Trending Topic
Kata UNICEF: Hampir Setiap Anak di Dunia Berisiko Terdampak Krisis Iklim

1 Sep 2021

Foto: Pixabay


Belum lama ini UNICEF merilis laporan berjudul Krisis Iklim Adalah Krisis Hak Anak: Memperkenalkan Indeks Risiko Iklim Anak-Anak. Laporan yang cukup komprehensif ini menuliskan tentang dampak perubahan iklim yang mengancam kehidupan anak di seluruh dunia. Perubahan iklim disebutkan dapat mengancam kesehatan, pendidikan, dan perlindungan terhadap anak, serta memunculkan penyakit mematikan bagi mereka.

Dari analisis UNICEF, terungkap bahwa anak yang berisiko mengalami dampak dari perubahan iklim tersebut umumnya tinggal di daerah negara yang paling tidak mengalami 4 bencana iklim yang saling tumpang tindih. Bencana yang dimaksud, antara lain gelombang panas, banjir, dan kurangnya air bersih. Hal tersebut berpotensi mengancam kesejahteraan anak secara menyeluruh. Sayangnya, hampir setiap anak di dunia berisiko mengalami paling tidak satu bencana iklim.

Menurut data Indeks Risiko Iklim Anak (CCRI), ada 240 juta anak yang sangat rentan terhadap banjir pesisir, 330 juta anak sangat rentan menghadapi dampak banjir sungai, dan 920 juta anak sangat rentan mengalami kelangkaan air. Sejauh ini, ada 400 juta anak terpapar angin topan, 600 juta anak terpapar penyakit yang ditularkan lewat patogen dan parasit, 815 juta anak terpapar polusi timbal, dan 820 juta anak terpapar gelombang panas, dan 1 miliar anak terpapar polusi udara kotor. Angka-angka itu tidak bisa dipandang remeh.

Henrietta Fore, Direktur Eksekutif UNICEF, menyebutkan, inilah untuk pertama kali badan tersebut mendapatkan gambaran yang menyeluruh terkait kondisi rentan anak terhadap dampak perubahan iklim. “Gambaran itu sangat mengerikan. Guncangan iklim dan lingkungan merusak hak anak dalam spectrum yang lengkap, mulai dari akses mendapatkan udara bersih, makanan, dan air bersih; serta atas pendidikan, perumahan, kebebasan dari eksploitasi, dan hak untuk bertahan hidup. Hampir tidak ada kehidupan anak yang tidak terpengaruh," katanya.

Advertisement
Dalam laporan itu disebutkan bahwa kurang lebih 1 miliar dari 2,2 miliar anak di dunia hidup di negara yang dikategorikan sebagai risiko sangat tinggi. Ada 33 negara yang masuk dalam kategori tersebut. itu berarti 1 miliar anak itu berpotensi menghadapi kombinasi dari sederet guncangan iklim dan lingkungan, karena mereka tidak mendapatkan kebutuhan mendasar yang memadai, termasuk air dan sanitasi, perawatan kesehatan, dan pendidikan.

Henrietta mengungkapkan optimismenya bahwa kita masih punya waktu untuk melakukan sesuatu. Misalnya, meningkatkan akses anak terhadap sejumlah kebutuhan penting, seperti air dan kesehatan. Hal ini bisa membantu meningkatkan kemampuan mereka agar bisa bertahan dari bahaya yang kian mengancam. 

Yuk, kita sama-sama bergerak untuk lebih peduli pada lingkungan! (f)


Baca Juga: 
Rp29 Trilliun Dana Desa Digunakan untuk Program Sosial Ramah Anak dan Responsif Gender
Pola Konsumsi Masyarakat Pengaruhi Kelestarian Hutan dan Laut
Laporan Terbaru PBB: Perempuan Lebih Rentan Terdampak COVID-19



Topic

#perubahaniklim, #krisisiklim

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?