Foto: Dok. Pribadi
Pada Pilpres yang bersamaan dengan Pileg 2019, PSI memberikan dukungan kepada pasang nomor 01, Ir. H. Joko Widodo dan Prof. Dr. K. H. Ma’ruf Amin.
Apa saja tantangan yang dihadapi oleh para caleg wanita PSI di daerah pemilihan mereka? Dan bagaimana mengatasinya?
Politik Indonesia itu masih laki-laki banget, terkesan kasar dan menyeramkan. Masih banyak yang menganggap bahwa perempuan itu baiknya mengurus rumah. Umumnya masyarakat kita masih belum terbiasa melihat wanita aktif dalam politik praktis.
Pelecehan dengan menyerang kondisi fisik kerap dihadapi oleh para caleg wanita dari PSI. Fitnah sering ditujukan kepada kami seperti halnya yang ditujukan kepada saya beberapa waktu lalu. Ada pihak yang menyebarkan konten palsu dengan menyatakan saya terlibat video dan foto ‘panas’.
Nomor salah satu caleg kami di Bekasi juga disebar dalam situs ‘esek-esek’. Akibatnya, selama setahun terakhir, ribuan SMS dan telepon masuk untuk ‘menyewa’ jasanya. Itulah hal-hal yang menjadi tantangan bagi PSI khususnya caleg wanita, apalagi bila kurang dukungan dari keluarga.
Apakah benar PSI sebagai partai dengan caleg wanita terbanyak? Berapa persen?
Dari semua partai peserta Pemilu 2019, PSI salah satu partai dengan caleg terbanyak yaitu 46 persen dari semua caleg.
Perhatian masyarakat lebih terpusat pada Pilpres, bagaimana cara PSI agar masyarakat juga peduli pada Pileg?
Kami mengakui bahwa perhatian masyarakat memang terpusat pada Pilpres. Hal ini terlihat dari blusukun yang kami lakukan selama ini, baik di masyarakat bawah maupun kalangan masyarakat menengah, masih banyak yang belum tahu kalau Pilpres dan Pileg itu bersamaan pada Pemilu yang akan berlangsung pada 17 April 2019 mendatang. Kurangnya pemahaman masyarakat ini mungkin saja disebabkan oleh kurangnya sosialisasi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Cara kami agar masyarakat tahu soal hal ini, kami mengandalkan sosialisasi door to door. Setiap calon anggota legislatif (caleg) PSI di seluruh Indonesia, turun ke bawah, mendatangi dan ketemu langsung dengan konstituen dari rumah ke rumah.
Apa alasan PSI mendukung pasangan 01?
Beliau juga berani mengambil keputusan yang tidak populer seperti membangun kawasan pinggiran yang penduduknya sedikit. Sementara kalau kita bicara soal hitungan politik, lebih ‘untung’ membangun di kawasan dengan penduduk yang lebih banyak. Dengan harapan penduduk sekitar akan memilih dia kembali.
Namun, Pak Jokowi tetap mengalokasikan anggaran pembangunan untuk pinggiran, bukan untuk dipilih kembali tapi agar masyarakat di sana yang juga sama-sama penduduk Indonesia dan sama-sama mempunyai hak dan kewajiban, ikut merasakan buah dari pembangunan.
Kebijakan lain yang dilakukan adalah menjemput bola dengan menerbitkan sertifikat tanah untuk rakyat yang selama ini mungkin tidak ada legalitasnya. Kepemilikan tanah yang sah secara hukum dibuktikan dengan sertifikat penting yang bisa digunakan memperoleh modal usaha dengan diagunkan di bank.
Pak Jokowi juga mengangkat derajat rakyat dengan memberikan hak pengolahan lahan milik negara selama 35 tahun yang selama ini hanya perusahaan yang bisa melakukan itu.
Masyarakat sangat merasakan buah dari kepemimpinan Jokowi, baik saat menjadi Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta, dan Presiden RI.
Bukankah pasangan 02 lebih identik dengan anak muda seperti halnya partai Anda?
Umur calon bukanlah patokan bagi kami. Seperti kami menyeleksi calon legislatif di PSI, kapasitas dan track record, tidak masalah dengan usia. Selain terkait dengan kesehatan, pendidikan, Pak Jokowi juga punya perhatian besar pada yang berkaitan dengan kalangan anak muda seperti pengembangan dunia digital. Punya plan yang baik dan jelas. Mengidentifikasi masalah digital di Indonesia dan memiliki rencana penyelesaian yang jelas. (f)
Baca Juga:
International Women’s Day 2019 : Menuntut Kebijakan Ramah Wanita
Kepemimpinan Wanita Sangat Dibutuhkan di Politik
Melihat Kemajuan dan Kemunduran Nasib Wanita Di Dunia
Topic
#pemilu , #pemilu2019