<<<< Cerita Sebelumnya
Dokter yang ditemui Baskoro segera memeriksa Tiwi. Tensinya rendah. Tapi, dia belum bisa menjelaskan diagnosis penyakit Tiwi. Karena itu, Tiwi disarankan menginap di rumah sakit karena malam itu akan dilakukan berbagai pemeriksaan. Hasilnya baru diketahui keesokan paginya.
Baskoro memegangi lengan Tiwi. “Kamu opname saja, ya.”
Tiwi mengangguk pelan.
Setelah mengurus administrasi, Baskoro menawari untuk menungguinya, tapi Tiwi menolak dengan halus. Takut merepotkan, begitu kata Tiwi. Tapi, Baskoro merasa bahwa Tiwi menjaga jarak. Ia sendiri sebenarnya senang bila Tiwi sering meminta bantuannya karena itu akan lebih mendekatkan mereka.
“Kamu ingin dibawakan apa? Besok pagi aku akan ke sini lagi,” kata Baskoro, setelah Tiwi betul-betul tidak mau ditemani.
Tiwi menggeleng.
“Ya, sudah. Aku sudah memberi tahu Mbok Jum. Dia bilang ada tamu dari Jakarta yang mencarimu. Namanya Pak Oce. Katanya, besok akan kembali lagi,” kata Baskoro lagi.
Tiwi cuma mengangguk. Ketika Baskoro menutup pintu, Tiwi memejamkan matanya. Matanya berat. Dia ingin segera melepaskan seluruh kelelahan yang menyusupi setiap sel-sel tubuhnya. Tidak perlu waktu lama bagi Tiwi untuk langsung tertidur pulas.
Laki-laki berusia awal 50-an itu tidak perlu berdesak-desakan dengan penumpang lainnya ketika menunggu bagasi karena tak membawa banyak barang. Dia melenggang ke gerai pemesanan taksi. Ia menyebutkan tempat tujuannya. Si petugas segera melihat daftar, lalu menuliskan angka rupiah pada semacam kuitansi.
Dia mencari taksi yang disebutkan si petugas, lalu membuka pintu belakang. Sekali lagi ia menyebutkan tempat tujuannya. Sopir taksi segera memutar kemudi, keluar dari halaman parkir dan mulai menorobos padatnya lalu lintas Yogya di akhir pekan, meninggalkan Bandara Adisucipto.
“Apakah setiap hari memang padat begini, Pak?“ tanya si penumpang.
“Cuma ketika akhir pekan dan masa liburan sekolah saja. Bapak dari Jakarta?“ balas si sopir, basa-basi.
“Ya,“ jawab laki-laki itu singkat. Tampaknya ia menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Ketika taksi berhenti di lampu merah, ia melihat sebuah gedung yang tampak angker dan lusuh.
Tidak banyak berubah, gumamnya dalam hati.
Laki-laki itu sempat memutar leher agak lama saat melewati sisi kanan Rumah Sakit Panti Rapih. Dia senang, bangunan kuno rumah sakit yang berjendela besar masih tetap dipertahankan. Dia masih ingat beberapa suster di rumah sakit yang pernah dikenalnya.
Taksi berhenti di depan wisma. “Sudah sampai, Pak. Silakan,” sopir taksi mempersilakan tamunya untuk turun.
Laki-laki itu disambut hangat oleh petugas wisma itu. Dan, ia sangat terkesan pada sikap sopan khas Yogya. Sejak turun dari pesawat, laki-laki itu sudah merasakan kentalnya suasana Yogya ketika mendengar gending Jawa yang mengiringi kesibukan bandara. Kini, di wisma tersebut, ia juga mendengar musik yang sama.
Sesaat dia merasakan kesejukan merambati tubuhnya. Laki-laki itu sebenarnya amat penat. Dia ingin mengubur masa lalunya. Tapi, bagian lain dari dirinya selalu ingin menikmati kenangan manisnya. Kejadian 25 tahun lalu itu….
Ruangan itu tidak terlalu luas. Hanya 150 meter per segi. Sepertiganya penuh oleh seperangkat gamelan Jawa. Ray sudah tahu nama beberapa di antaranya. Kenong, kempul, kendang, dan gong. Nana, gadis Jawa yang menjadi kekasihnya itu, dengan sabar menerangkan tentang alat musik itu.
Suatu saat aku ingin mempelajarinya. Kalau istriku seorang gadis Jawa, aku harus mengenal budayanya dengan baik. Begitu pikir pemuda itu.
