Perlahan peti jenazah itu dimasukkan ke liang lahat. Ranti dan kedua adiknya ikut menyaksikan untuk terakhir kali tubuh ayah mereka yang dibungkus kain kafan. Dari tanah kembali menjadi tanah, demikian yang diisyaratkan dalam kitab suci. Semua manusia pada akhirnya akan mati. Ranti harus mengikhlaskan kepergian orang tua yang sangat dicintainya itu.
Tak ada firasat atau tanda sakit sebelumnya. Kematian ayahnya yang sangat mendadak terkesan tak wajar, menimbulkan banyak tanda tanya. Namun, ia hanya bisa menyimpan keganjilan itu dalam hati. Ia berjanji akan menguak misteri di balik kematian sang ayah. Jika benar seperti dugaannya ada seseorang yang sengaja membunuh ayahnya, sungguh Ranti tak akan bisa memaafkan. Dia akan terus mengejar orang itu ke mana pun, sampai ke ujung dunia sekalipun!
Ibu masih terbaring di kamar saat Ranti pulang dari makam. Ibu masih shock berat oleh kematian suaminya. Mungkin tak pernah terbayang dalam benaknya akan ditinggal pergi sang nakhoda rumah tangga secepat ini, apalagi dengan menanggung tiga orang anak yang satu pun belum ada yang mentas. Ranti bisa merasakan kepedihan dan kesedihan ibunya. Hati wanita paruh baya itu sangat ringkih.
“Bagaimana Ibu, Mbak?” tanya Danu, adik laki-lakinya nomor dua, saat Ranti baru saja keluar dari kamar sang ibu.
“Ibu masih tidur. Biar saja dia istirahat. Nanti kalau perasaannya sudah tenang, baru kita bisa mengajaknya bicara,” kata Ranti, seraya mengempaskan pantatnya di kursi.
“Oh ya, mana Diah?”
“Ada di kamar, Mbak. Kelihatannya dia juga masih sangat shock dengan kematian Bapak.”
“Tolong, kamu hibur dia agar jangan berlama-lama bersedih. Dia harus kuat. Kamu sendiri juga harus kuat, Nu. Kita semua harus kuat dan tabah menghadapi musibah ini. Kepergian Bapak bukan akhir segalanya!” Saat mengucapkan kalimatnya Ranti sendiri tak yakin apakah dirinya cukup kuat menghadapi kenyataan pahit ini. Namun, sebagai anak tertua, Ranti ingin memberikan suntikan semangat pada keluarganya.
Tujuh hari telah berlalu….
Awan duka perlahan beringsut pergi dari rumah keluarga Ranti. Ibu Ranti sudah beranjak dari pembaringan. Meski rona pucat dan lesu masih membayangi wajahnya, wanita itu sudah bisa menepis kesedihan hatinya. Dia sudah mulai turun ke dapur dan sibuk berbenah rumah. Ranti dan kedua adiknya pun kembali pada kesibukan masing-masing. Mereka mulai membuka lembaran hidup baru tanpa kehadiran sang kepala keluarga.
Saat merapikan meja di kamarnya yang juga berfungsi sebagai meja kerja, tiba-tiba Ranti menemukan sepucuk surat terselip di antara tumpukan buku. Sebuah surat undangan yang luput dari perhatiannya, karena terlalu sibuk mengurus pemakaman ayahnya kemarin. Ranti segera merobek sampul surat dan membaca isinya. Ternyata undangan pertemuan antara jajaran muspika kecamatan dan warga petani dengan PT Multikarya Utama sebagai supplier pupuk non-organik.
Dalam surat undangan itu tertera tanggal pertemuan satu hari setelah pemakaman ayahnya. Ranti tak ingat betul, siapa yang memberikan surat ini. Perasaan, bukan dirinya yang menerima langsung. Sayang, surat ini sudah kedaluwarsa sehingga Ranti tak bisa menghadiri acara tersebut. Padahal, acara tersebut sangat penting artinya buat dirinya, terutama buat kaum petani di daerah ini. Karena, pertemuan itu menyangkut masa depan dan nasib mereka.
