Siapa sangka satai Indonesia bisa melalang buana ke benua hitam ini. Ya, penjajah Belanda lah yang turut andil dalam penyeberangannya mengarungi samudra.
Budak-budak yang kebanyakan dari suku jawa di bawa oleh Belanda ke Afrika Selatan, menetap disana dan membentuk suatu komunitas yang bernama Cape Malay. Di sinilah asal mula adanya satai di Arika Selatan yang kemudian diadaptasi menjadi kuliner lokal yang bernama sosatie. Kepopulerannya membuat masakan ini ada di hampir setiap restoran dan café, dan secara tidak resmi menjadi makanan nasional Afrika Selatan.
Sosatie biasanya terbuat dari potongan daging kambing yang direndam semalaman dengan bumbu rempah. Bumbu yang terdiri dari rempah-rempah seperti ketumbar, kunyit, asam jawa, cabai dan bumbu kari dimasak terlebih dahulu, lalu dijadikan sebagai bahan perendam.
Bawang Bombay dan buah aprikot kering juga menjadi bahan yang ditusuk disela-sela potongan daging kambing. Ini membuat tampilan sosatie berbeda dengan layaknya satai di Indonesia. Peniadaan bumbu kacang juga membuat menu ini lebih menyerupai shish kebab daripada satai.
Sekali lagi kolonialiasasi bangsa Belanda berandil besar dalam penyebaran satai di Amerika latin. Bukan cerita baru jika pada abad ke 19 bangsa Indonesia, terutama etnis Jawa dibawa oleh Belanda ke Suriname untuk menjadi pekerja perkebunan di sana. Akhirnya bangsa Indonesia pun menetap dan menjadi bagian dari budaya Suriname, tak terkecuali makanannya.
Kepopuleran satai dalam masakan Suriname membuat negara tetangganya, Guyana juga menyukai masakan ini. Munculnya resto-resto makanan khas Suriname di kota-kota di Amerika Serikat tak hanya membuat “satai” atau “satay” jawa dikenal di Negeri Paman Sam, tapi juga beberapa kuliner Indonesia seperti nasi goreng dan soto.
Selama 350 tahun menapakkan kakinya di bumi pertiwi, pastinya banyak kebudayaan Indonesia yang didaptasi oleh bangsa Belanda. Tak heran jika di Amsterdam banyak sekali resto masakan Indonesia atau resto yang menyajikan makanan yang terinspirasi dari kuliner Indonesia.
Kip Satai sebutan dalam bahasa Belanda untuk satai ayam. Ada juga yang membuatnya dari daging babi. Masih disajikan dengan saus kacang tipikal satai jawa. Bukan dengan lontong, ketupat ,tapi terkadang dengan nasi atau kentang goreng dan salad sayuran sebagai penyertanya. Terkadang ada juga yang menambahkan kerupuk udang sebagai camilan. Berbeda dengan di Indonesia yang menjadikan satai sebagai makanan utama, di negeri bunga tulip ini satai menjadi makanan pembuka atau appetizer di banyak café dan restaurant.
Kepopuleran cita rasa satai di negeri Belanda membuat para juru masak disana berkreasi dengan memasukkan rasa satai ke dalam makanan lain. Seperti kroket satai yang banyak dijumpai di snack bar di Belanda. Kroket kentang yang biasanya berisi ragout daging bercampur saus béchamel atau brown sauce, dikreasikan menjadi berisi daging suwir dengan saus kacang.