Perlu diperhatikan juga, saat liburan, jangan fokus pada kegiatan yang Anda inginkan, tapi apa yang menyenangkan buat anak. Dari pengamatannya, Ani kerap melihat orang tua terkadang menganggap pergi ke tempat-tempat yang kita anggap menyenangkan adalah liburan, padahal belum tentu itu menyenangkan bagi si anak.
Anak yang mulai beranjak remaja, mungkin lebih senang main video game dan mendengarkan musik di rumah ketimbang pergi-pergi. Atau anak sebetulnya tidak ingin pergi jauh-jauh ke luar kota, ia hanya ingin berenang dan menghabiskan waktu dengan ibunya yang jarang ia temui di hari kerja.
Jangan langsung marah ketika anak memasang wajah cemberut atau menunjukkan ia tidak suka. Atau mengatakan bahwa anak tidak tahu terima kasih padahal sudah diajak liburan. Sebagai orang tua, Anda harus peka. Mungkin kegiatan itu kurang fun baginya.
Anda tidak boleh memasang target yang muluk-muluk. Jangan Anda pikir, anak itu pasti akan peduli lingkungan atau sosial. Anda hanya bisa memberi jalan, tapi hasilnya tergantung anak itu sendiri. Jangan samakan ia dengan Anda. Ia bisa punya pendirian dan pemikiran yang berbeda dari Anda.
“Liburan itu yang penting harus fun. Kalau sudah tidak menyenangkan, itu tandanya bukan liburan yang sukses. Kalau tidak menyenangkan, anak itu akan kapok nantinya. Kalau hasilnya jadi lebih berempati dan pintar, itu adalah bonus,” pesan Ani.
Nuri Fajriati
Foto: Corbis