Fiction
DENSEMINA [4]

15 Jun 2012


Advertisement
Hari masih pagi ketika rombongan kecil itu sampai ke Pantai Base-G. Air laut sedang penuh-penuhnya, sehingga merendam hampir separuh pantai. Harjoyo berkacak pinggang tidak percaya. Bayangkan, lebih dari dua belas tahun ia meninggalkan Jayapura. Kini, sepenggal surga bernama Pantai Base-G itu seolah tak tergerus oleh waktu. Pantai ini masih tetap seperti dulu, bersih dan asri. Bahkan, airnya yang putih jernih itu tetap sama. Tetap putih dan jernih. Sehingga, seseorang bisa melihat dengan jelas ikan-ikan yang tengah berenang-renang dengan lincah di sana.


Harjoyo memandangi pantai sepuas matanya bisa melahap. Dengan rakus dijelajahinya setiap jengkal pantai dan merekam semuanya sepenuh ingatannya bisa menyerap.

Dipandangnya ujung pantai yang satu ke ujung yang lain. Ujung pantai di sisi kiri adalah batas awal tempat terlihatnya kapal-kapal yang datang dari wilayah barat Indonesia. Kata orang, ombak di wilayah ini lebih kecil. Tapi, arus airnya jauh lebih kuat. Di bagian ini pulalah biasanya wisatawan-wisatawan lokal yang tidak waspada hanyut berbawa arus. Sehingga, tahu-tahu mereka sudah berada di tengah laut dan hilang digulung ombak. Sementara sisi satunya yang ombaknya lebih besar justru arusnya tidaklah deras. Bagian sisi kanan ini diakhiri oleh batu karang besar. 

Sebenarnya, di balik batu karang besar masih ada sepenggal pantai lagi. Karena letaknya yang tersembunyi dan sedikit gelap, hanya sedikit pelancong yang mengunjungi tempat ini.

Harjoyo tidak tahan lagi. Ia langsung menceburkan diri ke dalam air. Uh, sejuknya. Ingatannya kembali mengingat ke kota tempatnya menuntut ilmu, Surabaya. Kalau dibandingkan dengan Pantai Kenjeran yang ada di kotanya yang begitu banyak sampah, maka pantai ini benar-benar seperti sepotong surga di bumi.

“Hei… mau main gulung ombak?” tiba-tiba saja Albert sudah mengapung di sebelahnya.

“Apa bisa? Airnya penuh begini.”

“Kitorang coba, to.”

Kedua pemuda itu sudah menginjak usia dewasa kini. Harjoyo sudah tumbuh sebagai seorang pemuda dua puluh dua tahun dengan tubuh tinggi besar. Sementara Albert yang hanya beberapa tahun lebih tua darinya terlihat tumbuh kekar dan berotot. Persoal­annya, apakah mungkin keduanya bermain permainan yang hanya cocok dengan tubuh kanak-kanak?

Hanya saja tawaran untuk bermain gulung ombak membuat jiwa kanak-kanak keduanya muncul lagi. Sebenarnya, permainannya sederhana saja. Setiap anak bersiap di pinggir pantai, mengawasi datangnya ombak terbesar yang bakal datang. Ombak itu biasa muncul di antara kemunculan ombak-ombak kecil. Saat raja ombak itu datang, anak-anak yang telah bersiap di pinggir pantai berlari sekencang-kencangnya dan terjun ke ombak besar itu, sebelum ombak menyentuh bibir pantai. Kemudian? Betapa asyiknya berada di dalam ayunan gelombang dengan tubuh bergelung seperti bola. Ombak ini akan mengayunkan anak-anak tersebut dan melemparkannya ke tepi pantai. Sungguh permainan yang menyenangkan dan menantang.

Tanpa pikir panjang keduanya berdiri berjajar di bibir pantai menanti kedatangan raja ombak. Saat ombak besar itu muncul, keduanya berlari sekencang-kencangnya dan terjun ke dalam perut ombak persis seperti yang mereka lakukan saat kecil dulu.

Hanya, ada satu hal yang dilupakan keduanya. Tubuh dua pemuda ini sudah tumbuh tinggi dan besar. Sehingga, ombak dengan kekuatan yang sama itu tak mampu melontarkan keduanya, sekuat seperti ketika mereka masih kanak-kanak.

Saat telah terdampar di pantai keduanya tertawa terbahak-bahak. Benar-benar permainan yang tidak asyik lagi. Maklum saja, ombak besar itu hanya mampu melempar mereka dengan gerakan lemah lembut. Persis seperti penari Jawa yang tengah melemparkan selendangnya ke udara dalam suatu pergelaran tari.

Albert menggerutu keras-keras. “Ombak loyo. Ha...ha...ha....”

“Bukan ombaknya yang loyo. Kitorang saja yang sudah terlalu besar untuk ombak ini,” Harjoyo mengoreksi Albert.

Tak jauh dari dua pemuda itu bermain ombak seorang gadis remaja sedang asyik bermain dengan dirinya sendiri. Gadis muda itu sibuk mencari-cari sesuatu di pantai. Saat mentari makin tinggi dan laut makin surut, sehingga dasar laut makin terbuka, gadis itu dengan leluasa menikmati kekayaan dasar laut yang tersaji di hadap­annya. Inilah saat yang tepat untuk berburu. 

