Tulang betis sebelah kanan Isabelle Fernanda Alves kena peluru nyasar. Perang di tanahnya tak dapat melokalisasi peluru untuk tak pernah jatuh terlalu jauh dari medan perang. Sebutir peluru, entah dari mana, meluncur sampai di rumahnya.
Isabelle duduk. Dijulurkannya tangan meraih bingkai foto di meja obat. Dipandanginya foto itu lekat-lekat. Gambar seorang prajurit, dengan seragam dan senjatanya, berpose di depan segunduk tanah. Prajurit itu tersenyum lebar.
Satu kakinya di atas dahan pohon yang tertancap pada ujung segunduk tanah, seolah menekan orang yang dikubur di situ. Isabelle diberi tahu bahwa itu makam bekas suaminya, Kapten Gustafo Lorez, komandan gerilyawan Aitarak.
Foto itu dikirim si prajurit dari garis depan pertempuran. Sesungguhnya ia tak yakin, apa yang ia rasakan terhadap prajurit itu, meski mungkin bukan orang itu sendiri yang menembak mati bekas suaminya.
Kini senyum lelaki yang selalu memikatnya itu seperti sebuah seringai. Itu membunuh kesan tentang watak lelaki yang hendak menikah dengannya pada Natal tahun depan. Dan itu menyedihkan. Apakah ia tertipu? Apakah Felipe Rojas menipu dirinya?
Tiga tahun sejak perkenalan pertama, apakah ia masih belum memahami kepribadiannya? Isabelle takut salah memilihnya. Ia takut mengakui kalau lelaki itu datang kepadanya hanya di waktu-waktu yang terbaik. Ia tak pernah datang di waktu-waktu dirinya sedang tidak baik.
Suster S membuka pintu. Isabelle Fernanda Alves meletakkan foto ketika didengarnya pintu dibuka.
“Sudah latihan, Nona?” tanya suster. Ia melangkah ke jendela. Dibukanya tirai berwarna bendera tentara pembebasan.
Isabelle Fernanda Alves tak menjawab. Ia mengangkat tangan, melindungi pandang matanya dari sinar matahari yang masuk tanpa penghalang.
“Suster,” panggil Isabelle. Suster sedang mengambil termometer dari nampan kecil. “Kenapa perang ini mesti ada?”
Suster S memandangnya, mengocok termometer sebentar kemudian diselipkan di ketiak Isabelle. “Tidak ada yang menginginkan perang, Isabelle. Tidak ada.”
Suster S melihat foto di atas meja sudah berubah posisi dari ketika ia datang pagi tadi. Ia tersenyum melihatnya.
“Ada kabar dari garis depan. Pasukan Gerinaldo sampai di gereja tua di Bukit Akanunu,” kata suster. Ia tahu Isabelle mengikuti kabar peperangan. Karena kekasihnya seorang pejuang. Prajurit itu.
“Kapankah itu?” tanya Isabelle merespons cepat. Bagaimanapun, ia merindukan Felipe Rojas, prajurit gagah itu. Ia tidak mau tinggal di panti lagi.
“Kemarin sore,” jawab suster.
“Puji Tuhan. Jengkal terakhir tanah kita.” Isabelle melirik foto di atas meja. “Banyakkah korban yang tewas?”
“Kutanyakan itu juga. Prajurit pembawa berita itu betul-betul tolol. Ia bilang sama sekali tidak ada korban. Bisa kau bayangkan? Tidak ada korban, Nyonya. Mana mungkin.”
Isabelle merasa agak tak enak dipanggil nyonya. Itu mengingatkannya pada mantan suaminya yang telah meninggal itu. Lelaki itu berbeda prinsip soal tanah air. Ia ditembak seorang lelaki yang mengambil tempatnya di pikiran dan hati Isabelle.
“Itu bukit yang bagus sekali. Aku pernah ke sana. Orang bisa lihat dataran di sepertiga pulau. Benteng yang harus dipertahankan betul-betul.”
