Tawaran yang tidak boleh ditolak. Lagi pula, Dina keukeuh meminta pertolongan Tiwi karena Tiwi memiliki latar belakang praktisi sekaligus peneliti. Dan, nama Tiwi telah direkomendasikan oleh beberapa yayasan.
Tiwi akan menganggapnya sebagai acara pelesir, bukan kerja. Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Tiwi membayangkan daftar pekerjaan yang harus disusun ulang. Penelitian enzim, program pelatihan teknis, dan konsultasi mahasiswa bimbingannya. Yang agak sulit dijadwal ulang adalah acara nyadran dan ruwahan yang selalu dilaksanakan Eyang Suwito. Tiwi membayangkan suatu prosesi panjang, yang menurutnya, sudah kurang relevan lagi diikuti oleh generasi muda Jawa.
Ruwahan (dari kata Ruwah) atau ngapem adalah nama salah satu bulan dalam penanggalan Jawa. Ruwah sering diartikan dekat dengan arwah-arwah sehingga memerlukan banyak bunga dan doa. Sedangkan ritual mengunjungi makam kerabat dan nenek moyang di bulan Ruwah, yaitu satu bulan menjelang puasa Ramadan, disebut nyadran. Umumnya, tradisi nyadran dimulai dengan membersihkan makam leluhur, beramai-ramai oleh hampir seluruh warga desa. Lalu, muncullah iring-iringan orang tua yang membawa besek (kotak segi empat bertutup dari anyaman bambu), berisi nasi, lauk-pauk lengkap, dan jajan pasar, persis acara selamatan. Pak kaum atau modin bertugas mengumpulkan semua besek, berdoa, dan memimpin acara tabur bunga ke pusara para leluhur. Akhir kegiatan ini adalah kunjungan masyarakat ke kerabat yang tinggal di desa sekitar makam.
Kalau Eyang Suwito saja tidak berani melanggar tradisi itu, apalagi aku. Cah wingi sore, anak kemarin sore. Tiwi paham sekali. Karena, selama dia ikut Eyang Suwito, berarti sudah lebih dari 20 tahun, belum pernah keluarga itu absen melaksanakan tradisi tersebut.
Orang-orang muda, terutama yang tinggal di perkotaan, umumnya sudah menyederhanakan tradisi ngapem dengan cara memesannya langsung pada katering. Lebih praktis, karena sebagian besar para wanita sibuk bekerja di luar rumah. Yang penting tidak mengurangi makna. Tiwi mencoba memahami perbedaan dua generasi ini. Masing-masing memiliki argumentasi. Sebenarnya, Tiwi melihat banyak sekali tradisi Jawa yang sudah disederhanakan, bahkan sampai kehilangan makna sama sekali. Misalnya, acara selapanan, selamatan menandai 35 hari kelahiran bayi.
Setiap kali menerima besek dari tetangga yang sudah diganti dus berisi kue, Eyang Kakung selalu berkomentar, “Kalau begini sudah tidak ada maknanya lagi.” Lebih praktis, tapi kehilangan makna. Karena, nasi gurih, potongan ayam, urap, dan lauk lain, serta jajan pasar itu masing-masing memiliki arti berbeda.
Untuk upacara ruwahan, orang-orang biasanya memulai kesibukan dua-tiga hari sebelum acara. Beras, beras ketan, singkong, pisang, gula jawa, daun pisang, dan kelapa dipilih dari kualitas terbaik. Sebenarnya, bisa saja langsung membeli tepung beras di supermarket untuk membuat apem. Tapi, untuk kalangan masyarakat pemegang tradisi, mereka memilih merendam beras terlebih dahulu, kemudian menumbuknya dengan lesung untuk diambil tepungnya.
Pada malam hari tepung beras diadon, dicampur dengan larutan gula jawa, lalu diuleni (diaduk sambil dipukul-pukul) hingga rata. Singkong dan pisang yang sudah dipotong-potong direndam dalam air kapur selama setengah hari agar menghasilkan kolak yang bagus.