Sebagai ketua perwakilan LSM Gema Pertiwi yang bergerak dalam bidang advokasi, perlindungan, dan penyuluhan pertanian, Ranti kerap mengampanyekan program pertanian ramah lingkungan yang bebas pestisida dan rekayasa genetika. Dia mengemban amanah menyehatkan masyarakat petani sekaligus meningkatkan derajat hidup mereka. Selama ini kaum petani di Indonesia diperlakukan tak ubahnya sapi perahan. Mereka dipaksa menggenjot produksi pertanian sebesar-besarnya tanpa mendapatkan imbalan setimpal.
Tak heran bila mereka tetap saja hidup miskin. Hasil pertanian mereka, entah berupa gabah atau hasil bumi lainnya, dihargai murah. Padahal, saat komoditas pertanian itu sudah sampai di tangan pedagang atau beredar di pasar, harganya melonjak dua kali lipat. Tengkulak dan para pedaganglah yang mengeruk keuntungan dari hasil jerih payah mereka. Kaum petani yang menanggung beban biaya pertanian, mulai dari pembelian benih, pengolahan lahan, pupuk, dan pemanenan.
Ranti segera mengambil ponselnya. Dia menelepon Jarwadi, rekannya di LSM Gema Pertiwi. Biasanya, jika dirinya berhalangan hadir dalam suatu acara, Jarwadi yang mewakili. Dia ingin tahu bagaimana hasil pertemuan di kantor kecamatan itu. Sayang, nomor Jarwadi sedang tidak aktif. Berkali-kali Ranti mencoba menelepon, tapi selalu dijawab oleh operator bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif atau berada di luar area. Ranti tak sabar lagi, dia segera beranjak dari tempatnya.
“Mau ke mana kamu, Ran?” tanya ibunya, yang sedang menyapu halaman saat Ranti bersiap menaiki sepeda motor bebek keluaran tahun 2005 peninggalan ayahnya.
“Mau ke rumah Jarwadi sebentar, Bu,” jawab Ranti.
“Rumah Jarwadi kan jauh, apa tidak menunggu adikmu pulang dulu. Biar kamu diantar oleh Danu.”
“Tidak usah, Bu. Aku bisa sendiri, kok. Aku pamit dulu….”
“Hati-hati, Nak!”
Ranti tak sempat mendengar ucapan ibunya, karena dia sudah keburu melesat dengan motor bebeknya.
Rumah Jarwadi memang cukup jauh. Laki-laki yang sudah beristri dan beranak dua itu tinggal di Desa Blarakan. Kurang lebih lima kilometer dari Desa Winangun, tempat tinggal Ranti. Letak desa itu juga di daerah pegunungan, sehingga perjalanan ke sana mesti melalui jalan mendaki dan menurun. Sangat terjal karena badan jalan sebagian masih berupa padat karya. Apalagi mesti melalui bibir sungai dan jurang dalam.
Tapi, sebagai putri daerah, Ranti sudah hafal dan terbiasa dengan kondisi medan seperti itu. Sebagai pegiat LSM pertanian, dia kerap bertandang ke desa-desa sekitar untuk menyampaikan penyuluhan. Kehadirannya di tengah kaum petani ditanggapi beragam: ada yang suka dan ada pula yang tidak suka. Sebagian masyarakat masih berpikiran negatif dan miring. Mereka beranggapan, LSM kerjanya cuma membikin resah dan memecah belah masyarakat.
Pandangan semacam itu lahir dikarenakan para pegiat LSM kerap melakukan aktivitas yang terkadang bertentangan dengan kebijakan pemerintah atau tidak sesuai dengan kebiasaan umum. Mereka tidak memahami bila keberadaan LSM yang independent dan bebas dari kepentingan pribadi justru bisa menjadi seimbang dan kontrol bagi kebijakan penguasa yang keliru atau tidak berpihak kepada rakyat. Sebab, tujuan didirikannya LSM semata untuk membantu masyarakat. Membangun kehidupan masyarakat madani yang cerdas dan mandiri.
Tapi begitulah, tidak semua niat baik dianggap baik, terutama bagi mereka yang ingin mempertahankan status quo atau kepentingan pribadi. Seperti halnya usaha Ranti bersama LSM-nya yang ingin mengembalikan budaya agraris di Indonesia yang sangat bergantung pada pupuk kimiawi dan pengolahan pertanian tak ramah lingkungan kepada budaya pertanian organik atau bertumpu pada alam, istilahnya back to nature. Salah satu pihak yang berseberangan dengan upaya Ranti adalah PT Multikarya Utama, pemasok pupuk kimia dan pestisida terbesar di daerah ini!