“Ah, ya? Berarti Tuhan memberkatinya,” kata Suster S, tidak terlalu antusias.
***
Ketika burung-burung pipit beterbangan, tampak oleh Isabelle Fernanda Alves, ada jip datang.
“Ada pasien dari garis depan, Suster.”
Suster S menengok ke jendela. Bergegas ia merapikan diri, mengambil dan mencatat sebentar suhu badan Isabelle, lantas segera pergi.
Isabelle mencoba berdiri, hendak melihat dari jendela, meyakinkan dirinya, itu bukan lelaki itu. Kakinya menapak pelan. Ia tahan nyerinya. Sebentar saja, ia kembali tiduran di pembaringannya.
Bukankah Felipe Rojas selalu bersama Kolonel Gerinaldo? Mereka sudah menguasai Bukit Akanunu. Isabelle Fernanda Alves lekas berdoa. Dibacanya doa Bunda Maria, dengan hati yang berderap. Tidak boleh! Jangan ada prajurit lagi yang mati. Demikian pintanya.
Siang ini panas. Bayang-bayang tembok rumah seberang jalan, bayang pepohonan, sama-sama hampir menghilang. Semestinya bulan Februari masih ada hujan. Nyatanya belum ada hujan yang jatuh sejak tahun baru.
Isabelle Fernanda Alves melihat dari jendela, orang-orang mengangkat keranda yang ditutup bendera tentara pembebasan melintas. Para perawat dan dokter turut pula. Ia berdiri, coba melangkah ke depan jendela.
Apakah prajurit tadi tidak selamat? Apakah lukanya terlalu berat, dan perban dari garis depan tidak dapat menghentikan darahnya keluar? Pikir Isabelle. Ia hanya melihat lewat jendela. Rombongan itu sudah berbelok lenyap di balik pagar batu. Isabelle berdoa buat semua prajurit yang tewas untuk harapan masa depan lebih baik.
Tahu ada pasien datang dari garis depan pertempuran, Suster S bergegas ke luar kamar pasien Isabelle Fernanda Alves. Ia selalu khawatir ketika jip datang, karena selalu ada yang tak selamat, meninggal di perjalanan.
Kekhawatiran Suster S terbukti. Ia menangis melihat siapa yang didorong dengan ranjang rumah sakit. Suaminya! Itu suami Suster S yang pergi mengangkat senjata, memperjuangkan apa yang berseberangan dengan pemikirannya. Ia membela opsi kemerdekaan, sedang Suster S membela opsi otonomi. Namun, sebagai tenaga medis, Suster S membaktikan dirinya untuk siapa pun yang terluka, yang sakit, meski berlawanan pandangan politik.
Tentara itu belum mati. Ia hanya pingsan sejak mulanya. Peluru bersarang di dada kirinya. Barangkali tidak sampai kena jantung, sehingga ia tak mati seketika. Meski begitu, arterinya robek, hanya keajaiban saja nyawanya selamat. Suster S menjaganya dengan segenap kecemasan.
Namun, dokter yang memeriksa kondisi tentara itu mengangkat tangan. Suster S menangis sejadi-jadinya. Sebenarnya ia menyesal atas apa yang terjadi. Ia telah mengurus surat pengajuan perceraian. Tetapi, tiga tahun sudah, administrasi surat semacam itu terkatung-katung di masa perang.
Pada saat begini, Suster S merasa dekat. Ia ingin kembali bersama suaminya itu ke rumah. Tak peduli di mana negerinya. Tetapi, prajurit itu akhirnya wafat.
Suster S hendak pergi ke kamar Isabelle Fernanda Alves begitu suaminya wafat. Tetapi, sampai di muka pintu, ia urungkan niatnya. Kesedihannya adalah miliknya. Karena, tentara yang baru wafat itu masih miliknya.
Isabelle Fernanda Alves di dalam kamar memandangi foto kekasihnya. Dibayangkannya apakah ia dapat menjadi istri yang baik, dan apakah prajurit itu bisa jadi suami yang baik untuknya. Lupa ia pada kaki yang tak patut di atas nisan bekas suaminya.
