Kini tantangan ketidaknyamanan itu sudah bisa dijawab dengan hadirnya inovasi alat uji bernama Bio Saliva PCR, alat untuk mendeteksi COVID-19 dengan metode gargle atau berkumur. Dikembangkan oleh perusahaan startup bioteknologi Nusantics, Bio Saliva mampu mendeteksi 10 varian mutasi COVID-19, yaitu Alpha, Beta, Gamma, Delta, Kappa, Eta, Iota, Epsilon, Lambda, dan B 1.466.2 yang merupakan varian Indonesia. Melansir laman resmi Bio Farma, sampai saat ini belum ada produk alat uji COVID-19 di Indonesia yang dapat mendeteksi 10 varian mutasi COVID-19 seperti Bio Saliva.
Sebelum mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan, proses pengembangan produk tersebut melibatkan lebih dari 400 sampel dari pasien positif COVID-19, baik pasien rawat jalan maupun rawat inap, serta riset validasi selama 7 bulan bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND), dan RS Dokter Kariadi (RSDK) Semarang.
Bio Saliva memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dengan alat uji lain. Sampel yang digunakan dalam proses pengembangan produk berasal dari pasien Indonesia, sehingga memiliki kesesuaian dengan penduduk Indonesia. Sensitivitasnya serupa dengan alat tes swab bernama mBioCov yang tahun lalu diciptakan oleh Nusantics dan telah diproduksi oleh Bio Farma hingga jutaan, yaitu pada grade A. Tambahan kabar baik buat para ibu, alat tes ini juga nyaman digunakan oleh anak usia 4 tahun ke atas dan cairannya pun aman, jika sampai tertelan.
Sejauh ini tes Bio Saliva baru bisa dilakukan di 2 laboratorium di Jakarta, yaitu GSI Kuningan dan GSI Cilandak, dalam kapasitas sangat terbatas. Nantinya proses pengambilan sampel dapat dilakukan di area non-medis dengan pengawasan tenaga kesehatan, sehingga bisa mengurangi potensi kerumunan dan kontak dengan orang asing. Proses pengambilan sampel yang praktis juga memungkinkan pengambilan sampel dalam jumlah sangat besar tanpa perlu menambah tenaga kesehatan. Bio Saliva ini diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas tracing nasional, terutama di kelompok anak dan lansia, yang membutuhkan kenyamanan dalam pengambilan sampel.
Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengungkapkan, “Ini merupakan kali pertama Indonesia membangun industri diagnostik. Pasti masih diperlukan beberapa penambahan sehingga alat uji Bio Saliva ini menjadi sempurna. Maka, kita harus mendorong percepatan penyempurnaan produk. Masukan dari berbagai pihak pada tahap limited release ini akan sangat membantu.” (f)
Baca Juga:
11 Telemedicine untuk Konsultasi dan Obat Gratis bagi Pasien COVID-19 di Jakarta, Cek di Sini!
Vaksinasi COVID-19 untuk Anak Usia 12-17 Tahun, Amankah?
Presiden Joko Widodo Umumkan Vaksinasi Anak Usia 12 hingga 17 Tahun Segera Dimulai
Topic
#biosaliva, #covid-19, #testkit