Kerisauan terbesar Ranti dengan adanya acara pertemuan di kantor kecamatan beberapa hari lalu itu adalah bilamana telah terjadi kesepakatan tertulis antara PT Multikarya Utama dengan perwakilan kelompok-kelompok tani sekecamatan. Karena, jika hal itu sampai terjadi, maka gagal sudah perjuangannya ‘menyehatkan’ dan ‘memandirikan’ pelaku pertanian di daerah ini. Karena mereka akan terikat kontrak dan bergantung pada perusahaan ‘pencemar lingkungan’ itu!
Rumah Jarwadi terlihat sepi dari luar ketika sepeda motor Ranti memasuki halaman. Ranti khawatir rekannya itu tidak ada di rumah. Tapi, ia melihat sepeda motor Jarwadi ada di teras.
“Assalamu’alaikum…?” sapa Ranti di depan pintu.
“Wa’alaikumsalam…!” terdengar suara Jarwadi menyahut dari dalam sambil berjalan.
Ketika pintu terbuka, sejenak Ranti dibuat tertegun memandang rekannya itu. Tangan kanan Jarwadi tampak diplak perban, seperti orang baru kecelakaan.
“Kenapa kamu, Jar?” tanya Ranti, kaget.
“Tidak apa-apa, Ran. Cuma kecelakaan kecil, jatuh dari motor,” jawab Jarwadi, kalem.
“Kapan? Patah, nggak?” tanya Ranti.
“Tidak patah, cuma terkilir. Kemarin waktu aku pulang dari rapat, motorku masuk jurang. Ayo, masuklah. Kok, tidak bilang-bilang kalau mau datang,” kata Jarwadi, seraya berjalan mendahului Ranti menuju sofa.
“Aku tadi meneleponmu, tapi ponselmu tidak aktif,” sahut Ranti, seraya duduk di hadapan tuan rumah.
“Sorry, ponselku ikut rusak waktu aku jatuh dari motor. Sementara nomorku tidak aktif.”
“Istrimu mana, Jar?”
“Ada di belakang. Lagi masak. Bagaimana keadaan ibumu? Sudah sehat, ‘kan?” Jarwadi balik bertanya.
“Ibu sudah baikan. Oh, ya, aku mau tanya soal acara pertemuan di kecamatan itu. Kamu datang, ‘kan?”
Jarwadi mengangguk pelan. Wajahnya tiba-tiba berubah lesu.
“Bagaimana hasilnya?” cecar Ranti tak sabar.
“Seperti yang diharapkan mereka…,” jawab Jarwadi, lirih.
“Maksudmu?”
“Mereka berhasil membujuk para petani membuat kontrak kerja sama pembelian pupuk selama sepuluh tahun!”
“Apa…?!” Ranti terkejut bukan main. Wajahnya tiba-tiba berubah meradang, buku tangannya terkepal keras.
“Aku sudah berusaha, Ran. Tapi, suara kita kalah dalam floor. Tidak ada satu pun yang mendukung proyek kita. Banyak kepentingan bermain dalam pertemuan itu, apalagi di-backup oleh penguasa. Bisa apa kita?” Jarwadi mencoba membela diri dengan nada pasrah.
Ranti tercenung. Hatinya sedih sekaligus marah mendengar penjelasan Jarwadi. Dia bisa memahami posisi Jarwadi. Rekannya itu tidak dalam posisi kuat untuk berdiplomasi. Jarwadi butuh dukungan dari orang lain atau pihak-pihak yang sepaham dengannya. Tiba-tiba Ranti menyesali dirinya. Andai saja saat itu dia hadir, dia bisa mencegah agar hal itu tak terjadi. Paling tidak dia bisa menegosiasikan beberapa ketentuan kontrak kerja sama yang tidak merugikan petani.
Tapi entah, sedang sial atau memang bukan keberuntungannya, di saat krusial semacam itu dia sedang dihadang berbagai permasalahan, terutama menghadapi kematian ayahnya yang tiba-tiba. Ranti tak tahu, apakah ini suatu kebetulan atau ada unsur kesengajaan. Terlalu sumir mengaitkan antara kematian ayahnya dengan acara pertemuan itu. Tapi, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Mungkin saja ada rekayasa di balik semua ini!
Sepulang dari rumah Jarwadi, Ranti duduk termenung di beranda. Banyak hal yang sedang dipikirkannya. Pikiran tentang kematian ayahnya, acara pertemuan di kecamatan itu, sampai kecelakaan yang menimpa Jarwadi. Semua kejadian itu seakan saling berkaitan satu sama lain.
