Foto: Dok. Pribadi
"Ikuti saja aturan pemerintah, karena itu yang terbaik"
Menurut Dedek, pemerintah Selandia Baru mengimbau untuk tinggal di rumah masing-masing. Stay in our bubble! Warga masyarakat hanya diperbolehkan keluar rumah untuk melakukan hal-hal yang penting saja, seperti membeli kebutuhan pokok. Kalau pun harus keluar rumah, tetap jaga jarak dengan orang lain, minimal dua meter. Dan untuk tetap saling menjaga satu sama lain, take care of each other.
“Ada tiga hal yang ditekankan pemerintah Selandia Baru selama masa lockdown ini yaitu be strong, be kind and Unite against Covid 19,” ungkap Dedek.
Sejak pemberlakukan lockdown, Dedek menuturkan bahwa ia dan suami menjalankan work from home. Bekerja dari rumah dengan dua anak diakui Dedek memberi tantangan tersendiri untuk dirinya dan juga sang suami, Abdul Rahman (41). Kesulitan paling besar adalah ketika semua aktivitas terpusat di rumah, sulit baginya untuk konsentrasi saat bekerja. Sebab ada dua anaknya yang menuntut perhatian, ditambah dengan harus masak 3x sehari, karena restaurant dan take away juga tutup.
"Anak-anak selama ini terbiasa memiliki banyak aktivitas, bisa main di playground, public library, atau kolam renang. Selama lockdown tentunya tempat-tempat tersebut tidak bisa lagi dengan bebas mereka kunjungi. Kami juga harus membagi waktu dengan anak-anak yang memang belajar di rumah," cerita Dedek.
Minggu pertama lockdwon terasa berat, namun lamban laun Dedek mulai mendapatkan iramanya. Ia menyadari bahwa produktivitas dengan bekerja di rumah, sambil mengasuh anak, akan jauh berbeda dengan ketika ia bekerja di kantor yang relatif lebih minim gangguan.
“I guess it's all about setting up expectation. Saya diskusikan kondisi saya kepada manager dan beliau mengerti. Jadi saya atur jam kerja saya supaya lebih fleksibel, menyesuaikan dengan jadwal anak-anak. Yang penting priotas utama pekerjaan selesai,” tutur wania yang bekeraj sebagai pegawai negeri sipil di New Zealand ini.
Agar bisa lebih hemat waktu, Dedek menyiapkan persediaan makanan frozen yang bisa praktis ia siapkan. Ia pun mengajak anak-anaknya membantu menyiapkan makanan, sekalian untuk mengisi waktu mereka. selain itu, ia dan suami juga berbagai peran untuk mengajak anak-anak bermain bersama di halaman rumah ketika cuaca bagus, hingga mengerjakan project di dalam dan luar rumah.
Menurut Dedek dalam kondisi seperti saat ini, di negara manapun, kebijakan yang diambil oleh pemerintah sebaiknya dipatuhi. "Pemerintah pasti tahu yang terbaik, sesuai dengan situasi, kondisi dan karakteristik masyarakatnya. Ikuti saja apa petunjuk pemerintah. Memang tidak gampang. Tapi ini yang terbaik untuk kita semua," ungkap Dedek.
Terlalu banyak mengonsumsi berita yang tidak perlu dan belum tentu benar, menjadi cara Dedek untuk bisa tetap fokus dan bersifat positif menghadapi kondisi selama lockdown. “Ikuti berita dari saluran-saluran terpercaya, terlalu banyak berita yang belum terpercaya atau hoax tidak bagus untuk kesehatan mental kita. Sedangkan kesehatan mental berpengaruh besar bagi kekebalan tubuh dalam menghadapi virus ini,” ucapnya.
Di tengah pandemi ini, Dedek juga tak lupa untuk tetap berkomunikasi dengan teman-teman dan keluarga. Berkat kemajuan teknologi, ia tak merasa kesulitan untuk tetap menyambung tai silaturahmi. Apalagi, baginya sebagai makhluk sosial hal ini sangat perlu dilakukan.
“Try to find the silver lining. Tetap berfikiran positif dan isi waktu dengan kegiatan-kegiatan positif juga,” katanya.
Dalam konferensi pers Senin (4/5), Direktur Jenderal Kesehatan, Ashley Bloomfield mengatakan total kasus corona di Selandia Baru saat ini sebanyak 1.487 dan 1.276 pasien telah sembuh.
Sejak Selasa minggu lalu, Selandia Baru telah menurunkan status siaga nasional dari tingkat empat yang merupakan tingkat paling ketat ke tingkat tiga setelah menghabiskan hampir lima pekan masa lockdown di tingkat empat.
Pemerintah Selandia Baru dibawah pimpinan Perdana Menteri Jacinda Ardern, mendapat pujian atas penanganan Covid-19. Pemerintah New Zealand dianggap telah mengambil langkah tepat dan mampu mempersiapkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada warganya ketika lockdown benar-benar diberlakukan di negara tersebut.
Profesor Michael Baker dari Departemen Kesehatan Masyarakat Universitas Otago menyebutkan selain memiliki keuntungan menjadi negara kepulauan yang jauh dari kebanyakan negara, kekuatan utama Selandia Baru hingga sukses menangani maslah COVID 19 adalah kombinasi antara ilmu pengetahuan dan keputusan pemerintahan yang baik.
Dikutip dari CNN, Baker menyebut pengujian luas oleh pemerintah Selandia Baru dan kebijakan pembatasan berkontribusi besar dalam menanggulangi virus corona.
Menurut Perdana Menteri Jacinda Ardern, sekitar 400 ribu lebih masyarakat Selandia Baru telah kembali bekerja dan 75 persen perekonomian telah beroperasi. Ardern juga mengklaim mereka berhasil meraih kemenangan signifikan dalam perang melawan penyebaran Covid-19. Selain mencatatkan tidak ada penambahan kasus baru, total kematian akibat virus di negara tersebut juga terbilang rendah yaitu sebanyak 20 orang. (f)
Badan POM Luncurkan Pedoman Produksi dan Distribusi Pangan Olahan di Tengah Krisis COVID19
Pola Belanja Konsumen Berubah Selama Pandemi COVID19, Pemasaran Online Jadi Pilihan Tepat
Setelah Restrukturisasi Kredit, Pemerintah Tanggung Pajak UMKM Selama 6 Bulan
Topic
#corona, #covid19