”Ini hari Minggu, antarkanlah aku ke sekolah Minggu,” pintanya.
Sekolah Minggu, sebuah acara kebaktian yang diadakan pada hari Minggu untuk anak-anak. Sebuah acara yang mengisi hari Minggu-ku pada masa kanak-kanakku. Sebuah acara yang kunantikan dan kulalui dengan sukacita.
”Mengapa harus sepagi ini? Nanti sore saja,” jawabku, malas.
”Tapi, aku ke sekolah Minggu setiap pagi, bersama Ibu,” tukasnya.
”Itu aturan ibumu,” kuangkat bahu dengan tak acuh. ”Di sini rumahku, aturan ibumu tidak berlaku.”
Tenggara terkejut sesaat. Agaknya tidak menyangka jawabanku akan setajam itu.
”Tapi, aku harus berdoa, juga mendengarkan kisah nabi,” gumamnya, pelan.
”Berdoa bisa kau lakukan di mana saja, tidak hanya di gereja,” kataku, tetap tak peduli.
”Dan, mendengarkan cerita, nanti kuputarkan cerita melalui VCD, bisa kau lihat di televisi. Cerita apa yang ingin kau lihat? Tentang perahu Nabi Nuh, Keajaiban Natal, atau kartun Tom and Jerry?”
Tenggara menatapku tak mengerti. Tapi, aku tidak menjelaskannya lebih lanjut. Bukan hal mudah menjelaskan sesuatu kepada anak-anak dan aku tak memiliki keahlian semacam itu.
Kuhidupkan pesawat televisi, kupilih sebuah film kartun dan kuputarkan melalui mesin pemutar cakram. Lalu kurebus mi instan sebagai makan paginya. Sesudah itu aku kembali masuk ke kamarku, kututup rapat pintunya dan melanjutkan tidurku yang terpenggal.
Seharian itu kunikmati me time di dalam kamar. Membaca, tidur sesuka hati, bermain game luxor di komputer. Menjelang sore, barulah aku keluar kamar.
Dengan terkejut kudapati mi instan yang kurebus tadi pagi, masih utuh tak tersentuh di atas meja, dan kutemukan Tenggara duduk melamun di kebun belakang. Raut wajahnya kacau, tampak seperti baru saja bangun tidur.
”Mengapa tidak makan mi itu?” tanyaku.
Tenggara menggeleng.
”Ibu melarangku makan mi seperti itu,” katanya.
”Ibumu sudah mati, dia tidak bisa lagi me¬larang-larangmu.”
”Tapi...,” kata Tenggara, tak selesai.
”Sudah kukatakan, ini rumahku, maka aturan ibumu tidak berlaku di sini, melainkan aturanku. Aku tidak bisa meladenimu dengan segala kerewelanmu. Apa yang ada, itulah yang tersedia bagimu. Paham?” hardik¬ku, tanpa belas kasihan.
Tenggara tertunduk, tampak jelas menyimpan rasa takut.
”Sekarang mandilah, kita akan pergi ke gereja. Pulangnya, baru kita cari makan. Jadi terserah, kau makan mi itu atau menahan lapar sampai nanti malam.”
Tampaknya Tenggara memilih untuk menahan lapar. Sungguh anak yang patuh, kataku tanpa suara. Meski tiada lagi ibu yang menciptakan larangan itu, yang akan bisa memberinya hukuman bagi pelanggaran yang terjadi, tetap disimpannya rasa takut untuk mematuhi segala petuah.
Tengah malam aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Barangkali karena tidur siangku terlalu berlebihan sepanjang hari tadi. Saat melangkah menuju ruang baca, mendadak kudengar suara itu. Suara tangisan yang lirih, berasal dari kamar Tenggara.
Perlahan kubuka pintu kamar itu. Cahaya redup, namun cukup bagi penglihatanku untuk menemukan sosok kecil yang bersimpuh di bawah jendela. Sosok dengan bahu berguncang oleh tangisan. Kunyalakan lampu.
”Mengapa menangis?” tanyaku, heran.
Tenggara terkejut, lalu dengan cepat menghapus air mata dengan lengannya, tampak berusaha menghentikan tangisannya. Usaha yang tidak berhasil karena air matanya tetap mengalir.
”Katamu kau bukan anak yang mudah menangis?”
”Aku ingin bertemu Ibu,” isaknya.
”Ibumu tak akan mendengar tangisanmu, percuma menangisinya.”
”Aku mau Ibu,” Tenggara masih menangis.
Aku tahu perasaan itu. Sebuah rasa ditinggalkan. Kesendirian yang senyap, seakan jauh dari segala sesuatu. Dulu, setiap kali perasaan itu datang, akan kucari Ayah, kubenamkan isakku dalam pelukannya. Rengkuhan Ayah membantuku membenamkan rasa sendiri itu, yang perlahan berganti damai yang menenangkan. Seakan menemukan sebuah tempat aman dari sergapan kesendirian. Tempat aman nan hangat itu adalah pelukan Ayah.