Keesokan harinya, ritual ngapem pun dimulai. Seluruh anggota keluarga, terutama kaum wanita, serentak menyelesaikan prosesi pembuatan apem, kolak, dan ketan. Siangnya, selepas azan zuhur, semua ketan dan kolak diletakkan di dalam sudhi (wadah kecil dari daun pisang). Apem diletakkan di atas samir (lembaran daun pisang yang digunting bulat sebesar piring). Sebelum dibagi-bagikan ke tetangga, kenalan, besan, bahkan atasan, paket-paket apem kolak dan ketan itu didoakan oleh kepala keluarga.
Yang dibutuhkan Tiwi adalah tanggal kepastian penyelenggaraan tradisi tersebut. Tiwi tidak mungkin membiarkan eyang putrinya, yang berusia 77 tahun itu hanya bekerja bersama Mbok Jum, Pak Mo, dan dibantu beberapa tetangga. Selama ini Tiwilah yang selalu dipasrahi untuk mengawasi seluruh prosesi itu. Tiwi suda biasa berkejaran dengan waktu, membagi energi dan pikirannya untuk kuliah, sambil mengelola jahitan dan membesarkan Lintang. Mbok Jum senang dengan cara kerja Tiwi yang cekatan.
“Wik, kok, pagi-pagi sudah datang. Cari apa?” Tiwi dikejutkan oleh sebuah teguran.
Ternyata Pak Win, sosiolog humoris, yang rajin ke perpustakaan. Sekilas Tiwi menjelaskan maksud kepergiannya.
Pukul sembilan, ketika kantor kependudukan mulai ramai oleh pegawai dan pengunjung, Tiwi sudah membawa setumpuk referensi tentang Maluku Tenggara. Tiwi hanya perlu menemui beberapa ahli ekonomi dan sosiolog untuk mendapat masukan.
Sambil berjalan ke tempat parkir, ia mengambil ponsel dan menelepon Baskoro, sepupunya. “Mas, aku sudah selesai. Mas Bas ada di mana? Setengah sebelas? Kalau begitu, aku tunggu di rumah saja,“ kata Tiwi, sambil melirik jam tangannya. Dia masih punya waktu untuk mampir di Pasar Colombo, membeli bahan jamu.
Nenek Baskoro dan nenek Tiwi adalah kakak-adik. Jadi, Baskoro dan Tiwi adalah sepupu. Eyang Suwito adalah adik bungsu kedua nenek itu. Sejak kecil Tiwi sudah akrab dengan keluarga Bude Murti, ibu dari Pras, Bim, Janges, Ton, dan Baskoro. Tiwi kecil adalah kesayangan keluarga Bude Murti. Tidak heran, masa kecil yang mereka lewatkan manis, penuh warna, dan sarat kenangan. Dari semua putra Bude, Tiwi merasa paling dekat dengan Janges. Padahal, beda usia mereka cukup jauh, 7 tahun. Dengan Baskoro, Tiwi sering dipaksa mengalah bila berebut mainan.
Suwito Wiryo Hutomo adalah anak bungsu seorang lurah di desa di lereng Gunung Merapi. Suwito kecil sudah sering ikut bapaknya bila ada keperluan di Keraton Ngayogjokarto Hadiningrat. Ada seorang kerabat keraton yang tertarik pada Suwito kecil, yang dinilainya berbeda dari anak-anak sebayanya. Anak desa biasanya takut bila bertemu punggawa keraton.
Dengan berat hati ayah Suwito melepas putra bungsunya, anak laki-laki satu-satunya, ketika kerabat keraton itu memintanya. Bagi ayah Suwito, itu bukan permintaan, melainkan perintah dari atasan. Bagi orang-orang desanya, kepergian Suwito kecil untuk tinggal di Keraton Yogyakarta itu menggegerkan, sekaligus membanggakan. Masyarakat di lereng Merapi beranggapan, menjadi abdi dalem, bekerja melayani keraton, merupakan pekerjaan mulia. Tapi, Suwito tidak dijadikan abdi dalem, melainkan disekolahkan di SD Belanda, bersama anak-anak para kerabat keraton lainnya. Bahkan, setelah itu dia disekolahkan di HBS sampai lulus.
