Semua Orang Bisa Berpotensi
Sementara itu sosiolog dan dosen Universitas Negeri Malang, Anggaunita Kiranantika, M. Sosio, punya pandangan yang lebih luas perihal fenomena panjat sosial. Dari kacamata sosiologi, panjat sosial tidak selalu berkaitan dengan kemewahan. “Secara umum perilaku panjat sosial lebih bertujuan untuk menjadikan diri mereka sebagai pusat perhatian dalam berbagai tempat dan situasi,” jelas Anggaunita.
Aktor panjat sosial tidak hanya ingin diterima sebagai anggota kelas sosial di atasnya, tetapi juga berharap ingin menjadi figur atau influencer bagi banyak orang. Meski begitu, mereka bisa jadi tidak begitu mengenal empati dan tidak mengutamakan relasi yang tulus.
Misalnya di tempat kerja, pelaku panjat sosial biasanya ingin selalu mendominasi setiap momen dan interaksi. Apapun yang terjadi, ia harus selalu terlihat dan menjadi nomor satu, meskipun terkadang bukan karena prestasi kerjanya. Di luar kantor, ia bisa jadi sengaja menjalin kedekatan dengan atasan atau klien dengan cara-cara tersendiri.
Di masa kini fenomena ini menjadi lebih berpeluang dilakukan lebih banyak orang. Menurut Anggaunita, era media sosial yang memungkinkan semua orang menceritakan apa pun kepada semua orang membuat siapa saja bisa menjadi aktor panjat sosial.
Hal ini juga diamini oleh Joy. “Kehidupan yang ditampakkan di media sosial pasti lebih banyak sisi indahnya. Banyak kenyataan yang disortir untuk menampilkan kesan tertentu. Sebenarnya itu sudah bisa disebut panjat sosial sederhana,” ungkap Joy, sejalan.
Anggaunita menilai bahwa fenomena panjat sosial, terutama yang ditampakkan di media sosial, antara lain dilatarbelakangi shock culture yang dirasakan masyarakat akibat derasnya arus teknologi informasi yang tidak diimbangi pengetahuan serta pemahaman yang dimiliki individu.
Segala hal yang tampak di permukaan jadi lebih penting daripada yang sesungguhnya. Siapa pun kemudian bisa menciptakan realitanya sendiri yang dipoles sedemikian rupa.
Di samping itu, media sosial memungkinkan interaksi yang dulu hanya dapat dilakukan secara terbatas menjadi tanpa batas dan dapat dilakukan kapan saja. Lewat media sosial, kini orang dapat berinteraksi langsung dengan idola mereka yang sebelumnya jauh dari jangkauan. Hal ini membuat orang menjadi merasa lebih berpeluang sejajar dengan idola mereka, bahkan menjadikan diri mereka sendiri sebagai pusat perhatian.
Namun adakah karakteristik orang tertentu yang lebih cenderung akan melakukan panjat sosial? Menurut Anggaunita, panjat sosial ternyata bisa dilatarbelakangi pola asuh tertentu dalam keluarga.
“Gagal atau tidak maksimalnya sosialisasi nilai dan norma dalam keluarga dan lingkungan terdekat dapat membuat pelaku menjadi bingung akan acuan perilakunya,” ungkap Anggaunita.
Kondisi ini akan membuat kurang matangnya kepribadian seseorang sehingga merasa selalu membutuhkan orang lain untuk membangun jati dirinya.
Lebih jauh, pola asuh orang tua yang cenderung memanjakan, atau sebaliknya, yang menelantarkan, akan menyebabkan apa pun yang dilakukan anak sejak kecil adalah hal yang dianggap biasa atau tidak salah.
Sanjungan yang berlebihan akan membuat anak selalu mencari cara agar selalu dipuji dan mendapat perhatian lagi. Sebaliknya, anak yang sering diabaikan juga akan selalu mencari perhatian dengan cara serupa.
BACA JUGA :
7 Cara Amankan Akun Media Sosial
Personal Branding Harus Sejalan dengan Profesionalitas, Ini Alasannya
Stop Asal Posting! Ini Alasan Penting Anda Perlu Menjaga Reputasi Online
Lucia Priandarini (Kontributor)
Topic
#PanjatSosial, #MediaSosial