Masih terekam jelas dalam ingatannya peristiwa ketika ayahnya meninggal. Saat itu ia berada di kantor Gema Pertiwi, sedang rapat dengan rekan-rekannya membahas proyek ‘Pengolahan Lahan Pertanian Bebas Pestisida’. Tiba-tiba ponselnya berdering. Danu mengabarkan bahwa Bapak dibawa ke RSUD dalam keadaan kritis. Wajah Ranti pucat pasi. Tanpa pikir panjang dia segera meluncur ke sana.
Sayang, sesampai di RSUD ayahnya sudah tak bernyawa. Dokter menyatakan, laki-laki enam puluh tahun itu mengalami serangan jantung. Ranti tak kuasa menahan histeris. Dia menangis sejadi-jadinya. Padahal, masih diingatnya pagi tadi ayahnya masih berangkat ke sawah. Tubuhnya masih segar bugar. Tak terlihat tanda-tanda sakit sebelumnya.
Sepertinya ada yang janggal. Itulah yang kemudian memunculkan niat Ranti mengautopsi jenazah ayahnya sebelum dikubur. Meski hal itu sempat ditentang oleh keluarganya, Ranti bergeming. Dia juga telah melaporkan kejadian ini kepada polisi, meski belum jelas apa motifnya. Mungkin untuk mencari kepastian saja, apakah ayahnya mati secara wajar atau ada sesuatu yang menjadi penyebab kematiannya.
“Mbak…,” sebuah teguran membuyarkan lamunan Ranti. Gadis itu segera menoleh. Ternyata Danu yang datang.
“Kamu sudah pulang, Nu?” sahut Ranti.
“Ya, Mbak. Tadi Mbak dari mana?” Danu balik bertanya.
“Aku dari rumah Jarwadi, menanyakan soal acara pertemuan beberapa hari lalu di kantor kecamatan. Sayang aku tak bisa hadir karena bertepatan dengan meninggalnya Bapak. Oh ya, kamu tahu siapa yang kemarin memberikan surat undangan itu?”
“Surat undangan yang mana?”
“Itu, yang ada di mejaku. Surat atas nama Gema Pertiwi….”
“O, itu. Aku yang meletakkannya, Mbak.”
“Kok, tidak pernah bilang sama aku?” Nada suara Ranti meninggi.
“Lupa. Lagian waktu itu kita sedang panik oleh kolapsnya Bapak!”
“Seharusnya kamu bilang sama aku! Kamu tahu nggak, surat itu sangat penting artinya. Gara-gara aku tak membaca surat undangan itu, aku tak bisa datang dalam pertemuan di kecamatan. Semua proyek yang sedang kuperjuangkan, jadi gagal total dan hancur berantakan!”
“Mbak, kok, nyalahin aku, sih?” Danu mulai tak suka mendengar nada bicara kakaknya yang terkesan menyalahkannya.
“Ya, bagaimana tidak. Kamu kan tahu, selama ini aku dan teman-teman sedang memperjuangkan proyek penyehatan lahan pertanian di daerah ini agar bebas dari pestisida. Kita sedang menjalankan proyek mulia. Tapi, apa yang terjadi sekarang? Perusahaan perusak lingkungan itu telah berhasil memikat kaum petani dan mengikat kontrak kerja sama selama sepuluh tahun. Andai saja pada acara pertemuan itu aku bisa datang, hal itu tak akan terjadi!” tegas Ranti dengan kesal.
“Sudahlah, Mbak. Tidak usah dibahas lagi, toh, sudah lewat…,” kata Danu enteng saja seraya beranjak ke ruangan dalam.
Ranti tak puas dengan tanggapan adiknya. Dia segera menyusul ke dalam.
“Apa kamu bilang, Nu?” ujarnya, seraya menepuk pundak adiknya.
“Aku bilang tak usah dibahas lagi. Kejadiannya sudah lewat. Lagi pula, apa ruginya Mbak mempersoalkan hal itu? Ini bukan soal besar!” timpal Danu, agak ketus.
