True Story
Rosida yang Terabaikan

25 Feb 2016



Sejak masuk dan dirawat di RSKD, Rosida bisa kembali merasa hidup. Tubuhnya bersih dan wajahnya terlihat cerah. “Saat saya tanya, ada yang sakit enggak? Rosida menjawab, ‘enggak’,” ungkap Shanti, mengulang obrolan kecilnya dengan wanita bertubuh mungil itu. “Saya tetap semangat. Saya ingin sembuh,” tekad Rosida saat itu.

Dokter Adil Pasaribu, SpB yang sore itu datang mengunjungi Rosida juga merasa cukup optimistis dengan perkembangan pasiennya itu. “Secara psikis kondisinya cukup baik. Kontaknya bagus. Dia bisa mengeluhkan apa yang dirasakan, dan masih punya keinginan-keinginan,” jelas ketua tim paliatif RSKD, yang datang untuk memberi dukungan spirit pada Rosida, ini.
Advertisement

Namun, senyum Rosida hari itu rupanya menjadi senyum terakhirnya untuk saya. Keesokan harinya, kesadaran Rosida terus menurun, akibat HB yang juga sangat rendah, sehingga ia harus terus mendapatkan transfusi darah. “Kamis (11/2) pagi, ia sempat membuka mata dan minta minum ketika namanya saya panggil-panggil. Tubuhnya sudah dipasangi monitor, dan tensinya rendah sekali, sekitar 90/70,” cerita Nelly.

Sementara itu, menurut cerita pasien yang bersebelahan dengannya, semalaman hingga Jumat (12/2) subuh Rosida terus memanggil-manggil nama putranya, Zaenal. Entah, apa yang hendak disampaikannya kepada putranya itu. Mungkin rasa rindu seorang ibu, atau salam perpisahan. Sebab, Jumat hari itu juga, tepatnya pukul 08:07 WIB, Rosida berpulang ke Sang Pencipta. Selamat jalan, Rosida!
 


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?