Trending Topic
Maybank Women Eco Weaver, Memberdayakan Wanita Perajin

10 Nov 2016


Foto: FLW

Beberapa tahun belakangan ini, di panggung fashion tanah air, tak sedikit desainer Indonesia yang berkreasi dengan kain tenun. Indonesia memang kaya akan seni tenun. Perajin tenunnya pun tersebar di seluruh penjuru negeri, dari Sumatera hingga Nusa Tenggara, dengan hasil tenun beraneka ragam motif dan warna.

Sebagian besar mereka adalah kaum wanita. Mereka memiliki keterampilan menenun sebagai salah satu cara untuk mengisi waktu luang sekaligus membantu perekonomian keluarga. Ria (26) adalah salah satunya wanita perajin tenun dari Lombok Barat. Sejak di bangku sekolah dasar, ia sudah mulai bekerja dengan membuat pola untuk tenun hingga akhirnya memiliki keterampilan menenun. Meski melanjutkan sekolah hingga bangku kuliah, Ria memilih untuk kembali ke desanya dan mengembangkan tenun lokal di sana. Kini, ia menjadi pendamping para wanita penenun. Ada sekitar 245 penenun yang ia beri pelatihan dampingan.

Namun, tidak semua wanita perajin tenun memiliki keberuntungan seperti Ria. Tak sedikit yang harus putus sekolah, menikah, dan pada akhirnya menjadi tulang punggung keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidup. Tak dipungkiri, kemiskinan masih menjadi hambatan terbesar para perajin ini mengembangkan kemampuannya.

Advertisement
Melihat pentingnya peran wanita dalam meningkatkan taraf hidup keluarganya, Maybank Indonesia lewat Maybank Foundation, pada awal November lalu meluncurkan program Maybank Woman Eco Weaver, di Lombok. Program yang telah berlangsung hampir satu tahun di Lombok Timur dan Lombok Tengah (Nusa Tenggara Barat) serta Sawahlunto dan Tanah Datar (Sumatera Barat) ini bertujuan untuk memberdayakan wanita perajin tenun sekaligus menggerakkan roda ekonomi di ASEAN. Karena tak hanya di Indonesia, Maybank Women Eco Weaver juga membantu perajin di Kamboja.

Presiden Direktur Maybank Indonesia, Taswin Zakaria mengatakan, program ini untuk meningkatkan kemandirian ekonomi wanita yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga dan sekitarnya. “Komitmen ini merupakan bagian dari upaya kami untuk pemberdayaan ekonomi wanita perajin tenun sekaligus berkontribusi dalam upaya pelestarian tenun Indonesia dan mengangkatnya ke dunia internasional,” katanya.

Bekerja sama dengan Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK), Maybank memberikan bantuan modal micro financing kepada wanita perajin tenun sebesar Rp5 juta, berikut pendamping serta pelatihan dari ASPPUK. Menurut CEO Maybank Foundation, Shahril Azuar Jimin, alokasi dana yang telah digelontorkan Maybank untuk program ini mencapai 200.000 dolar AS (Rp2,6 miliar).

Bentuk dukungan yang diberikan pun beragam, tidak hanya modal tapi juga pelatihan, seperti penggunaan pewarna alam hingga pengembangan motif yang diminati pasar. Langkah ini, dirasakan oleh Sela, wanita perajin tenun dari Lombok Tengah, membawa banyak perubahan. Jika selama ini ia bergantung pada pewarna kimia, kini ia sudah bisa melakukan pewarnaan alam dengan memanfaatkan tumbuhan yang ada di sekitarnya.

“Selain biaya pembuatan warnanya lebih murah, tenun yang dibuat dengan teknik pewarnaan ala mini, harganya bisa minimal Rp800.000,” ungkap wanita yang dalam satu bulan bisa menghasilkan dua hingga tiga buah kain tenun ini. Jika dulu ia menerima pendapatan dari menenun tak lebih dari Rp1 juta sebulan, kini pendapatnya meningkat di atas Rp1,5 juta per bulan. (f)

Faunda Liswijayanti


Topic

#UKM

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?