Ray ingat, teman-temannya di kampus sering berbicara dalam bahasa Jawa. Mereka pun dengan senang hati mengajari Ray. Tapi, ternyata Ray dikerjain karena yang mereka ajarkan kebanyakan adalah kata-kata saru. Nana sampai melotot marah mendengar perbendaharaan kata yang diucapkan Ray.
Akhirnya, Ray kapok. Dia memilih belajar bahasa Jawa dari Nana, dari tingkatan yang paling kasar hingga yang paling halus. Sebagai balasannya, setiap Selasa dan Jumat sore Ray menunggui gadis itu berlatih tari Jawa. Ray tentu saja tidak keberatan menunggui gadis pujaannya, meski dia harus berlari dari kampusnya ke tempat Nana latihan menari.
Ray sudah menyelesaikan sarjana mudanya ketika mulai mengenal gadis manis berambut panjang yang duduk di kelas dua SMA itu. Melalui jendela kamarnya, Ray sering melihat Nana mengayuh sepedanya pergi ke sekolah. Setiap hari pasti lewat di depan asramanya.
Teman-teman Ray sering iseng menggoda gadis-gadis yang lewat, termasuk Nana. Tapi, Ray tidak pernah iseng seperti mereka. Meski sudah berpacaran, belum sekali pun Ray menginjak rumah Nana. Tidak juga ketika malam Minggu. Ayah Nana seorang tentara yang tidak suka pada mahasiswa, terutama yang berambut panjang sampai ke pundak.
Bagi Nana, ayahnya adalah satu-satunya orang yang dicintainya. Dengan ibu tiri dan beberapa adik tirinya, Nana tidak banyak bicara. Sejak pertama wanita bermata licik itu datang dan menggantikan posisi ibunya, yang meninggal 5 tahun silam, Nana tidak pernah bicara padanya.
Nana tidak ingin Ray disakiti atau dikasari oleh ayahnya. Mereka memilih berpacaran yang sederhana, yaitu mengobrol sambil naik sepeda setiap Selasa dan Jumat sore. Kadang-kadang Nana datang ke warung Bu Nonong, tempat makan sebagian besar mahasiswa di sekitar itu. Warung itu hanya berjarak tiga rumah dari rumah Nana. Toh, keterbatasan ruang dan waktu itu tidak menghambat cinta keduanya yang tumbuh subur.
“Mengapa aku tidak pernah bisa menghilangkan bayangan Nana, bahkan setelah lebih dari 25 tahun?” keluhnya, sedih.
Dan, sekarang, ketika sudah berada di Yogya, di dekat tempat-tempat yang dipenuhi kenangan, perasaan itu makin kuat dan kental. Sepertinya peristiwa itu baru terjadi kemarin sore. Perjalanan ini jadi seperti perjalanan napak tilas. Ray tidak tahu di mana Nana berada dan bagaimana kehidupannya saat ini. Memikirkan hal itu, jantungnya berdebar, adrenalinnya naik ke kepala, membuatnya sangat bergairah dan siap untuk bertualang.
Tak ada yang lebih buruk daripada hidup tanpa harapan. Itu pegangan hidup Ray selama ini. Dia selalu berharap, suatu saat nanti ia akan menemukan Nana. Tapi, ia sudah menyiapkan diri untuk menerima keadaan.
Magrib sudah tiba ketika laki-laki itu menghirup udara Kaliurang dari dalam taksi yang ditumpanginya. Dagunya yang licin kehijauan dan rambut abu-abunya yang tebal sudah terpangkas rapi. Ia menyodorkan denah buatan Dina kepada si sopir taksi yang segera tancap gas setelah membaca denah dengan cepat.
Taksi berhenti di depan sebuah rumah.
“Tunggu sebentar, ya, Pak. Saya cek dulu. Jangan-jangan bukan ini rumahnya,” kata Ray, sambil memakai jaketnya, lalu bergegas turun.
Pagar depan rumah itu tidak terkunci. Tapi, pintu rumahnya berjarak 10 meter lebih dari depan pagar. Ada halaman luas yang ditumbuhi pohon-pohon. Pintu depan tertutup, tapi ada kliningan sapi tergantung di sana.
“Apakah ini rumah Ibu Tiwi?” tanya Ray, ketika pintu depan terbuka.
Seorang perempuan setengah baya menjawab tamunya, “Benar. Maaf, Bapak siapa, ya?”
