Tidak seperti yang termuat dalam buku ilmu pengetahuan alam, kapal awalnya digambarkan sebagai satu titik hitam di kejauhan yang makin lama menjadi garis vertikal sebelum wujud kapal sesungguhnya terlihat. Bukan. Bukan seperti itu yang ia lihat. Kapal itu terlihat benar-benar seperti kapal pada umumnya. Kapal itu berlayar pelan, sangat pelan, melintasi ujung Tanjung Kayu Batu, sebelum merapat di pelabuhan yang berada di dekat pusat kota. Bahkan, ia bisa melihat orang-orang, para penumpang kapal, yang tampak seperti liliput, bergerak ke sana kemari di anjungan. Sebagian dari liliput itu malah melambai-lambaikan tangan ke arahnya.
Kapal itu besar, kuat, dengan jendela-jendela bundar dan persegi yang berjajar rapi di sisi kiri dan kanan lambung kapal. Ia ingat, bukan kapal semacam itu yang dinaikinya, ketika bertolak ke kampung halamannya di Jawa dulu. Kapal yang dilihatnya kini adalah kapal penumpang yang terbilang baru dan bagus kualitasnya. Sementara kapal yang dinaikinya dulu lebih cocok bila disebut kapal barang, meski ada beberapa buah kabin untuk tempat tidur para penumpang.
Harjoyo membalas lambaian tangan seseorang di atas kapal. Entah siapa. Ada sensasi tersendiri saat melakukan itu. Sepertinya ia tengah menjalin kontak dengan sesosok makhluk luar angkasa.
Tepat pada saat itu telinganya menangkap gelak canda sekelompok wanita. Cepat ia menoleh. Benar saja. Di kejauhan ia melihat serombongan wanita berjalan beriring-iringan menaiki bukit. Para wanita itu membawa masing-masing sebuah keranjang dari anyaman pandan yang mereka kaitkan di atas kepala.
Tiba-tiba ada dorongan spontan bergejolak di dalam dadanya. Minggu lalu ia pernah melihat rombongan yang sama itu melintas di depan rumahnya. Ia tahu persis ke mana tujuan para wanita itu. Mereka akan pergi ke hutan kecil di atas Pantai Base-G untuk mencari kayu bakar. Kini, saat melihat rombongan itu lewat lagi, dorongan-dorongan kuat itu kembali muncul. Dorongan-dorongan kuat untuk bergabung dengan para wanita itu, ke mana pun mereka pergi.
“Itu Mama dan saudari-saudarimu, bukan?” tanya Harjoyo kepada Albert, sambil matanya terus mengawasi rombongan para pencari kayu bakar itu.
“Iyo,” balas Albert, si putra Papua, sahabat masa kecilnya.
Albert bahkan tidak merasa perlu menengok ke arah rombongan wanita itu. Gelak canda mereka yang begitu akrab di telinganya sudah menunjukkan jati diri rombongan itu.
“Dorang mo (mereka mau) cari kayu bakar, ’kan? Apakah menurut-ko (kamu) dorang tidak keberatan kalau sa (saya) ikuti?” tegas Harjoyo.
Albert merasa permohonan sahabatnya itu sangat aneh. Sangat tidak biasa. Tapi, melihat kesungguhan yang terpancar dari wajah sahabatnya, akhirnya ia hanya bisa mengangguk. Meski begitu, ia berusaha keras menutupi rasa herannya. Mencari kayu bakar itu urusan kaum wanita. Selama ini tidak tidak pernah ada dalam kamus sukunya kaum pria pergi ke hutan-hutan menebangi pohon untuk diambil kayunya sebagai kayu bakar. Pria hanya pergi ke hutan untuk berburu, bukan untuk mencari kayu bakar.
Albert hanya mengangguk pelan dan berkata pendek, “Pergilah.”
Harjoyo segera melompat dan berlari, setelah mendapat persetujuan itu. Beberapa saat kemudian ia menghentikan larinya. Ia baru sadar Albert tak ikut bersicepat dengannya. Teriaknya, “Ko tidak ikut?”
Albert menggeleng. Ikut dengan para wanita itu? Mencari kayu bakar? Tidak mungkin. Bisa-bisa kaum lelaki sesukunya akan menertawakannya. Hanya banci yang bersedia ikut. Dan, ia bukan banci.
Meski merasa heran dengan keengganan yang ditunjukkan sahabatnya, Harjoyo tidak menyurutkan langkah. Ia berlari kembali mengejar rombongan wanita pencari kayu bakar itu. Di depannya para wanita yang tengah mendaki wilayah perbukitan itu masih asyik bercanda ria.
Rasanya, hampir seabad lamanya ia tak pernah lari naik dan turun bukit. Dulu, saat masih kecil, ia sering berlari naik dan turun bukit seperti saat ini. Menaiki bukit, kemudian berlari turun membuatnya merasa seperti kijang liar. Kijang liar di hutan raya yang bebas menentukan langkah ke mana pun pergi. Tapi, menapaki bukit kini seolah menjadi pengalaman baru baginya. Dalam sekejap napasnya memburu. Sehingga, ia terpaksa memelankan langkahnya, sebelum dadanya sesak karena kehabisan napas.
