Apakah Anda menerima pesan berantai tentang gelombang panas atau heat wave akan melanda Indonesia? Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menanggapi pesan berantai yang beredar di berbagai platform media sosial, dan WhatsApp bahwa kabar itu tidak benar alias hoaks.
Kekhawatiran masyarakat terjadi karena geombang panas telah menyebabkan kematian di negara lain. Di Prancis dilaporkan gelombang panas yang terjadi tahun 2019 berhubungan dengan 1500 kematian pada musim panas tahun ini.
Dikutip dari BMKG, saat ini Indonesia dilanda suhu panas, bukan gelombang panas. Fenomena gelombang panas tidak terjadi di Indonesia. Berdasarkan data sejarah, suhu maksimun di Indonesia belum pernah mencapai 40 derajat Celsius. Data BMKG menyebut suhu tertinggi yang pernah terjadi di Indonesia sebesar 39,5 derajat Celsius pada tahun 2015 di Kota Semarang, Prov. Jateng.
Gelombang panas terjadi pada wilayah yang terletak pada lintang menengah dan tinggi. Sementara wilayah Indonesia terletak di wilayah ekuator yang secara sistem dinamika cuaca tidak memungkinkan terjadinya gelombang panas.
Suhu panas yang terjadi di wilayah Indonesia merupakan fenomena akibat dari adanya gerak semu matahari yang merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun, sehingga potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.
Pada bulan September, matahari berada di sekitar wilayah khatulistiwa dan akan terus bergerak ke belahan bumi selatan hingga bulan Desember. Sehingga pada bulan Oktober ini, posisi semu matahari akan berada di sekitar wilayah Indonesia bagian Selatan (Sulawesi Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dsb).
Kondisi ini menyebabkan radiasi matahari yang diterima oleh permukaan bumi di wilayah tersebut relatif menjadi lebih banyak, sehingga akan meningkatkan suhu udara pada siang hari. Atmosfer di wilayah Indonesia bagian selatan yang relatif kering juga menghambat pertumbuhan awan yang bisa berfungsi menghalangi panas terik matahari. Minimnya tutupan awan ini akan mendukung pemanasan permukaan yang kemudian berdampak pada meningkatnya suhu udara.
Stasiun - stasiun meteorologi yang berada di pulau Jawa hingga Nusa Tenggara mencatatkan suhu udara maksimum terukur berkisar antara 35 °C - 36.5 °C pada periode 19 - 20 Oktober 2019.
Pada tiga stasiun pengamatan BMKG di Sulawesi, tanggal 20 Oktober 2019, mencatat suhu yang tinggi. Pada Stasiun Meteorologi Hasanuddin (Makassar) 38.8 °C, diikuti Stasiun Klimatologi Maros 38.3 °C, dan Stasiun Meteorologi Sangia Ni Bandera 37.8 °C. Suhu tersebut merupakan catatan suhu tertinggi dalam satu tahun terakhir, dimana pada periode Oktober di tahun 2018 tercatat suhu maksimum mencapai 37 °C.
Menurut BMKG, kondisi ini masih akan berlanjut. BMKG mengimbau masyarakat yang terdampak suhu udara panas ini untuk minum air putih yang cukup untuk menghindari dehidrasi, mengenakan pakaian yang melindungi kulit dari sinar matahari jika beraktivitas di luar ruangan.
Waspadai risiko terbesar dari dehidrasi atau terpapar sinar panas terlalu lama seperti lemas, kehilangan konsentrasi, bahkan pingsan. (f)
Baca Juga:
BMKG Peringatkan Kondisi Hujan Lebat dan Angin Kencang di Beberapa Wilayah Indonesia di Awal Oktober
750 Ribu Masyarakat Pelosok Raih Akses Air Bersih dan Sanitasi
Topic
#suhu, #cuaca