Isabelle masih memikirkannya ketika di luar jendela, orang-orang berjalan tergesa-gesa. Sebuah keranda dibopong orang. Isabelle tahu itu prajurit yang tewas. Ia menangis lagi, prajurit yang baru datang tadi tak cukup hebat menahan nyawanya. Lagi ia panjatkan doa untuk prajurit Felipe Rojas agar selamat.
Isabelle sekali lagi melihat orang-orang kembali ke rumah sakit. Pemakaman selesai.
***
Sore hari Suster S datang ke kamar Isabelle. Ia membawa bukunya, untuk mencatat kondisi pasien.
“Siapa ia, Suster? Sersan atau mayor?” tanya Isabelle, ketika dilihatnya Suster S datang. Ia bayangkan jumlah orang yang mengantar dengan jip tadi, ia pikir tentu bukan prajurit rendahan.
“Prajurit,” jawab Suster, singkat. “Ayo, saya bantu latihan berjalan, Isabelle,” kata Suster. Ia meraih lengan Isabelle, memapahnya berdiri. Isabelle melihat mata Suster S sembap. Habis menangis, pikirnya. Ia menurut untuk bangun berdiri.
Suster S memandang lagi foto dalam pigura di meja obat Isabelle. Diambil dan dipandanginya lekat-lekat. Isabelle melihat Suster S seperti memikirkan sesuatu, terus memandang foto kekasihnya.
“Kami akan menikah pada Natal tahun depan,” kata Isabelle.
“Aku ingin cerita sesuatu padamu,” kata Suster menoleh, memandang mata Isabelle. Tiba-tiba keresahan menghantam dirinya. Ia menyesali perkataan barusan. Ia mengembalikan foto itu ke tempat semula.
Isabelle Fernanda Alves menangkap suasana wajah Suster yang berubah. Tampak kegelisahan di wajahnya. “Katakanlah, Suster. Tentu saya akan suka mendengarkan,” katanya.
“Mmm...,” Suster S merasa gagal mengatasi kegundahannya. Prajurit Felipe Rojas masih suaminya. Ia belum menikah dengan Isabelle, perempuan di depannya. Ia takut kabar itu merusak harapannya. Suster S memandangi lagi foto tentara di atas meja. Katanya, “Lelaki yang gagah, ya, Isabelle?”
Isabelle Fernanda Alves tahu Suster sedang merasa resah atau perasaan serupa itu. Ia memaklumi pertanyaan yang aneh tadi, sambil tetap menjawabnya. “Tentu saja, Suster. Prajurit bintang satu Felipe Rojas, prajurit kawal Kolonel Gerinaldo.”
Suster S berangsur-angsur pulih dari rasa jengahnya. Ia telah menegaskan dirinya agar menutup kabar Felipe Rojas. Ia berjanji untuk merawat Isabelle Fernanda Alves seperti adiknya sendiri. Karena ia sudah tak punya siapa-siapa lagi di dunia.
Ia akan pikirkan bagaimana caranya menghilangkan foto lelaki itu, tak hanya dari meja Isabelle. Ia akan menghilangkan lelaki itu dari harapan dan doa-doa Isabelle.
Tepat saat itu, burung-burung pipit beterbangan dari halaman rumah sakit. Isabelle Fernanda Alves melihatnya. Satu lagi prajurit yang terluka pulang dari medan perang. Dalam hatinya, ia berdoa dan berharap, itu bukan Felipe Rojas.
Meskipun memang bukan, Isabelle bersedih untuk perang yang belum selesai. Pikirannya bertanya, berapa prajurit lagi yang akan luka dan tewas? Suster tersenyum melihat burung-burung kecil itu, dan berkata, “Betapa senangnya menjadi burung pipit. Ia terbang dan hinggap, tak peduli di tanah dan udara negara apa.”
Gatot Prakosa