Trending Topic
Penting untuk Para Orang Tua: Ketahui 5 Fakta Kasus Kekerasan di Sekolah

15 Dec 2016


Foto: Fotosearch

Akhir tahun ini, selain kasus intoleransi dan radikalisme yang makin marak, para orang tua juga harus memerhatikan kasus-kasus kekerasan di sekolah yang terjadi di berbagai daerah. Berikut 5 di antaranya:

1/ Penusukan di Bantul, Yogyakarta. Sekelompok siswa SMA kelas X di Yogyakarta menjadi korban penyerangan sekelompok pemuda tak dikenal di daerah Imogiri pada Senin (12/12). Saat itu, mereka baru pulang berwisata dari Gunungkidul. Salah satu korban, Adnan Wirawan, tak tertolong karena pendarahan hebat di ginjal. Menurut penyelidikan polisi, rombongan korban dan rombongan pelaku sama-sama mengaku tidak saling mengenal. Kelompok pelaku mengaku tidak terima dan menyerang karena rombongan korban memain-mainkan gas motornya. Selain korban jiwa, ada lima orang korban lainnya yang mengalami luka-luka baik karena tusukan senjata tajam dan karena terjatuh dari motor.

2/ Penyerangan siswa SD di Nusa Tenggara Timur. Selasa pagi (13/12), seorang pria secara brutal menyerang 8 murid SD kelas V dan kelas VI di SDN Sabu Barat, NTT dengan sebilah pisau. Tujuh siswa mengalami luka di leher, dada, dan tangan. Para korban kini dirawat di Puskesmas Seba, Sabu Raijua, NTT. Pelaku sempat dihajar warga yang sudah tersulut amarah sebelum diamankan polisi.

3/ Guru menganiaya siswa dengan pulpen di Gowa, Sulawesi Selatan.
November lalu, mata kanan seorang siswa SMPN III Gowa harus dioperasi setelah terkena bolpoin gurunya. Sang guru mengaku insiden ini tidak disengaja. Ia sedang mengangkat buku untuk menenangkan siswa yang ribut di kelas. Tapi, ternyata ada  pulpen di dalam buku dan ikut mengenai siswa. Kasus ini telah dilaporkan oleh keluarga siswa ke Mapolres Gowa.

4/ Orang tua murid menganiaya guru di Makassar, Sulawesi Selatan.
Gara-gara anaknya mengadu dipukul oleh guru, seorang bapak mendatangi guru tersebut ke sekolah. Ia tersulut emosi saat berpapasan di koridor sekolah dan memukul guru tersebut. Bersama anaknya, sang ayah diamankan di Mapolsek Tamalate. Sebelumnya, bapak dan anak itu sempat menjadi bulan-bulanan siswa SMKN 2 Makassar, setelah para siswa mengetahui gurunya dipukul hingga mengalami luka-luka dan patah di bagian ujung hidung.

5/ Tawuran siswa SD yang melibatkan tiga sekolah di Semarang.
Advertisement
Akhir November lalu, tawuran antar siswa SD di Semarang melibatkan tiga sekolah yakni SD Al Khotimah, SD PL Gunung Brintik dan SD Pekunden menarik perhatian warga. Tawuran telah direncanakan jauh hari, bahkan para siswa pelaku tawuran telah mempersiapkan yel-yel lagu yang akan digunakan saat tawuran. Para siswa membawa senjata tajam jenis parang dan berhasil diamankan polisi. Mereka mengaku sebabnya adalah cekcok karena saling ejek.
 
Menurut Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), lima kasus ini sesuai dengan 6 modus kekerasan utama yang terus terulang di lingkungan sekolah, yaitu: penganiayaan guru kepada siswa, penganiayaan siswa kepada guru, penganiayaan siswa kepada siswa, penganiayaan wali murid kepada guru, pelecehan seksual, dan tawuran antarsekolah.

Fakta ini juga menegaskan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Plan International dan International Center for Research on Women (2015) yang mendapati ada 84% anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah. Berdasarkan perhitungan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sedikitnya ada 1800 anak korban kekerasan tiap tahunnya di Indonesia.
Melihat fakta tersebut, sejauh mana upaya pemerintah untuk melindungi anak-anak dari tindak kekerasan? Dari segi payung hukum, Indonesia punya sejumlah peraturan UU seperti:
  • UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak,
  • Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2014 tentang Gerakan Nasional Anti-kejahatan Seksual terhadap Anak,
  • UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak
Namun, penerapan perangkat hukum ini masih terbentur banyak kendala sehingga anak-anak di Indonesia masih terpapar ancaman kekerasan di lingkungan pendidikan. Untuk itu, selain menyadari fakta ini, para orang tua juga harus ingat, sekolah tidak hanya tempat anak belajar, tapi juga tempat anak-anak tumbuh dan berkembang, baik dalam aspek fisik maupun mental. Kekerasan di sekolah dapat menghambat pertumbuhan anak.

Apa yang bisa dilakukan oleh orang tua?

1/ Ajaklah anak Anda untuk selalu terbuka tentang kegiatan dan teman-temannya di sekolah. Ajukan pertanyaan terbuka seperti, “Cerita lagi, dong,” atau “Bagaimana menurutmu?”. Ini menunjukkan Anda siap mendengarkan pendapat mereka tentang masalah yang ada di sekolah. Perlahan bukalah pembicaraan tentang kekerasan, rokok, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, minuman keras. Jangan menunggu sampai anak Anda yang datang untuk bercerita tentang hal-hal ini.  

2/ Beri batasan tegas. Pastikan anak tahu aturan yang berlaku, dan apa yang diharapkan dari dirinya di keluarga Anda dan menyadari konsekuensi jika mereka melanggarnya. Tunjukkan teladan lewat sikap Anda agar mereka bertanggung jawab, bisa berempati pada orang lain, mampu mengendalikan amarah, dan mengelola stres.

3/ Perhatikan perubahan pada anak. Jika ada perubahan dramatis pada anak, seperti nilai-nilai yang menurun, perubahan pola makan, suka berbohong dan keluhan kesehatan, Anda harus mulai menyelidikinya.

4/ Selalu terlibat dalam kegiatan di sekolah. Jika anak mulai menunjukkan sikap yang potensial untuk membahayakan orang lain, segeralah turun tangan dan bekerja sama bersama pihak sekolah untuk mencari solusi terbaik. (f)



Topic

#Kekerasan

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?