Sebelum sakit, Rosida menjadi pembantu rumah tangga di beberapa keluarga untuk membiayai hidup. “Dia tidak suka beberapa orang mengecapnya sebagai luntang-lantung saja tanpa tujuan,” ungkap Nelly Harsapuny, psikolog klinis dari Instalasi Rehabilitasi Medik RSKD, mengutip curahan hati Rosida. Meski secara status ekonomi dan sosial serba berkekurangan, ia tidak ingin orang merendahkannya. “Hargai saya sebagai manusia,” ungkap Rosida waktu itu.
Rosida memang sosok wanita yang tegar dan kuat. Rosida tetap melakoni bagian skenario hidup yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Meski ia harus menjalaninya sebatang kara, tanpa dukungan dari almarhum suami yang bahkan telah menelantarkannya sejak lama. Dan, tanpa perhatian dari putra semata wayangnya, Zaenal, yang memutuskan pergi tak berkabar karena masalah keluarga.
Bahkan, ketika ia mulai sakit-sakitan dan tinggal sebatang kara, ia tetap ulet membiayai hidup seorang diri. Selama itu ia hidup dari menjual botol-botol bekas yang dikaisnya dari tempat-tempat sampah. Sel ganas kanker yang menimbulkan nyeri luar biasa di payudara kanannya ditelannya bulat-bulat seorang diri. “Menurut pengakuan saudara-saudaranya, selama sakit Rosida tidak pernah minta ini itu. Lantaran inilah mereka juga tidak berinisiatif untuk membawa Rosida ke puskesmas,” lanjut Nelly.
Sama seperti ketika ia dipindahkan ke dalam gerobak pemulung, lantaran protes penyewa kamar lain yang terganggu oleh teriakan kesakitan Rosida dan bau busuk yang menguar dari kamarnya. Rosida pasrah, tak melawan, dan menerima takdirnya dengan tabah. “Saya tahu ada sesuatu di payudara saya, tapi saya tidak punya biaya,” ungkap Rosida, yang telah 4 tahun hidup bersama sel ganas kanker.
Kakak Rosidalah yang menyewakan kamar itu untuknya. Sebelumnya, Rosida tinggal secara bergilir dari saudara yang satu ke saudara yang lain. Di kontrakan tersebut, Rosida hanya tidur beralaskan tikar seadanya. Dan, karena ia tidak bisa berdiri, maka buang air pun dilakukan di tempat yang sama.
Menurut pengakuan yang diterima Shanti, selama itu saudara-saudaranya hanya datang untuk memberi makan, tapi tidak memandikan atau merawat luka Rosida. “Mereka takut tertulari oleh penyakitnya,” ujar Shanti, mengulang penjelasan saudara-saudara Rosida. Bisa dibayangkan betapa buruk kondisi Rosida selama itu, dan betapa tidak sedap bau yang menguar dari kamar tidurnya.