24, Wirausaha, Palu
Keluarga saya memiliki silsilah perkawinan campuran dengan pribumi, khususnya dari keluarga ibu saya. Nenek saya dari ibu merupakan keturunan pribumi asal Kota Palu, Sulawesi Tengah. Saudara-saudara ibu saya pun banyak yang menikah dengan pribumi yang beragama Islam. Sedangkan ayah saya, adalah perantau asal Cina yang kini sudah menjadi WNI.
Atas saran dari Ibu, sejak SD hingga SMA, saya menempuh pendidikan di sekolah umum negeri. Kala itu, penduduk etnis Tionghoa di Kota Palu masih sedikit, sekolah-sekolah perguruan swasta yang didominasi oleh etnis Tionghoa pun hanya beberapa saja. Begitu pula saat kuliah, saya memilih universitas negeri, mengambil jurusan hukum.
Jarak antara etnis Tionghoa dengan pribumi di Kota Palu saat ini sudah berkurang, karena terjalinnya hubungan bisnis. Banyak pribumi yang punya usaha, didukung oleh pengusaha etnis Tionghoa, begitu pula sebaliknya. Pembauran terasa di restoran yang kami miliki. Pelanggan pribumi dan Tionghoa, seimbang.
Namun, saya akui bahwa penduduk etnis Tionghoa masih banyak yang menutup diri. Membangun rumah dengan pagar tinggi, dan pengamanan rumah yang berlapis-lapis. Hal ini memang dilakukan untuk mengantisipasi keadaan buruk. Pada tahun 2001, saya pernah ikut mengungsi ke Surabaya karena adanya isu etnis Tionghoa menjadi sasaran kerusuhan. Ternyata, isu itu tidak benar.
Saya berharap, ke depannya masyarakat etnis Tionghoa lebih membaurkan diri lagi dengan pribumi, sehingga rasa takut akan disakiti yang selama ini menghantui, hilang. Bagi saya, selama kita berbuat baik, maka kita tidak akan disakiti. (f)