Hampir semua wanita yang sadar kesehatan dan penampilan pernah melakukan diet setidaknya sekali dalam hidupnya. Sukses atau tidaknya, tergantung dari seberapa kuat ‘iman’-nya. Metodenya pun bermacam-macam. Ada yang mengikuti tren diet terbaru dengan segala aturannya yang ribet. Ada juga yang berdiet dengan cara paling sederhana, yaitu mengurangi makan atau tidak makan sama sekali. Lama-kelamaan, rasa lapar pun menjadi sahabat sekaligus musuh.
Nah, ketika seseorang berdiet, terutama yang hanya mengandalkan makan sedikit atau tidak makan, tubuhnya akan kehilangan nutrisi dan energi dari yang biasanya. Gejalanya bukan cuma lapar, tapi juga lemas, mual, pusing dan gampang marah seperti sedang PMS. Yang sering kali tidak disadari, efek yang muncul akibat kurang makan ini bisa panjang.
Menurut dr. Leane Suniar M., MSc, SpGK, ahli gizi dari Rumah Sakit PGI Cikini, ketika tubuh kekurangan asupan makanan, maka tubuh harus menguras cadangan energi dari jaringan lemak dan hati. Makin berat aktivitas Anda, makin banyak cadangan yang tergerus, hati pun bekerja terlalu berat. Kondisi ini membuat tubuh terasa lemas dan lelah berkepanjangan. Jadi perasaan lemas itu tidak selalu karena perut kosong.
Meski tidak terasa langsung, tulang juga bisa terkena dampak dari tubuh yang kekurangan nutrisi. Kalsium adalah komponen utama yang membentuk tulang dan gigi. Mineral ini juga penting untuk bagian tubuh lainnya, seperti saraf, otot, dan jantung, supaya bisa berfungsi dengan baik. Ketika bagian-bagian tubuh lain itu memerlukan kalsium, mereka akan mengambilnya dari makanan. Saat seseorang tidak mendapatkan asupan kalsium yang cukup dari makanannya, tubuh akan mengambilnya dari tulang. “Akibatnya, tulang jadi tidak kuat dan berisiko tinggi mengalami osteoporosis,” kata Leane.
Diet pastinya juga memengaruhi sistem pencernaan dan metabolisme tubuh. Yang biasanya terjadi saat seseorang melakukan diet asal-asalan adalah asupan nutrisi yang tidak seimbang antara karbohidrat, protein, gula, garam, vitamin, dan sebagainya. Nutrisi yang tidak seimbang membuat makanan sulit dicerna secara sempurna, sehingga timbul diare atau konstipasi dan kembung, serta melambatnya metabolisme karena tubuh harus menghemat energi. “Metabolisme yang lambat dapat membuat berat badan naik lagi dengan cepat begitu dietnya selesai,” ujar Leane. Ini yang disebut yoyo diet. Berat naik turun dengan cepat.
Meski penurunan berat badan dapat menurunkan risiko gangguan jantung pada orang yang mengalami obesitas, crash diet bisa sama merugikannya bagi jantung dengan tidak diet. Seperti disebutkan di situs CNN Health, banyak pelaku crash diet atau diet rendah kalori yang kekurangan zat besi, potasium, dan tembaga, sehingga berisiko mengalami gangguan irama jantung dan melemahnya otot-otot jantung akibat kekurangan gizi. Selain itu, yoyo diet juga bisa menyebabkan kerusakan pembuluh darah, yang pada akhirnya meningkatkan risiko serangan jantung.
PRIMARITA S. SMITA