai kesembuhan ibu saya?”
“Nona, kesembuhan ibu Anda berpusat pada otak yang ada di kepalanya dan semangat dirinya sendiri untuk bangkit lagi.” Dalam hati Halayuda ingin pula menambahkan kata mukjizat, namun ia tak tega.

Luhtitisari diam.
Jawaban yang sungguh benar namun ia ingin berkomentar bahwa itu pun sungguh basi. Benarkah tidak ada lagi yang dapat dilakukannya di sini?
Apakah ia harus menyewa helikopter untuk membawa ibunya pindah berobat ke ibu kota? Apakah ia harus menyewa jet pribadi untuk ibunya berobat ke luar negeri? Tindakan apa tepatnya yang harus dilakukan oleh Luhtitisari?

Seandainya Tuhan menulis pada birunya langit tentang jawaban dari segala perkara yang membuat galau hidup manusia, maka tidak akan ada lagi cerita kehidupan yang penuh misteri. Semua akan menemukan solusinya dengan mudah.
“Ya dokter, sekali lagi maafkan saya. Tidak mudah untuk berada dalam posisi saya, sebagai anak perempuan satu-satunya. Saya sangat mencintai ibu. Tetapi pada satu titik saya juga pernah merasakan, Ibu adalah perempuan yang paling getir yang pernah saya kenal.

 Ketika Ibu sakit seperti ini, ingin rasanya mengulang semua episode kehidupan bersama Ibu. Menghapus dan menuliskan ulang pada lembar baru yang masih kosong. Saya akan belajar mengalah pada Ibu yang begitu banyak jasanya kepada anak-anaknya. Saya akan menyumpal telinga saya rapat-rapat dan menutup kenyataan bahwa kata-katanya sering menyakitkan hati saya.”

Halayuda tak yakin harus menanggapi bagaimana, karena ia memiliki banyak kakak perempuan. Dan beberapa dari mereka sangat dekat pada ibunya.
“Saya mengerti Nona Titi. Banyak keluarga pasien yang datang dan pergi dalam kehidupan saya. Dan saya juga sudah melihat semua drama kehidupan yang perlu saya lihat di antara para anggota keluarga.  Ada yang berteriak saling menyalahkan, ada yang cakar-cakaran. Bahkan pernah ada yang membawa kalkulator dan buku tabungan masing-masing serta saling menghitung kemampuan.  Itu semua adalah drama kehidupan. Masing-masing orang takdirnya berbeda. Saya hanya minta agar Anda tabah menjalaninya.”

“Terima kasih, Dokter.” Luhtitisari menyempatkan diri meneguk kopinya, sekalipun sesungguhnya ia tak begitu berselera. Bagaimanapun juga, dalam  tiap kegetiran tidak melulu sikap mencabik diri menjadi pertanda dialah sang manusia terbaik.
Setidaknya Luhtitisari tak ingin berlaku semunafik itu.

Kadangkala ia tersenyum untuk melipur lara. Dan seperti saat ini, kala ia merindukan seseorang untuk bicara, memiliki Halayuda yang menemaninya meneguk secangkir kopi adalah bagian dari sejumput rasa syukur yang harus terus dibubungkannya ke langit. Terima kasih, Tuhan!

“Bagaimana dengan pekerjaan Anda, Nona Titi?”  tiba-tiba saja Halayuda bertanya di luar masalah sakit ibunya.

    “Pekerjaan saya?” tanya Luhtitisari kebingungan.
Untuk sejenak ia berusaha keras mengingat siapa dirinya dan apa sesungguhnya pekerjaannya. Begitu larutnya Luhtitisari dalam emosi kekhawatiran tentang Atmaranti, ia justru melupakan kehidupan pribadinya. Kehidupan yang dengan susah payah dibangunnya.

“Oh, saya membuka kantor arsitek. Berpartner dengan teman saya di ibu kota. Sekarang semua urusan di-handle oleh partner saya. Jujur, saya benar-benar melupakan pekerjaan saya, Dokter. Saya bahkan sudah berminggu-minggu membolos kuliah tanpa terasa. Hingga Dokter menanyakan tentang diri saya barusan.”

Halayuda tertawa kecil, baginya cukup lucu bahwa ada seseorang yang demikian serius mengurus ibunya hingga lupa siapa dirinya, di mana rumahnya dan apa pula pekerjaannya.

Tapi dalam kesedihan memang apa saja dapat terjadi. Seolah lampu kilat yang menyambar telah membutakan mata, sehingga manusia tak mampu memandang apa pun juga yang ada di sekitar.