Perkawinan antara pemuda Suwito dengan Rr. Supadmi Hanum adalah perkawinan bahagia, didasari oleh perasaan cinta, yang disertai perjuangan. Namun, oleh seluruh keluarga, kebahagiaan itu dipandang tidak lengkap, tanpa kehadiran anak-anak. Adalah hal yang sangat lumrah pada zaman itu, bila seorang pamong praja mempunyai istri lebih dari satu. Apalagi, bila si istri tidak mampu menghadirkan keturunan. Tapi, Suwito tetap bergeming, meski keluarga dari pihak mertua mendesaknya untuk menikah lagi.
Jangan mengukur kebahagiaan orang lain dengan dirinya sendiri. Begitu komentar Eyang Suwito. Pepatah itu masih sering didengar Tiwi hingga sekarang. Tiwi sangat bangga pada kakeknya, terutama terhadap kesetiaannya pada perempuan yang dicintainya.
Tiwi baru membuat jus tomat ketika mendengar mobil Baskoro diparkir di garasi depan. Di meja makan Eyang Kakung dan Eyang Putri sedang menikmati makan siang.
“Bas, ayo, sini, makan siang sekalian,“ kata Eyang Kakung.
“Inggih, Eyang,“ balas Baskoro, beranjak untuk mencuci tangan.
Tiwi melangkah di belakang Baskoro, membawa nampan penuh jus.
“Janges jadi pulang, Bas?“ tanya Eyang Kakung tiba-tiba.
”Rencananya, minggu ini, Eyang. Mau nyunatin Erlangga, mumpung libur,“ sahut Baskoro.
Percakapan dengan Eyang Kakung dan Putri selalu menggunakan bahasa Jawa kromo inggil (paling halus). Kadang-kadang terselip satu dua kata berbahasa Indonesia. Itu pun hanya untuk istilah khusus yang tidak ada padanannya dalam bahasa Jawa. Eyang Kakung selalu menekankan pentingnya bahasa Jawa sebagai bagian dari unggah-ungguh (tata karma). Karena, bahasa Jawa secara otomatis menerapkan prinsip penghormatan kepada orang tua, orang yang lebih tua, dan sesamanya.
Bude Murti dan ibunya mengikuti jejak Eyang Kakung. Kini, sebagai ibu, Tiwi mengharuskan Lintang, putri semata wayangnya, berbuat sama. Dada Tiwi berdesir keras ketika ingatannya melayang pada Ray. Ray adalah orang seberang, yang kesulitan setengah mati untuk belajar bahasa Jawa, apalagi yang paling halus. Tapi, Ray lancar berbahasa Belanda. Jadi, sebenarnya Ray bisa belajar bahasa Jawa dengan menggunakan pengantar bahasa Belanda, langsung pada Eyang Kakung dan Putri.
“Setelah nyadran saja ya, Bu, kita ke Magelang,” kata Eyang Kakung.
“Nanti saya yang mengantar, Eyang,“ sahut Baskoro. “Kamu ikut kan, Wik? “ Baskoro mengerling pada Tiwi.
“Tergantung Mas Bas, dapat tiket untuk kapan. Kalau tidak sempat datang, aku titip kado saja buat Erlangga,” sahut Tiwi.
“Sudah lama kamu tidak bertemu Janges, ‘kan? Berapa lama, ya, Wik?“ tanya Eyang Putri.
“Mungkin, sekitar dua tahun, Eyang,” sahut Tiwi, lirih. Tiwi masih duduk di meja makan, tapi pikirannya melayang ke peristiwa 25 tahun silam.
Tiwi ragu memasuki halaman rumah yang tampak sepi itu. Pintu depan terbuka lebar. Seingatnya, sejak dulu pintu depan rumah Bude Murti memang terbuka setiap hari hingga pukul sembilan malam. Tiwi tidak pernah masuk lewat pintu depan. Dia lebih suka lewat samping, langsung masuk ke kebun kecil keluarga yang ada di tengah rumah.
Penulis: Yetty Diaz PR