Fiction
Cinta Kala Senja [8]

3 Mar 2012


Surya menatap Lana. Lagi-lagi dia menggeleng. 

“Entahlah. Banyak hal yang belum saya perhitungkan sampai ke sana. Mungkin, saya hanya berharap akan ada sebuah keajaiban kecil. Sebuah harapan kecil bahwa saya akan sembuh. Mungkin tidak ada seorang pun yang bisa mengerti apa yang ada di pikiran saya, karena saya pun terkadang tidak mengerti dengan diri saya sendiri. Apa sebenarnya dosa saya, sehingga Tuhan menghukum saya seperti ini?” 

“Oke,” sahut Lana, gemas. 

“Puluhan tahun saya mencari jawaban tentang apa yang sebenarnya terjadi pada saya. Betapa inginnya saya menjalani hidup normal seperti orang lain. Betapa pahitnya saya harus menyembunyikan aib selama puluhan tahun. Mungkin tak ada seorang pun yang bisa mengerti. Meskipun saya tidak berharap akan ada seseorang yang bisa mengerti, saya sangat mengharapkan bahwa suatu hari kamu akan mengerti,” sebuah kalimat panjang yang terdengar sendu. 

Lana menunduk. Dalam hatinya betapa ingin dia mengerti. 

“Oke. Satu pertanyaan saya yang belum kamu jawab tadi.” Lana mendongakkan kepalanya, menatap Surya tajam. “Boleh saya tahu kenapa kamu memilih saya sebagai korban kamu?”

“Entahlah. Mungkin karena karakter kamu berbeda dari wanita lain,” jawab Surya, perlahan. 

Lana menatap Surya dengan marah sekaligus bingung.

“Berbeda dari wanita lain? Apa maksud kamu saya berbeda dari wanita lain? Karena saya belum menikah pada usia setua ini, sehingga kamu dengan mudahnya bisa mendapatkan saya untuk menikah dengan kamu?” tanya Lana, kembali berapi-api.

Surya menekan-nekan pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut. “Apa pun jawaban saya, tak akan membuatmu puas,” katanya, lirih.

Kali ini Lana tidak menanggapi. Memang benar apa yang dikatakan Surya barusan. Dia tidak akan pernah puas dan tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang bisa membuatnya mengerti.

Surya kembali menatap Lana.

“Oke,” katanya tenang. “Apa pun yang kamu inginkan sekarang, saya janji saya akan berusaha menyanggupinya. Boleh saya bertanya apa yang kamu inginkan untuk langkah kita selanjutnya?”

Lana tidak langsung menjawab. Saatnya untuk melakukan kesepakatan, seperti negosiasi dagang yang selalu dilakukannya saat meeting dengan buyer-buyer di luar negeri.

Lana menghela napas panjang. Sebenarnya, ada satu jawaban yang sudah dipikirkannya masak-masak. Namun, dia sama sekali tidak yakin dengan keputusan yang akan diambilnya.

Lana berdehem.

“Kamu keberatan kalau kita tetap menikah?” tanyanya, ragu. “Saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kita selanjutnya. Mungkin, tidak akan bertahan lama. Namun, untuk saat ini setidaknya saya masih mempunyai muka di depan semua kerabat saya. Ibu saya juga tidak perlu terkena serangan jantung atau stroke, karena mendengar berita pernikahan saya dibatalkan, karena calon menantunya ternyata sama sekali bukan seperti yang diharapkannya.”

Surya menatap Lana lama. “Kamu tidak keberatan menikah dengan seorang pria seperti saya?” tanyanya, bingung. 

Lana mengangkat bahunya. “Saya sudah tidak peduli lagi.”

Lana memainkan jari-jarinya di pangkuannya. Ada satu keinginan yang terus-menerus mengusik pikirannya. Namun, dia tidak tahu apakah permintaannya akan dianggap gila atau tidak.

Advertisement
“Saya menginginkan anak,” kata Lana perlahan.

Surya terenyak. “Anak?!”

“Satu orang anak mungkin akan bisa membuat saya melupakan semua luka dan sakit hati saya terhadap kamu.” Lana merasakan matanya mulai panas. “Bisakah kamu memberikan saya seorang anak? Inseminasi buatan?” tanyanya. 

Kali ini bukan lagi pertanyaan tajam seperti yang dilakukannya tadi. Suaranya kali ini lebih terdengar sebagai suatu permohonan.

Kali ini tatapan Surya seolah mengatakan bahwa Lana sudah gila. 

“Inseminasi buatan?” tanyanya, hati-hati.

“Cuma itu yang bisa membuat saya hamil,” sahut Lana. 

Surya terdiam. 

Dihelanya napas panjang, kemudian diembuskannya keras. 

“Jika saya menyanggupi, kamu akan memaafkan saya?” tanya Surya.

Lana mengangguk mantap. 

Perlahan Surya menganggukkan kepalanya. “Kalau dengan cara itu bisa menebus semua kesalahan saya.”

Lana menyandarkan punggungnya dengan nyaman di kursi penonton. Sore itu suasana lapangan olahraga sepi. Tidak banyak orang tua yang menonton pertandingan sepak bola yang dimainkan oleh anak-anak berusia lima tahun itu.

Senyum lebar selalu tersungging di bibir Lana, saat memandangi seorang bocah laki-laki yang dengan begitu bersemangat mengejar dan menendang bola. Sekali-sekali Lana bertepuk tangan penuh semangat, saat bocah itu mendapat kesempatan untuk menggiring bolanya.

Chris bukan satu-satunya anak yang berwajah Asia di sekolah itu, di antara sekian banyak bocah berambut pirang dan cokelat dengan wajah yang berbintik-bintik.

Daun-daun mulai berjatuhan, tanda musim gugur sebentar lagi akan tiba.

Saat peluit tanda permainan usai dibunyikan, Lana mengulurkan tangannya, menyambut putranya semata wayang yang menghambur ke pelukannya. Disodorkannya botol minum yang disambut antusias oleh Chris.

Perceraiannya empat setengah tahun yang lalu, saat Chris masih ada di dalam kandungan, tidak terlalu banyak memengaruhi kehidupannya. Bagaimanapun, Surya telah memberinya sebuah hadiah terindah yang tidak ternilai harganya.

Kini, di sebuah kota kecil di kawasan New Jersey, dia menjalani kehidupannya yang tenang sebagai seorang ibu. Pendapatannya sebagai seorang guru di sebuah Junior High School tidak sebesar pendapatannya sewaktu di Indonesia. Namun, di sana dia mendapatkan ketenangan batin yang luar biasa bersama Chris. 

Tidak ada orang yang mencemooh statusnya sebagai seorang janda. Di sana tidak ada seorang pun yang ingin tahu akan masa lalunya. 

Angin dingin mulai berembus. Lana mengancingkan jaket Chris dengan hati-hati. Diraihnya tas ransel Chris dan dituntunnya tangan mungil itu menuju tempat parkiran mobil. (Tamat)

Penulis: Yesi Marianti



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?