Foto: Fotosearch
Ternyata, dulu saya seorang ratu! Begitu mungkin jawabannya, kalau Anda mengisi kuis tentang siapa saya di kehidupan yang sebelumnya di playbuzz.com. Begini katanya, “Ingatan Anda mengungkap bahwa Anda adalah seorang ratu yang berkuasa dan memesona di kehidupan Anda sebelumnya! Anda seseorang yang menggoda, romantis, kuat, bertekad kuat, dan pencinta seni sejati.”
Tunggu, itu belum seberapa. Masih ada lagi yang bisa membuat Anda makin besar kepala, ”Dunia mengagumi Anda, dan Anda juga selalu ‘dikejar-kejar’ oleh para pria (dan bahkan para wanita). Kecantikan Anda masih terpancar di kehidupan saat ini, dan semua orang bisa melihat bahwa di dalam hati Anda, Anda adalah seorang bangsawan.”
Membaca hasil kuis semacam ini rasanya bisa campur aduk: geli dan ge-er (gede rasa)! Nah, agar seluruh dunia tahu siapa Anda dulu, langsung saya klik tombol share di Facebook, juga Twitter. Tak lama kemudian, komentar-komentar lucu pun bermunculan di linimasa media sosial.
Di saat yang sama, ada seorang teman saya, Astri Winardi (27), wirausaha, yang post hasil kuis tentang usia psikologisnya. Lucunya, hasil kuisnya mengatakan bahwa usia psikologisnya adalah 42 tahun! Ha… ha… ha…. Dia, sih, enggak tersinggung. Malah, dia menulis komentar begini, “Benar banget! Kelihatan dari luarnya, sih, muda, hatinya, sih, old soul.”
Jadi ternyata, ada kecenderungan orang senang mengisi kuis-kuis semacam ini, karena manusia selalu ingin tahu tentang siapa dirinya dan seperti apa kepribadiannya. Walaupun mungkin ia sudah tahu seperti apa kepribadiannya, ia selalu memikirkan dan mempertanyakan, “Sebenarnya, saya ini seperti apa, sih?”
Menurut Listyo Yuwanto, M.Psi, dosen psikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Surabaya, manusia pada dasarnya memang selalu merasa butuh konfirmasi atau pembenaran atas persepsi personalnya mengenai dirinya sendiri. “Maka, dijadikanlah kuis-kuis di media online semacam ini untuk mencocokkan atau mengonfirmasi. Ibarat cermin, kuis-kuis ini dijadikan sarana orang-orang untuk berefleksi mengenai dirinya,” paparnya.
Manusia juga terus membutuhkan konfirmasi atas siapa dirinya, karena meski kepribadian itu relatif menetap, dalam perjalanan hidupnya seseorang mungkin mengalami perubahan kepribadian. “Perubahan kepribadian biasanya disebabkan oleh peristiwa-peristiwa penting dalam hidup atau peristiwa traumatis,” papar Listyo.
Meskipun kesannya iseng dengan judul-judul yang catchy dan pertanyaan main-main, kuis-kuis ini dibuat dengan acuan tes psikologi. Tiap pertanyaan dan pilihan jawaban yang diajukan bertujuan untuk menggali kepribadian seseorang. “Hanya, analisisnya tidak mendalam. Tapi, jika tiap pertanyaan dijawab dengan jujur, ini bisa jadi cara mengungkap diri dan bahan refleksi,” jelas Listyo.
Foto: Instagram
Pernah, saya mengisi kuis lucu yang berjudul: Which Disney Princess are you?. Sebagai mantan anak perempuan yang tumbuh bersama putri-putri Disney, rasanya saya wajib mencoba kuis ini. Dalam hati, saya berharap saya adalah Mulan, putri kesatria yang pemberani. Menurut saya, yang menganggap diri saya sendiri sebagai feminis, Mulan ini saya banget. Berhati teguh dan pejuang sejati.
Dan hasilnya.... Aurora! Hmmm.... Masa, sih? Sepertinya saya harus mengulang tesnya. Tapi, kok, lagi-lagi Aurora!
Rasanya, saya tak akan share hasil kuis yang satu ini. Biar saja, orang lain tak perlu tahu sisi saya yang ini. Barangkali, orang lain akan bereaksi serupa jika tidak suka dengan hasil kuis yang ia ikuti. “Ketika mengikuti kuis-kuis kepribadian semacam itu, orang memang cenderung subjektif terhadap hasilnya. Ia akan menyesuaikan dengan apa yang ingin ia ungkap tentang dirinya. Jadi, ketika hasilnya pun tidak sesuai dengan harapan atau citra yang ingin ia tampilkan kepada orang-orang, ia akan menyimpan hasilnya untuk dirinya sendiri,” ungkap Listyo.
Kesubjektifan itu bahkan sudah dimulai dari ketika seseorang menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Misalnya, ketika ada pertanyaan, apakah ia mudah marah. Meskipun seandainya ia mudah marah, karena ia ingin menjadi atau terlihat sebagai pribadi yang tidak mudah marah, maka ia akan mengisi bahwa ia bukan pribadi yang mudah marah.
Nah, penerimaan terhadap hasilnya tentu saja berbeda-beda dan lagi-lagi bersifat subjektif. Ada yang akan menanggapinya sebagai bahan refleksi dan introspeksi diri. Ada juga yang justru menolak memercayainya, jika ternyata hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi.
Inilah hal yang perlu digarisbawahi. Pasalnya, ada beberapa orang yang menjadikannya acuan dan ‘mengimani’ bahwa ia adalah tipe A, B, atau C. Ada teman saya yang mengisi kuis yang sama berulang kali hanya karena ia tidak suka dengan hasilnya. Kuisnya tentang pria Hollywood yang cocok ia kencani. Ketika mendapat jawaban Ryan Goosling, ia tidak terima karena menurutnya Ryan terlalu manis, tidak sesuai dengan tipe pria idamannya.
Lima kali dia mengisi kuis ini, eh, hasilnya tetap sama. Ujung-ujungnya, ia berpikir, jangan-jangan ini sebabnya ia masih melajang hingga kini, ia selalu menyukai tipe pria yang tidak cocok dengannya. Hal ini sempat membuatnya galau hingga berhari-hari.
Tolong dicatat baik-baik, ya, seperti saran Listyo, kuis-kuis ini hanyalah pengungkapan awal saja, tidak bisa dijadikan patokan yang dapat dipertanggungjawabkan. Jika kita ingin mengetahui lebih dalam mengenai diri kita, kita bisa berkonsultasi dengan psikolog. “Ini untuk mencegah orang yang meyakini kuis ini sebagai dasar valid atas pengungkapan kepribadiannya,” ujarnya.
Bagaimanapun juga, kuis-kuis ini hanyalah gimmick marketing suatu website untuk meningkatkan popularitas dan partisipasi pengunjungnya. “Sebagai variasi dan unsur hiburan saja, agar tidak membosankan,” komentarnya. (f)
Eka Januwati