Napasnya benar-benar hampir putus, kala ia berhasil melangkah di belakang gadis cilik yang berada di ekor iring-iringan. Si gadis cilik merasa ada sesuatu yang aneh di belakangnya. Ia menoleh ke belakang. Sesaat gadis cilik itu merasa heran dengan sosok asing di belakangnya. Pada saat yang lain diamatinya keringat yang menetes deras dari dahi, hidung dan seluruh tubuh orang asing itu. Si gadis cilik tersenyum malu-malu. Sesaat kemudian, masih dengan senyum malu-malu di wajahnya, ia memalingkan wajah ke arah depan.
Tapi, tak lama. Setelah itu dicondongkannya tubuhnya ke arah depan dan berbisik ke gadis cilik sebayanya yang melangkah satu tindak di depannya. Gadis cilik kedua itu kemudian menoleh ke belakang, melihat si pemuda yang masih sibuk mengatur napasnya, dan kembali lagi menoleh ke arah depan dengan menyimpan senyum di wajahnya.
Dalam sekejap kehadiran orang asing di ekor barisan sudah diketahui seluruh rombongan. Hampir setiap wanita di rombongan itu telah menolehkan kepalanya ke belakang, mencari tahu siapakah si penyusup itu. Tapi, rombongan itu tidak lantas berhenti hanya sekadar untuk menyelidiki kehadiran pemuda itu. Mereka meneruskan langkah dengan tetap bercanda ria. Seolah sosok asing di ekor barisan bukanlah sesuatu yang penting untuk diributkan.
Rasanya, hanya seorang wanita yang memerhatikannya lebih cermat. Orang itu adalah wanita setengah baya yang menyunggi tas anyaman besar di kepalanya. Awalnya wanita itu hanya melihat sepintas ke belakang. Tapi, sesaat kemudian ia sengaja keluar dari iring-iringan untuk memastikan penglihatannya. Setelah melihat ke arah si pemuda dan menyakinkan bahwa dugaannya benar baru lah ia menyapa ramah, “Yoyo?”
Yang disapa melihat ke arah penyapanya. Harjoyo mengamati wanita setengah baya itu dengan lebih cermat. Wanita itu sudah tua betul sekarang. Rambutnya yang dulu hitam dan ikal tebal telah memutih di sana-sini. Dan saat ia tertawa hampir seluruh gigi depannya yang menghitam karena sering menyirih, telah tanggal. Tapi, Harjoyo tak akan pernah melupakan wajah itu, tawa itu. Wajah dan tawa ramah dari ibu kandung Albert.
“Selamat siang, Tanta (tante).”
“Kapan datang dari Jawa?” sapa wanita paruh baya itu.
“Minggu lalu, Tanta.”
“Mau tinggal lagi di sinikah?”
“Ah, tidak mo. Cuma liburan saja.”
Setelah jeda sejenak wanita paruh baya itu bertanya lagi, lebih karena rasa herannya, mengapa pemuda sahabat anaknya itu berada di ekor rombongan. “Ko mau ke mana?”
“Mau ikut Tanta mencari kayu. Bolehkah?”
Wanita paruh baya itu mengangguk kecil sebagai jawabannya. Tentu keikut sertaan pria muda untuk mencari kayu bakar dirasakan aneh oleh seluruh rombongan. Tapi, tak ada alasan untuk menolak kehadirannya. Sementara ada satu-dua wanita di tengah barisan yang berusaha menahan cekikikan. Karena, baru pertama kali inilah ada seorang pria mencari kayu bakar.
Setelah percakapan singkat itu, wanita setengah baya itu kembali ke iring-iringan dan melanjutkan langkahnya. Sementara rombongan sudah sampai di balik bukit. Tapi, masih ada satu bukit kecil lagi untuk didaki. Akhirnya, saat rombongan itu tiba di tempat yang dituju, Harjoyo benar-benar sudah kehabisan tenaga.
Saat itu barulah ia sadar mengikuti dorongan hati begitu saja --bergabung dengan rombongan wanita pencari kayu bakar-- adalah perbuatan konyol. Bayangkan, barusan tadi ia telah berlari menaiki bukit, menuruninya, dan berjalan terengah-engah menaiki bukit yang lain lagi. Kalau dihitung ia sudah menempuh jarak sejauh empat setengah kilometer di lahan terjal berbatu di siang hari bolong pula.
Betapa lelahnya. Betapa hausnya. Betapa menderitanya. Sekaligus betapa malunya jika ia harus mengemis air kepada rombongan wanita itu. Itulah kini yang ia rasakan.
Saat itu pandangan matanya liar mencari-cari sesuatu untuk melepaskan dahaga. Tapi, di hutan kecil itu ia tak menemukan air. Setetes pun tidak. Ia tak putus asa. Ia sengaja berjalan menuruni jalan setapak ke arah pantai. Sekali lagi matanya mencari-cari sumber air yang lain seperti tadahan air hujan di bekas belahan batang pisang atau buah-buah kelapa liar di pohonnya. Tapi, sialnya, ia tak menemukan sumber air, juga buah kelapa liar. Ternyata, tak ada satu pun pohon kelapa yang tumbuh di tempat itu.
Matanya nyalang memandangi sekitar. Hutan itu ternyata terdiri dari deretan pohon-pohon pinang, sagu, juga beberapa pohon matoa dan beraneka macam tanaman rambat. Tapi, tak ada pohon pisang juga pohon kelapa yang tumbuh di sana. Celaka dua belas. Pemuda itu mengumpat dalam hati.
cerita selanjutnya >>
Penulis: Nunuk Y. Kusmiana
Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2007