Kini, tak ada lagi pelukan Ayah untukku. Juga bagi Tenggara. Kini hanya ada kami berdua. Haruskah kurengkuh dia demi membantunya membenamkan rasa kesendiriannya? Apakah pelukanku memberikan rasa aman baginya, sama seperti yang kutemukan dalam pelukan Ayah?
Aku berpaling. Kutepiskan rasa belas kasihan yang menghampiri. Kutekankan pada diriku bahwa dia, Tenggara, adalah seseorang yang selama ini tersembunyi dariku, seseorang yang seharusnya tidak kukenal, tidak kutahu keberadaannya, maka akan tetap kupertahankan seperti itu.
Aku Bukan Kakakmu
Aku bangun lebih dini pagi itu. Kumasak nasi goreng omelet. Kutambahkan irisan sosis dan butiran jagung manis. Kusiapkan pula 2 gelas susu cokelat. Satu untukku, segelas yang lain untuk Tenggara.
Kakiku melangkah memasuki kamar tidur Tenggara. Oh, bukan. Sama sekali bukan kamarnya, ralatku cepat. Hanya kamar yang ditempatinya sementara, sebelum nanti kutemukan kamar lain yang tepat untuknya, pada sebuah asrama.
Kubuka tirai jendela, membiarkan cahaya matahari menerobos masuk dan menerangi segala sudut ruang. Tampak olehku Tenggara sudah membuka mata, tampaknya termenung sembari berbaring. Seakan tak dihiraukannya kehadiranku.
Aku duduk di ujung dipan, dekat dengan kaki kecilnya yang tertutup selimut.
”Bangunlah, kuantar kau ke sekolah,” kataku, sembari menyentuh kakinya.
Tenggara bangkit seketika.
”Sekolah? Sekarang?” Matanya membulat terkejut.
Aku mengangguk. Sesaat ada kelegaan dalam diriku melihat mata bulatnya menyimpan cahaya. Cahaya yang tidak kusangka, setelah dia ’tergenang’ semalam.
Aku telah berbicara dengan Jade semalam. Dia bekerja menjadi pembimbing pada sebuah kelompok bermain. Kukira akan lebih baik menitipkan Tenggara pada sekolah kecil itu untuk sementara, ketimbang aku harus menjaganya sepanjang hari dalam satu pekan ini.
”Bukan sekolah sebetulnya, melainkan sebuah kelompok bermain. Jadi barangkali kau akan satu kelas dengan anak-anak yang lebih kecil,” kataku, menjelaskan. ”Untuk sementara, hanya sekolah itu yang kutemukan untukmu. Kau mau?”
”Tentu mau!” seru Tenggara cepat, sembari turun dari dipan, bergegas menuju kamar mandi.
Lalu kupilihkan baju yang akan dipakainya hari ini.
Tenggara menyuap lahap nasi gorengnya. Sangat bersemangat.
”Jangan tergesa, nanti tersedak. Masih banyak waktu, kau tidak akan terlambat,” kataku, sembari menaruh setangkup roti tawar berlapis selai kacang dalam kotak makanan.
”Ini untuk bekalmu,” kuserahkan kotak itu pada Tenggara.
Pagi itu kuserahkan Tenggara pada Jade. Ada kelegaan besar di dalam diriku mendapatkan solusi terbaik untuk mengatasi pekan berat ini. Setidaknya aku terbebas dari beban tugas untuk menjaga Tenggara sepanjang hari.
Baru saja kucapai halaman luar sekolah itu, ketika kudengar langkah kaki Tenggara mengejarku.
”Ada apa?” tanyaku, menghentikan langkah.
”Kakak belum menciumku,” katanya, menunjuk pipinya.
Aku tertegun. Mataku lurus menatap padanya. Pada mata yang bulat bercahaya, pada pipi yang gembil ranum. Paduan yang sungguh memunculkan rasa sayang. Cium adalah sentuhan terindah untuk mengungkapkan rasa itu. Tetapi, aku tidak hendak memiliki rasa itu di dalam diriku. Sungguh tidak! Tidak boleh terjadi!
Ayah telah menyembunyikan keberadaannya dariku. Karena sesungguhnya Tenggara adalah seorang ’pencuri’ bagiku. Dia mencuri ayahku. Pencuri kasih yang seharusnya kumiliki secara tunggal. Aku tidak ingin menjadi kakak baginya. Tidak akan pula kujadikan dia sebagai adikku. Sungguh tidak.
Penulis: Sanie B. Kuncoro