34, Seniman, Jakarta
Saya menjalani masa kecil hingga remaja di masa Orde Baru. Masa di mana rasisme yang ditujukan kepada keturunan Tionghoa sangat kentara. Saya kesal dan marah, tapi saya memilih diam saja, saya tidak mau menjadi korban pengeroyokan.
Padahal, keluarga saya membaur dengan siapa pun, baik dengan etnis Tionghoa maupun dengan masyarakat pribumi. Walau, sama sekali tidak ada perkawinan campuran di keluarga saya.
Kondisi ini berangsur membaik setelah reformasi tahun 1998. Namun, kemudian mencuat lagi pada pemilihan umum presiden 2014 lalu hingga saat ini, menjelang pilkada serentak pada Februari 2017 mendatang.
Sebelum terjun ke stand up comedy, saya mengawali karier di perusahaan label musik. Saya mulai menggeluti stand up comedy dengan mengikuti ajang Stand Up Comedy Indonesia di Kompas TV, tahun 2011. Sejak saat itu, tiap kali tampil, saya selalu menjadikan identitas saya sebagai keturunan Tionghoa.
Yang saya rasakan saat ini, generasi muda Indonesia sudah mulai terbuka dan menghargai perbedaan. Sehingga, rasisme terhadap keturunan Tionghoa, termasuk saya, jarang sekali terjadi. Hanya, akhir-akhir ini mulai mencuat lagi rasisme terhadap keturunan Tionghoa, terutama lewat media sosial. Namun, saya yakin bahwa hal ini dipicu oleh politik. Setelah pilkada, nanti juga akan redam sendiri.
Tidak ada upaya khusus yang saya lakukan untuk berbaur dengan keturunan pribumi. Saya mencoba menghilangkan gap itu dengan cara bersuara lewat karya-karya saya. Komunitas Stand Up Indo yang saya dirikan bersama sejumlah komika senior, terbuka untuk siapa pun. Saya sadar, bila hanya mengutamakan satu golongan, misalnya anak-anak muda keturunan Tionghoa, sama artinya saya juga melakukan rasisme.
Klik laman selanjutnya untuk mendengar pengalaman Lenny Kumalasari asal Palu yang sempat mengungsi ke Surabaya saat terjadi kerusuhan antaretnis.
Topic
#Keberagaman