Foto: Fotosearch
“Full day school ini tidak berarti peserta didik belajar seharian penuh di sekolah, tetapi memastikan bahwa peserta didik dapat mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman pendidikan karakter, seperti mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang menyenangkan. Saat ini sistem belajar tersebut masih dalam pengkajian lebih mendalam,” ujar Mendikbud seperti dilansir di www.kemdikbud.go.id.
Harapannya, para pelajar akan terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif dan kontraproduktif karena usai jam sekolah ada jeda sebelum mereka kembali bertemu orangtua di rumah. Sebagai ilustrasi, selama ini siswa pulang sekolah pukul 13.00 sementara orangtua yang bekerja baru bertemu lagi dengan anaknya di atas pukul 18.00. Dengan full day school anak selesai berkegiatan di sekolah pukul 17.00.
“Penerapan full day school juga dapat membantu orangtua dalam membimbing anak tanpa mengurangi hak anak. Para orang tua setelah pulang kerja dapat menjemput buah hati mereka di sekolah. Orangtua dapat merasa aman karena anak-anak mereka tetap berada di bawah bimbingan guru selama mereka di tempat kerja,” ungkap Muhadjir.
Berdasarkan polling femina di Twitter, sebanyak 92% dari 51 responden tidak setuju terhadap sistem full day school. Sejumlah orangtua pun memberikan pendapatnya terkait hal ini.
“Saya nggak setuju. Kasihan anak kecapekan di sekolah dan justru membuat sosialisasi di rumah maupun di luar sekolah hilang. Kalau mau penerapannya untuk siswa SMA, bukan SD atau SMP,” Agung Purnawarman, karyawan yang memiliki dua putra dengan usia sekolah kelas 4 SD dan 2 SD.
“Lebih baik anak di sekolah, sih, daripada di rumah malah main gadget. Namun, sarana dan prasarananya memang harus matang. Jangan kayak penerapan kurikulum kemarin yang hanya seumur jagung. Nah, soal full day school atau nggak, kan, tergantung orangtua mau memasukkan anaknya ke sekolah tersebut atau tidak,” tegas Alfa Dwiagustiar, composer & music arranger, ayah dari anak berusia 13 tahun dan 8 tahun.
“Saya setuju soal full day school dengan syarat jam istirahat siswa dua kali termasuk jam tidur siang plus nggak ada PR yang dibawa pulang. Kalau tidak bisa diterapkan, ya, percuma. Memangnya anak-anak robot? Sebenarnya saya sudah nyaman dengan sistem home schooling. Nggak ada tekanan buat anak sehingga mereka lebih leluasa berprestasi atas kesadarannya sendiri—bukan tekanan dari guru atau tuntutan orangtua” kata Wina Dyah, Independent Financial Consultant, yang memiliki putra berusia 12 tahun.
Bagaimana komentar Anda sebagai orangtua? Silakan share di kolom komentar, ya. (f)
Topic
#fulldayschool