Trending Topic
Kerja Nyata Para Relawan Sampah

23 Oct 2015

Tahun 2014, Trashbag Community melakukan observasi di beberapa gunung populer di Indonesia. Mereka berhasil mengumpulkan data bahwa tiap pendaki berpotensi membawa sampah ke gunung seberat 0,1 kg. Rata-rata 1 gunung 1.000 orang pendaki per minggu.
“Bila dijumlahkan, maka sampah baru yang berpotensi dibawa naik sekitar 100 kg per minggu dengan jumlah sekitar 40 gunung di seluruh Indonesia. Ini sangat tidak sebanding dengan jumlah anggota dan simpatisan yang hanya sekitar 3.000 orang,” ujar Ragil Budi Wibowo (28), Founder Trashbag Community.

Trashbag Community menerapkan 3 metodologi, yaitu aksi, edukasi, dan pengawasan. “Aksi bawa turun sampah sebenarnya sudah sejak tahun ‘80-an  dilakukan oleh para pendaki senior, namun itu pun efektif. Aksi itu harus dibarengi dengan edukasi, disusul pengawasan, yakni sesama pendaki harus saling mengingatkan,” jelas Ragil.

Dalam hal edukasi, banyak yang menganggap bahwa Trashbag adalah tukang sampah. Namun, Ragil mengaku tidak malu dengan panggilan itu, sebab sebagian misi pendakian kami diisi dengan membawa turun sampah, minimal sampah sendiri.

Pengangkutan sampah dari gunung ini pertama kali dilakukan tahun 2012 di Gunung Slamet, Jawa Tengah, diberi nama Sapu Jagad. Tahun 2013, mereka kembali melakukan program yang sama di 5 gunung. Dalam aksi itu, mereka berhasil membawa turun sampah sekitar 1,5 ton. Dari sanalah mereka menyimpulkan bahwa 98% sampah di gunung adalah sampah plastik, bungkus mi instan, dan botol air mineral. 

“Menurut analisis saya, 90% pendaki saat ini adalah pendaki yang tidak memiliki cukup pengetahuan pendakian. Mereka mendaki secara independen tanpa tergabung dalam organisasi pencinta alam,” jelas pria yang aktif mendaki sejak kelas 1 SMP ini.
Pada April lalu, Trashbag mengadakan pendakian Srikandi, sekaligus aksi bawa turun sampah yang melibatkan para pendaki wanita. Mereka berharap, melalui aksi itu para pendaki pria akan termotivasi melakukan hal yang sama.

Pada bulan September ini, aksi tahunan Sapu Jagad kembali dilakukan. Anggota Trashbag akan melakukan operasi bersih pada 15 gunung populer dan masuk kategori kritis dan darurat sampah, seperti Cikuray, Ciremai, Gunung Gede, Kerinci di Jambi, Semeru, dan Merbabu. “Kuota relawan yang ikut  tidak lebih dari 50 orang pendaki  tiap gunung. Penetapan jumlah ini dilakukan untuk meminimalkan risiko kecelakaan,” ujar Ragil.  

Selain pembersihan di gunung, tak kalah penting juga adalah pembersihan jalanan dan taman kota. Angela Richardson, seorang ekspatriat asal Australia yang lama bermukim di Indonesia, melihat jalanan Jakarta kotor dipenuhi sampah. Tahun 2013 ia menggagas kegiatan Clean Up Jakarta, terinspirasi Clean Up Australia Day yang sudah ada sejak 20 tahun yang lalu.
Advertisement

Clean Up Jakarta adalah acara tahunan yang terdiri dari berbagai komunitas dan relawan untuk membersihkan Kota Jakarta. “Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran warga untuk tidak membuang sampah sembarangan, dimulai dari diri sendiri di rumah dan kantor,” ujar Ratih Nawangwulan, Koordinator Clean Up Jakarta.

Jika pada bulan November 2013 saat pertama kali diadakan kegiatan ini mampu mengumpulkan 1.000 orang, tahun 2014 meningkat menjadi 5.000 peserta. “Untuk tahun ini Clean Up Jakarta akan diadakan pada 19 Oktober,  melibatkan 20.000 orang yang akan disebar di 50 titik di Jakarta,” jelas Ratih. 

Untuk menjaring peserta, biasanya Clean Up Jakarta akan berkolaborasi dengan beberapa komunitas di Jakarta, seperti Indorelawan, Diet Kantong Plastik, Bersihnyok, dan Komunitas Jakarta Bersih. Acara akan diadakan satu hari, mulai pukul 7 hingga 9 pagi.

“Tahun lalu kami berhasil mengumpulkan 50 ton sampah dari 27 site yang kami bersihkan. Site-site itu antara lain jalan-jalan protokol, taman, museum, dan pasar,” ujar Ratih. “Selanjutnya, sampah yang sudah kami pisahkan organik dan nonorganik tersebut diserahkan ke Dinas Kebersihan DKI,” lanjutnya. (f)

Daria Rani Gumulya, Desiyusman Mendrofa









Topic

#sampah

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?