"Makanan yang kita makan, ibarat 2 mata pisau. Ia bisa menjadi obat atau menjadi racun buat kita," ujar dr. Patricia Amanda, M.Gizi, Sp.GK saat memulai kelas EAT RIGHT! Let Your Food Be Your Medicine. Foto: Muhammad Zaki
Bagi para survivor dan warrior kanker payudara, persoalan makan kerap menjadi polemik tersendiri khususnya selama masa-masa penyembuhan. Di satu sisi, mereka ingin menjaga kesehatan dan mendukung proses penyembuhan dengan mencukupi kebutuhan nutrisi. Di sisi lain, banyak pantangan makanan yang membuat mereka perlu memilah makanan yang tidak berdampak buruk bagi kesehatannya.
"Biasanya, pasien dengan kanker payudara kebutuhannya lebih meningkat dibandingkan kita yang sehat. Pasien kanker banyak yang kurus karena mengalami stres metabolisme, gangguan nafsu makan, juga punya masalah psikologis seperti depresi yang juga menghilangkan nafsu makan," ujar dr. Patricia Amanda, M.Gizi, Sp.GK, dokter spesialis gizi klinis dari Alodokter dalam sesi kelas Eat Right! Let Your Food be Your Medicine, rangkaian dari program The Hope Project - Breast Cancer Awareness Day kolaborasi Femina dan Estée Lauder Companies, pada Oktober 2023 lalu.
Stres metabolisme yang menyebabkan kebutuhan kalori meningkat serta gangguan nafsu makan yang menjadi efek samping pengobatan kanker (seperti kemoterapi, terapi sel target dan radioterapi) menjadi tantangan tersendiri bagi pasien kanker payudara yang ingin merawat kesehatannya. "Saat terapi misalnya, pasien akan mengalami mual, muntah, mulut pahit dan luka-luka di seputar rongga mulut. Padahal kebutuhan kalori mereka sangat banyak, untuk mendukung imunitas dan kesehatannya," tambah Patricia.
Kehidupan di zaman modern seperti sekarang membuat semua orang tidak bisa terhindarkan dari makanan olahan atau processed food. Pilah lagi, mana yang bisa dikonsumsi secara terbatas dan mana yang benar-benar perlu dihindari. Foto: Muhammad Zaki
Pahami Dulu Soal Nutrisi
Berbicara soal kesehatan perempuan, nutrisi selalu menjadi topik yang sering dibicarakan dan penting diperhatikan. "Kesehatan perempuan itu luas, juga mencakup kesehatan fisik, mental hingga reproduksi. Apalagi pada zaman modern seperti sekarang, perempuan memiliki peran yang sangat besar, baik sebagai individu, ibu dan istri," terang Patricia sambil menjelaskan bahwa kabar baiknya, di era serba canggih dan berteknologi yang menyebabkan banjirnya makanan olahan, perempuan juga makin sadar akan pentingnya menjaga kebugaran dan pola makan yang baik.Sebelum terjun ke aturan jumlah, jenis dan jadwal makan, Patricia mengingatkan kaum perempuan untuk memahami dulu konsep nutrisi. Pada dasarnya nutrisi yang dibutuhkan manusia dibagi menjadi 2 kelas besar yakni nutrisi makro dan mikro.
"Nutrisi makro adalah zat yang dibutuhkan dalam jumlah yang banyak seperti karbohidrat, protein dan lemak. Sementara nutrisi mikro adalah zat yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit, seperti vitamin dan mineral. Dan yang sering dilupakan adalah air," ujar Patricia mengingatkan pentingnya air dalam membantu memperlancar metabolisme tubuh seseorang.
Di samping pengertian nutrisi, perempuan juga sebaiknya memahami prinsip mengonsumsi makanan yang diproses. Patricia menggarisbawahi 4 kategori makanan dari sudut pandang pemrosesan.
1. Makanan tidak diproses atau diproses secara minimal
Misal: daging mentah, sayuran basah, buah, dan lain-lain.
2. Makanan tambahan atau bahan dapur yang diproses
Misal: gula, garam, mentega, cuka, dan lain-lain.
3. Makanan yang diproses
Misal: roti, olahan susu, olahan daging, dan lain-lain.
4. Makanan yang sudah sangat diproses dan biasanya sudah ditambahkan banyak gula, garam, minyak
Misal: makanan beku, minuman kemasan, snack kemasan, dan lain-lain.
"Kita perlu sangat membatasi makanan yang sudah sangat diproses. Sedangkan makanan yang diproses, beberapa teknologi pangan juga menambahkan hal baik di dalam makanan yang diproses, seperti, menambahkan probiotik, membekukan untuk mengunci zat gizi, dan seterusnya," jelas Patricia.
Piramida makanan sebaiknya tetap menjadi acuan saat menentukan menu harian, bukan sekadar mendengarkan mitos yang beredar.