“Saya Oce dari Jakarta. Apakah Ibu Tiwi ada?“
“Oh, Ibu Tiwi sedang ke rumah sakit, diantar Pak Bas,” jawabnya, sambil memegangi daun pintu.
Ray langsung tanggap, ia tahu bahwa ia tidak dipersilakan masuk untuk menunggu majikannya. “Baik, Bu, saya akan ke sini lagi besok. Sebelumnya saya akan menelepon dahulu,“ kata Ray.
Wanita tua itu mengangguk hormat, lalu cepat-cepat menutup pintu.
Ray menghabiskan waktu berjalan-jalan menyusuri Malioboro. Sore itu Pasar Beringharjo sudah sepi, tapi trotoar depannya dipenuhi pedagang minuman dan makanan tradisional. Orang-orang tampak duduk-duduk di bangku panjang sambil menikmati wedang ronde atau kopi tubruk, ditemani tape uli goreng dan tahu isi.
Ray terus melangkah menapaki tegel kuno bermotif bunga di sepanjang emperan Malioboro. Dia menyeberangi palang jalan kereta api untuk masuk ke Jalan Mangkubumi. Lalu, dia duduk sambil menikmati gudeg di warung lesehan, di depan sebuah toko buku.
Kala itu, sebagai mahasiswa miskin, dia tidak mampu membeli buku-buku bagus di situ. Untung saja, sebagian besar pramuniaga cukup baik dan mengizinkannya membaca di tempat, tanpa harus membeli. Ia tersenyum mengingat belasan buku bagus yang sempat dilalapnya. Di toko buku itulah Ray dan Nana berkenalan untuk pertama kalinya.
Bayangan seorang gadis berseragam melintas cepat di depan matanya. Rambutnya yang lurus panjang diikat di belakang kepala, membentuk ekor kuda yang tebal dan indah. Gadis itu berdiri di dekat rak buku, tempat Ray membaca sebuah referensi. Caranya menimang buku, membuka bagian daftar isi, lalu meneliti sampul belakang, menunjukkan bahwa gadis itu ragu-ragu memutuskan membeli atau tidak.
Ray mendekat. “Buku bagus itu, Dik,“ sapanya, mencoba membantu.
Si gadis menatap Ray sekilas. Ray pun menjelaskan isi buku yang sudah pernah dibacanya itu.
Mereka pun berkenalan.
“Rumah Nana di belakang wihara, ya?”
Gadis itu melirik, sambil tangannya sibuk memilih buku lain. Siang itu mereka pulang bersama dengan sepeda masing-masing.
Pukul tujuh pagi Ray sudah rapi, siap bepergian. Tidak terlalu pagi untuk menelepon Ibu Tiwi sekarang, pikirnya. Menurut pengalamannya, orang Yogya terbiasa bangun pagi.
Suara berat di ujung sana mengabarkan bahwa Ibu Tiwi sedang diopname di rumah sakit.
“Pak Oce, kalau Anda mau bertemu Bu Tiwi, nanti saja pas jam besuk bersama saya,” kata Baskoro.
Ray terdengar sungkan karena pria yang baru dikenalnya menawari untuk menjemputnya. Tapi, Baskoro dengan senang hati mengantarnya.
“Untung suami Ibu Tiwi baik sekali,” gumam Ray.
Ray melangkah ke kampusnya dulu. Tampak sepi. Kampus itu masih sama seperti dulu. Dia menatap pucuk-pucuk pepohonan yang ada di seberang halaman rumput, lalu tenggelam dalam masa lalu.
“Ray, pernahkah kamu ingin menjadi orang lain?“ tanya Nana.
Ray tertegun mendengar pertanyaan aneh itu.
“Seingatku belum pernah,“ jawab Ray, sambil menatap gadis itu.
“Benar? Dalam mimpi pun belum pernah?“ desak Nana.
Ray mengangguk. “Apakah kamu pernah?”
“Ya, aku sering ingin menjadi orang lain, siapa pun itu.“
Jawaban polos gadis itu mengagetkan Ray. Ia tahu, gadis itu pasti sedang memiliki masalah. Wajahnya selalu tampak murung, seolah hidupnya dipenuhi banyak duka. Tapi, Nana hampir tidak pernah mengeluh. Itulah yang membuat Ray makin menyayangi Nana dan bertekad untuk selalu membahagiakannya. Ray ingin melihat binar-binar bahagia itu lebih sering, bahkan setiap hari. Binar-binar yang dia lihat setiap kali mereka bertemu.