Trending Topic
Waspada Virus Corona Varian Delta, Lebih Cepat Menular

24 Jun 2021


Foto: Pexels


Awal Mei lalu Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi jika virus corona varian baru yakni B.1.617 telah masuk Indonesia. Varian baru yang kemudian disebut varian Delta ini pertama kali terdeteksi di India.

Di tanah air sendiri, varian Delta ini mendominasi sejumlah wilayah yang mengalami lonjakan kasus COVID-19. Wilayah tersebut adalah DKI jakarta, Kabupaten Kudus, dan Kabupaten Bangkalan. Belakangan, mengutip Kompas.com, varian Delta ini makin banyak ditemui di daerah lain.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, dr. Siti Nadia Tirmizi mengungkapkan varia Delta telah terdeteksi di 9 provinsi. Nadia menyebut kesembilan provinsi itu adalah Banten, DKI Jakarta, Gorontalo, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan.

Berbeda dengan lainnya, varian Delta ini perlu mendapatkan perhatian lebih karena memiliki karakter yang lebih berbahaya.

Seperti diberitakan Kompas.com, virus corona varian Delta ini lebih cepat menular enam kali lebih cepat dibandingkan strain awal. Varian Delta ini juga banyak menginfeksi pada masyarakat yang berusia muda.

Selain itu Ketua Satgas Ikatan Dokter Indonesia Prof Zubairi Djoerban memaparkan kalau varian Delta juga lebih bikin sakit karena seseorang yang terinfeksi akan lebih cepat mengalami perburukan kondisi.

Penelitian yang dipublikasikan di The Lancet pun mendukung kalau varian tersebut berbahaya. Studi itu menyebut varian Delta berbahaya bagi lansia, dapat menginfeksi kembali pasien COVID-19, dan makin memperlemah kekebalan tubuh pasien.

Kondisi yang mengkhawatirkan ini membuat Prof Zubairi menyarankan supaya pemerintah mengambil langkah kebijakan untuk lockdown.

"Lebih bijaksana bagi Indonesia untuk menerapkan lockdown selama dua minggu," cuit Prof Zubairi dalam akun Twitter pribadinya.

Advertisement
Menurutnya, lockdown dimaksudkan untuk memperlambat penyebaran, meratakan kurva, menyelamatkan fasilitas kesehatan, dan menahan situasi pandemi menjadi lebih ektrem.

"Kebijakan lockdown akan mengesankan bahwa situasi saat ini benar-benar darurat, sehingga masyarakat juga sadar akan hal itu," ungkapnya.

Lebih lanjut, Prof Zubairi menyebut semua liburan dan perjalanan tak penting harus dihentikan sementara, termasuk mempertimbangkan mulainya sekolah tatap muka.

Sementara itu lonjakan kasus COVID-19 pun masih terus terjadi. Pada Rabu (23/6/2021) terjadi penambahan kasus COVID-19 dalam sehari sebanyak 15.308. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi selama pandemi semenjak kasus COVID-19 pertama kali terkonfirmasi pada 2 Maret 2020.

Tingginya kasus juga dibarengi dengan bertambahnya kasus kematian akibat COVID-19. DKI Jakarta mencatatkan rekor pemakaman jenazah dengan prosedur COVID-19 pada hari yang sama (Rabu, 23/6/2021). Hal tersebut diungkapkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam akun instagramnya.

"Hari ini (Rabu) rekor pemakaman selama wabah COVID-19 di DKI: 180 jenazah dikuburkan dengan prosedur COVID-19," tulis Anies.

Walaupun langkah-langkah percepatan vaksinasi COVID-19 terus dilakukan oleh pemerintah untuk menciptakan herd immunity, masyarakat diminta untuk tidak lengah dan kendor dalam menerapkan protokol kesehatan. Tetap memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, hindari kerumunan dan kurangi mobilitas. (f)


Baca Juga: 
Pemerintah Berlakukan Penebalan PPKM Mikro, Ini Aturan yang Perlu Anda Tahu
Sudah Vaksinasi? Tetap Pakai Masker, Ya! Ini Alasannya
Tren Kasus COVID-19 Pada Anak Meningkat, Ini Gejala yang Orang Tua Perlu Waspada


  



Topic

#viruscorona, #variandelta, #pandemi

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?