Luhtitisari turut tersenyum tipis menanggapi tawa kecil Halayuda.
Dokter muda itu memang tampan dan menarik, tetapi untuk saat ini pikirannya sama sekali tak berminat dengan apa pun juga yang ditawarkan oleh kesempatan untuk menyukai seseorang. Ada sesuatu yang masih sangat mengganjal di hatinya. Nasib Atmaranti, ibunya!

“Baiklah, Nona Titi. Mohon maaf saya tak dapat berlama-lama menemani Anda. Masih ada tugas yang menanti. Mungkin beberapa hari lagi kita dapat minum kopi bersama seperti ini, untuk membahas perkembangan ibu Anda?”

Luhtitisari sesungguhnya merasa heran karena Halayuda yang mengajaknya untuk minum kopi bersama. Seharusnya ia yang mengajak sang dokter karena ada kepentingan dalam dirinya untuk mendekati dokter dan memperoleh perhatiannya demi Atmaranti. Tapi ia tidak sempat berpikir apa pun, pikirannya terlalu kosong dengan realitas remeh-temeh.
“Tentu saja, Dokter. Saya sangat membutuhkan petunjuk Dokter untuk perawatan Ibu selanjutnya. Untuk kunjungan harian, apakah Dokter tetap datang reguler pada pukul sembilan pagi?”

Halayuda mengangguk cepat, “Tentu saja. Itu sudah kewajiban saya. Tiap pagi pukul sembilan saya akan muncul di ruang perawatan ibu Anda, Nona Titi. Untuk memastikan segalanya berjalan baik.”

Halayuda kemudian berdiri dari tempat duduknya, menjabat tangan Luhtitisari dan meninggalkan gadis itu, yang masih duduk sendiri dan menikmati kopi tersisa.
Matahari senja sore itu terlihat sangat indah dari kaca-kaca mozaik jendela kantin. Warna keemasan yang tenggelam di balik gedung bertingkat yang merupakan sayap barat membuat gedung itu seolah berbingkai emas. Di situlah ibunya dirawat.

Sore ini ia ditunggui oleh Tuwuh, perawat kesayangan Luhtitisari. Sehingga ia merasa lega dan lebih bebas meninggalkan ibunya untuk sejenak menikmati kopi bersama Halayuda.
Entah mengapa, jika ia meninggalkan Atmaranti bersama Angger, Luhtitisari merasa ketakutan. Ia merasa perawat itu akan memperlakukan ibunya dengan kasar. Layaknya boneka yang boleh dibanting–banting seenaknya. Sulit  untuk menakar dengan tepat niat seseorang ketika antipati telah muncul dalam hati.

Luhtitisari kemudian bangkit pula dari tempat duduknya, kembali menuju ke ruang perawatan ibunya.

Atmaranti masih tergolek pasrah di kasur. Menyambutnya dengan pandangan gembira dan mengangguk-angguk, menatap penuh harap. Matanya lembut, sangat berbeda dengan keseharian Atmaranti dulu. Mata yang kerap memancarkan rasa curiga dan menilai orang lain.

Kini mata itu meredup. Seolah mengerti bahwa inti kehidupan cepat atau lambat akan dihadapinya. Inti dari kehidupan adalah kematian. Segala waktu, cara dan penderitaannya berbeda-beda dalam takaran dan buku catatan Tuhan.

Seandainya memungkinkan Luhtitisari ingin tahu siapa pencatat dan penakar azab maut yang ada di surga. Jika boleh ia akan memohonkan yang termudah dan terindah untuk ibunya. Jika memungkinkan ia ingin menyogok si pencatat entah dengan nyawanya sendiri atau pengorbanan apa. Terpenting ibunya jangan terlalu disiksa oleh penyakitnya.
Melihat Atmaranti baik-baik saja dan Tuwuh duduk menemani di sisinya sambil membaca, Luhtitisari merasa lega. Ia berpamitan pada Tuwuh untuk pulang ke pondokannya yang terletak di belakang rumah sakit.

Lorong panjang yang harus dilaluinya  tiap pagi dan petang kadang terasakan bak jalan penghubung dua alam, kehidupan dan kematian. Tiap hari kala bangun tidur,  ia harus berjalan untuk mengecek apakah kehidupan masih ada untuk Atmaranti. Harapan masih dapat disemaikan pagi itu. Lalu   tiap malam ketika balik, selalu tanya yang sama, apakah malam ini semua akan baik-baik saja bagi Atmaranti, apakah maut mulai mendekat? Cerita selanjutnya>>>>>>>

                                                                                                     




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?