Foto: Presentasi dr.Patricia Amanda, M Gizi, Sp.GK
Acuan Piramida Pola Makan Sehat
Setelah memahami prinsip penggolongan nutrisi, Patricia menjelaskan kembali soal konsep pola makan baik yang perlu dimiliki semua pasien kanker payudara. "Sejak tahun 1992, kita menganut Piramida Gizi Seimbang sebagai patokan dasar pola makan sehat sehari-hari. Bentuknya segitiga piramida dengan 4 lapisan yang menggambarkan kebutuhan makan kita sesuai jumlahnya," ujar Patricia.Berdasarkan piramida tersebut, kebutuhan asupan terbesar masih diduduki oleh makanan pokok, lalu diikuti dengan sayur dan buah-buahan (sekitar 5 porsi sehari), sumber protein, dan teratas minyak, gula dan garam.
Patricia menegaskan kembali, pasien kanker payudara masih memiliki kebutuhan akan lemak, namun perlu dipilah dari jenis lemak yang baik atau monosaturated dan polyunsaturated fats, seperti lemak dalam buah avokad, ikan laut dalam, ikan salmon, dan lain-lain.
"Untuk lemak saturated seperti lemak dari minyak, butter, lemak hewani, keju, minyak nabati harus dibatasi. Kalau trans fat seperti lemak dari proses penggorengan dengan suhu tinggi, harus dihindari. Lemak masih dibutuhkan sebagai sumber energi dan bahan baku hormon," ujar Patricia meluruskan salah kaprah soal lemak dalam pandangan masyarakat.
Juga dijelaskan bahwa mereka yang terkena kanker payudara, memiliki nutrisi dari golongan lemak spesifik yang penting dikonsumsi, yakni EPA (Eicosapentacnoic Acid) atau lemak Omega 3 yang dimiliki sebagian besar ikan laut dalam. Lemak jenis ini penting karena dapat membantu meningkatkan selera makan, mencegah penurunan berat badan pasien secara drastis, dan sebagai zat anti-inflamasi.
Terkait posisi puncak yang diduduki piramida pola makan sehat, yakni golongan minyak, gula dan garam, menunjukkan bahwa asupan jenis bahan ini sebaiknya dibatasi atau dikonsumsi secara bijak.
Risiko menderita kanker payudara dipengaruhi banyak faktor yang perlu dipahami secara seksama. Foto: Presentasi dr.Patricia Amanda, M Gizi, Sp.GK
Turunkan Risiko Kanker dengan Berat Badan Ideal
Selain lemak sebagai pemicu, tingginya insulin dan growth factor pada orang obesitas juga meningkatkan pembelahan sel. "Dan obesitas ini juga menyebabkan peradangan dosis rendah yang menyebabkan pertumbuhan sel tidak baik lebih cepat dari normal," tambah Patricia semakin menegaskan pentingnya perempuan, khususnya dengan riwayat kanker dalam keluarga, untuk menjaga berat badan ideal.
Kabar baiknya obesitas dapat dicegah asal kita tahu penyebabnya. Beberapa penyebab umum obesitas, di antaranya:
1. Pola makan yang tidak sehat. Pola makan dengan komposisi dan jenis makanan yang menyebabkan peningkatan berat badan karena kelebihan asupan.
2. Kurang gerak atau sedentary lifestyle. Apalagi jarang bergerak, tidak suka berolahraga dan banyak rebahan .
3. Stres. Terutama perempuan kalau stres memiliki pola makan berlebih.
4. Kurang tidur. Karena kurangnya kualitas dan durasi tidur dapat menyebabkan peningkatan hormon grelin (hormon yang mengontrol nafsu makan)
5. Genetik. Karena seseorang dengan orang tua obesitas akan berisiko 1,7 kali lebih tinggi terkena obesitas.
6. Obat-obatan. Beberapa obat dapat meningkatkan nafsu makan.
Jika telah mengenali penyebab obesitas, Anda dapat mulai menjauhi penyebab obesitas dan mengatur pola makan serta berolahraga untuk perlahan-lahan menurunkan berat badan hingga mencapai Indeks Massa Tubuh ideal (IMT). "Untuk orang Indonesia normal, IMT ada di kisaran 18,5 - 22,9. Saat mencapai angka 23 - 24,9 Anda sudah termasuk overweight dan IMT di atas 25 sudah termasuk obesitas," tutup Patricia. (f)
Baca Juga:
The Hope Project : Ajak Para Wanita Turunkan Rasa Takut Deteksi Dini Kanker Payudara
Menkes Budi G. Sadikin : Pencegahan Kanker Sudah Sampai Tahap Genomik
Laili Damayanti
Topic
#breastcancer, #obesitas, #indeksmassatubuh, #BMI, #processedfood, #makananolahan