Foto: Dok. University of Oxford
Yang tak kalah menarik adalah sosok pimpinan tim Jenner Institute, Profesor Sarah Gilbert, yang baru-baru ini mendapatkan penghormatan khusus dari para hadirin upacara pembukaan laga tenis Wimbledon. Pasalnya, Sarah dan tim dianggap sangat berjasa pada kemanusiaan dengan menciptakan vaksin AZ, yang menjadi vaksin COVID-19 termurah yang dipakai di berbagai negara. Meski banyak pihak lainnya juga mengembangkan vaksin COVID-19 namun Sarah menjadi istimewa karena wanita peneliti ini menolak hak paten atas mahakarya vaksin AZ.
Sejak dulu Sarah tidak pernah bercita-cita menjadi seorang spesialis vaksin. Namun pada pertengahan 1990-an, pekerjaan akademisnya di Universitas Oxford mengharuskannya meneliti genetika malaria. Penelitian tersebut mengarahkannya kepada penemuan vaksin malaria. Karier Sarah semakin melesat, ia menjadi profesor di Jenner Institute yang bergengsi, membentuk kelompok penelitiannya sendiri dalam upaya pembuatan vaksin flu universal, yang akan efektif melawan semua jenis flu berbeda.
Pada tahun 2014, Sarah memimpin uji coba pertama vaksin Ebola. Ketika virus MERS (Middle East Respiratory Syndrome) menyerang, ia pergi ke Arab Saudi untuk mencoba mengembangkan vaksin untuk suatu subtipe baru dari virus corona ini. Uji coba kedua vaksin tersebut baru saja dimulai ketika, pada awal 2020, COVID-19 muncul di China. Sarah langsung menyadari bahwa ia mungkin bisa menggunakan pendekatan yang sama.
"Sejak awal, kami melihatnya sebagai perlombaan melawan virus, bukan perlombaan melawan pengembang vaksin lain," katanya awal tahun ini, seperti yang dilansir dari bbc.com. "Kami merupakan universitas dan kami tidak melakukan ini untuk menghasilkan uang,” lanjutnya.
Sosok Sarah digambarkan sebagai orang yang teliti, pendiam, pemalu, tabah, dan teguh dalam pendirian oleh teman-teman sekolah, universitas, dan koleganya. Menjadi pusat perhatian adalah hal terakhir yang ia inginkan. Namun Sarah harus terbiasa dengan hal itu, seiring dengan pandangan dunia yang kini tertuju padanya dan juga para pengembang vaksin COVID-19 di berbagai belahan dunia lainnya saat mereka terus berpacu dengan waktu dalam mengembangkan vaksin COVID-19 yang telah ada. (f)
Baca Juga:
7 Fakta Vaksin COVID-19 Pfizer dari Efikasi hingga Keamanannya
Vaksinasi COVID-19 untuk Anak Usia 12-17 Tahun, Amankah?
Indonesia Butuh Dosis Ketiga Vaksin sebagai Perlindungan Ekstra?
Topic
#vaksincovid19, #vaksinastrazeneca, #covid19, #vaksin