“Kamu bilang ini bukan soal besar?” Ranti melotot gusar. “Soal ini sangat besar, Nu! Ini menyangkut masa depan kita semua, menyangkut nasib bangsa ini. Kamu tahu nggak, banyak orang mati keracunan karena penggunaan pestisida yang berlebihan. Hidup kita terancam oleh berbagai produk pertanian yang tercemar pestisida. Lingkungan kita juga rusak karena pestisida! Produk pertanian kita tidak boleh memasuki pasar dunia karena terkontaminasi pestisida! Kita rugi besar karena pestisida!”
“Mbak terlalu membesar-besarkan persoalan! Seolah-olah dunia ini mau kiamat saja. Sudahlah, Mbak. Jangan terobsesi dengan perjuangan Mbak. Lagi pula, apa yang Mbak dapat dari perjuangan itu? Tidak ada! Justru apa yang Mbak lakukan dengan teman-teman Mbak itu membawa malapetaka dan kerugian!” desis Danu, tak kalah gusar.
“Membawa malapetaka dan kerugian, apa maksudmu?”
“Coba Mbak pikir, sejak Mbak berkoar-koar mengampanyekan program kawasan pertanian bebas pestisida, muncul banyak masalah di keluarga kita. Sudah berapa kali rumah kita dilempari batu dan kotoran? Sudah berapa banyak surat kaleng dan teror yang diterima Mbak sampai-sampai Ibu jadi ketakutan? Hidup kita jadi tidak nyaman dan tenang semenjak Mbak kerja di LSM! Kenapa Mbak tidak biarkan orang-orang itu menentukan pilihannya sendiri! Ini negara demokrasi, Mbak tidak bisa memaksakan kehendak pada semua orang!”
“Aku tidak memaksakan kehendak pada semua orang, Nu! Aku hanya ingin menyadarkan mereka tentang bahayanya ketergantungan dunia pertanian kita pada pestisida. Sudah wajar dalam perjuangan ada yang pro dan kontra. Itu merupakan risiko perjuangan. Yang penting mereka tidak sampai berbuat anarkis. Mbak melakukan semua ini demi kepentingan bersama dan untuk masa depan!”
“Sudahlah, Mbak. Sebaiknya Mbak hentikan perjuangan Mbak itu sebelum jatuh korban baru!”
“Jatuh korban baru? Apa maksudmu?”
“Apakah Mbak tidak berpikir, kenapa Bapak bisa sampai kena serangan jantung? Kenapa Bapak mati secara mendadak?”
Ranti tercekat. Wajahnya terkesiap. Hatinya tersengat mendengar ucapan adiknya. “Jadi kamu mengaitkan kematian Bapak dengan kegiatanku…?” ucapnya, dengan bibir bergetar.
“Bisa saja, ‘kan? Karena Bapak tak kuat lagi mendengar celotehan orang-orang di luar tentang Mbak!” tandas Danu.
Ranti terdiam. Tubuhnya gemetar hebat. Dia tak pernah berpikir bahwa jantung ayahnya kolaps gara-gara dirinya.
“Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut? Ibu dengar dari luar kalian seperti sedang bertengkar?” Tiba-tiba Ibu muncul dan bertanya heran.
“Ini, Bu, Mbak Ranti ngajak ribut duluan,” dengus Danu, kemudian berlalu ke dalam kamarnya sambil bersungut-sungut.
Ibu menoleh kepada Ranti. “Apa yang kalian ributkan? Ada persoalan apa?”
Ranti tidak langsung menjawab. Hatinya masih kelu dengan ucapan Danu tadi. Ia pun tak ingin membicarakan hal ini dengan ibunya. Takut membuat hati wanita itu tambah shock dan sedih.
“Ah, nggak ada apa-apa, kok, Bu. Cuma soal kecil,” kata Ranti, mencoba menepis kecemasan ibunya.
“Ya, sudah kalau tidak ada apa-apa. Ibu tidak mau, setelah Bapak tiada keluarga kita jadi tercerai-berai. Sebagai anak tertua, kamu harus bisa menggantikan tugas bapakmu membimbing adik-adikmu,” kata Ibu.
Sejak perdebatan dengan adiknya itu, perasaan Ranti makin dibuat gundah dan resah. Apa yang dikatakan Danu bukan tanpa alasan. Aktivitas Ranti di LSM menjadikannya kerap berhadapan dengan berbagai masalah, terutama penerimaan dari orang-orang di sekitar. Banyak orang tidak suka dengan sepak terjangnya. Dan ini kemudian berimbas pada kehidupan keluarganya.
Penulis: Eko Hartono