Gadis remaja itu sibuk mencari-cari keong untuk menambah koleksi pribadinya. Sudah lama ia mengumpulkan berbagai macam keong yang indah-indah bentuknya. Matanya awas mengamati dasar laut, menembus air yang begitu jernih. Lama ia menyelidik ke sana kemari, membalik karang-karang, juga menyingkirkan karang dengan kakinya.

Penyelidikannya berhasil. Di suatu ceruk, jauh tersembunyi di balik batu karang, gadis bermata jernih ini menemukan benda yang menarik hatinya. Segera ia menunduk dan meraih benda yang dimaksud. Dengan sekali hentak benda itu terenggut dari sana. Segera setelah itu ia kembali ke pantai. Diamat-amatinya benda yang baru diperolehnya. 

“Oh, keong yang besar dan indah. Ini adalah keong paling indah yang pernah sa dapat.”

Keong di tangan gadis itu berwarna hitam dengan ukiran cokelat muda di punggungnya. Bila diperhatikan lebih seksama ukir-ukiran itu berpola sedemikian rupa, sehingga tampak seperti sepotong kain batik. 

Harjoyo menoleh ke tempat gadis remaja itu berada. Dilihatnya gadis itu tengah melompat-lompak kegirangan. Entah oleh sebab apa. Kembali rasa ingin tahu mengusik hatinya. Siapakah gadis muda itu? Sejak kali pertama melihatnya ada keinginan yang sangat besar di hatinya untuk menguak jati diri gadis itu. Tapi, selama ini kesempatan itu belum terbuka baginya. Kali ini kesempatan itu datang begitu saja. Kesempatan yang tak ingin dibuangnya begitu saja.

“Siapa anak perempuan yang di sana itu? Yang berangkat dengan kitorang tadi?” 

Pandangan matanya melihat lurus ke arah gadis muda itu.

Albert mengikuti arah pandangan Harjoyo. Kemudian ia menyahut singkat, “Sa pu ade (adik saya).”

“Ko pu ade? Ade kandung? Bukankah ko anak bungsu?” 

Harjoyo tidak percaya dengan yang baru didengarnya barusan. Karena, saat ia berangkat ke Jawa, setahunya Albert tak punya adik seorang pun.

Albert maklum dengan keterkejutan sahabatnya. Katanya lagi, lebih untuk menjernihkan kebingungan sahabatnya. “Ade lahir waktu ko sudah di Jawa.”

“Oh, pantas sa tidak pernah ketemu.”

Sesaat kemudian Albert berteriak-teriak memanggil gadis muda itu. Air laut mulai meti lagi. Sebagian dasar laut mulai terbuka. Sudah waktunya pulang. 

Gadis itu segera mendekat. Setelah adiknya berada di dekatnya Albert langsung memerkenalkannya kepada sahabatnya. “Ini Densemina.”

Hanya itu. Tapi, sebelum Harjoyo sempat menyebutkan namanya, Albert malah mengakhiri perkenalan singkat itu dengan menunjuk benda asing di tangan adiknya. Benda itu berbentuk oval dan sedikit lebih besar dari kepalan tangan. Yang menarik adalah motifnya. Di matanya, motifnya berkelok-kelok, persis seperti Teluk Yotefa.

Sebelum Albert menyuarakan kekagumannya, gadis muda itu sudah menunjukkan benda aneh itu kepada sang kakak. “Lihat, Kaka. Ini keong bagus.”

Dibukanya telapak tangannya. Dipamerkannya keong bermotif ukiran itu kepada kakaknya. Terlihat benar betapa gadis muda itu bangga dengan keong cantik yang baru didapatnya. Keong itu dibolak-baliknya untuk menunjukkan keelokannya. Tatapannya kepada si kakak begitu manja. Dan betapa elok melihat perhatian si kakak yang begitu penuh kepada adik semata wayangnya. 

“Simpan bae-bae, A.”

“Bae, kaka.” 

Ditangkupkannya kedua telapak tangannya sebagai gerakan menyimpan benda berharga itu.

Mentari mulai memancarkan cahayanya dengan ganas. Laut teramat meti kini. Tanpa dikomando rombongan kecil itu beranjak pulang. 

Harjoyo menyadari satu hal, ketertarikannya yang sangat terhadap gadis itu. Ketertarikan itulah yang mendorongnya untuk selalu ingin pergi ke rumah panggung tempat Albert dan keluarganya tinggal. Sore itu ia memutuskan untuk sekali lagi menemui Albert. Maksudnya melalui Albert, siapa tahu, ia bisa bersua Densemina di sana.

Waktu itu mentari telah lama condong ke arah barat. Cahaya mentari yang lembut berwarna keperakan jatuh ke permukaan laut, membentuk bintang-gemintang persis seperti pendar nyala kembang api. Sementara permukaan air laut makin lama makin tinggi dan perlahan-lahan menelan bibir pantai. 


                                                                                      cerita selanjutnya >>


Penulis: Nunuk Y. Kusmiana
Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2007



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?