Di pergelaran Academy Award 2016 lalu, The Look of Silence/Senyap (2014) karya sutradara Joshua Oppenheimer kembali masuk dalam nominasi Oscar untuk Best Documentary Feature mengikuti kesuksesan karyanya terdahulu, The Act of Killing/Jagal (2012). Selain diputar di 100 festival film di 57 negara, The Act of Killing juga membawa Joshua meraih penghargaan sebagai Sutradara Kehormatan di International Documentary Association’s 2015. Kedua film tersebut sama-sama mengangkat sisi lain dari tragedi genosida 1965-1966 di Indonesia dari sudut pandang berbeda. Dalam The Act of Killing, narasi dibangun dari ingatan para jagal, sedangkan The Look of Silence mengeksplorasi kisah para penyintas.
Meski kedua film tersebut sempat dilarang diputar di Indonesia, lewat kampanye yang konsisten lewat jejaring komunitas, The Act of KIiling berhasil memicu diskusi kritis tentang sejarah kelam Indonesia di tingkat nasional, bahkan menarik perhatian dunia. Diskusi ini diharapkan tak berlalu begitu saja, tapi dapat menumbuhkan pemahaman baru tentang tragedi 1965/1966 dan memberikan energi lebih untuk upaya rekonsiliasi di masa mendatang.
Para pembuat film dokumenter, seperti Joshua, sering disebut memiliki dua peran sekaligus, yaitu sebagai pencerita dan juga aktivis. Film-film karya mereka menyuarakan gairah, kemarahan, kesedihan, dan hal-hal terdalam dari jiwa manusia. Namun, sejauh mana aktivisme bisa dilakukan lewat film dan apa saja strategi yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan utama mereka?
Menciptakan Dampak
Dua bersaudara, Marijoy dan Jacqueline Chiong, menghilang pada Juli 1997 di Cebu, Filipina. Dua hari kemudian, jenazah Marijoy Chiong ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Pada 15 September 1997, polisi menahan Paco Larrañaga yang sedang berada di sekolahnya di Manila, juga 6 orang lainnya atas tuduhan pemerkosaan dan pembunuhan.
“Somewhere, somehow, sometime, the truth will coming out.” Kalimat itu diucapkan Paco dalam Give Up Tomorrow (2011), film dokumenter karya Michael Collins dan Marty Syjuco yang mengemas kisah perjalanan Paco mencari keadilan. Paco divonis hukuman mati atas dakwaan membunuh Marijoy Chiong. Hari itu menjadi awal dari mimpi buruk panjang Paco yang saat itu masih berusia 19 tahun. Ia tidak mendapat kesempatan membela diri, terlepas dari fakta bahwa dirinya bahkan tidak berada di pulau tersebut saat pemerkosaan dan pembunuhan yang dituduhkan kepadanya terjadi. Pengadilan Paco dijuluki media internasional sebagai ‘the trial of the century’.
Sepanjang film, penonton disuguhi upaya keras tim independen yang menelusuri bukti-bukti lain di luar penyelidikan polisi bahwa Paco tidak bersalah serta kampanye untuk mengumpulkan dukungan publik. Lewat situs freepaconow.com, publik bisa ikut mendukung kampanye ini dengan mengisi petisi, dan mengakses dokumen terkait kasus tersebut. Film ini tayang di 70 festival di 35 negara sejak tahun 2011, dan telah meraih 18 penghargaan, termasuk di antaranya 4 penghargaan hak asasi manusia.
Give Up Tomorrow merupakan salah satu contoh bagaimana film dokumenter menjadi medium kuat untuk memicu pembicaraan, baik dalam skala lokal, nasional, hingga internasional tentang isu yang diangkatnya. Dengan teknik penceritaan yang tepat dan memikat, film bisa menumbuhkan empati, dan memberikan suntikan energi baru untuk perubahan sosial.
“Perjuangan panjang Give Up Tomorrow terus menunjukkan titik terang. Kabar terakhir, Paco akan diberikan keputusan bebas pada Juni 2016,” papar Elisa McCave, Deputy Director BritDoc.
Meski demikian, tidak semua film yang mengangkat isu sosial bisa mencapai dampak positif yang langsung memicu tindakan nyata penontonnya. Menjadi trending topic di media sosial atau berhasil ditonton ribuan orang dan meraih penghargaan internasional hanyalah awal dari perjalanan untuk mencapai tujuan yang lebih besar.
“Klaim bahwa sebuah gerakan atau kampanye sosial telah membuat perbedaan, tak lagi cukup, kini yang dibutuhkan adalah bukti nyatanya,” tulis Alnoor Ibrahim tentang cara mengukur dampak perubahan sosial di Harvard Business Review (2013).
Menurut ImpactGuide.org, ada beberapa hal yang diperhatikan para pembuat film dokumenter untuk mencapai dampak yang luas dan lebih dari sekadar menumbuhkan kesadaran publik. Sejak awal, para pembuat film harus memiliki visi yang jelas tentang dampak yang ingin disasar agar bisa menggugah publik untuk langsung bergerak.
Film Blackfish bercerita tentang Tilikum, seekor paus pembunuh yang menewaskan beberapa pelatihnya di SeaWorld. Sang sutradara dan produser, Gabriela Cowperthwaite, mengumpulkan kisah-kisah emosional yang menggambarkan bagaimana mamalia ini diperlakukan sangat buruk dalam kurungan dan juga kehidupan dan risiko yang harus ditanggung para pelatihnya.
Pihak SeaWorld merespons dengan mengeluarkan pernyataan bahwa film ini tidak memberikan informasi berimbang dan memberikan informasi yang tidak tepat. Hal ini lantas dibantah secara rinci oleh sang sutradara dengan bantuan para ahli biologi kelautan. Namun, Blackfish effect terus bergulir. Sekolah-sekolah di Amerika membatalkan field trip ke SeaWorld. Berbagai petisi terkait paus muncul di Change.org. Tahun 2014, Virgin America tercatat sebagai perusahaan yang mengakhiri kontrak mereka dengan SeaWorld dan menghapusnya dari program reward penerbangan.
Sebagian besar film dokumenter yang mengangkat tentang isu sosial dan politik di Amerika muncul pada tahun 2004 dan dipicu oleh peristiwa penting. Setelah peristiwa 9/11, dan deklarasi Perang Irak, penonton disuguhi Fahrenheit 9/11, Super Size Me, The Corporation, dan Control Room. Tahun-tahun berikutnya, An Inconvenient Truth (2006), Food, Inc. (2008), dan The Cove (2008) juga berhasil mendapatkan apresiasi publik yang luas.
Rata-rata film dokumenter yang sukses secara internasional mendapat dukungan finansial dan strategi kuat organisasi, seperti Impact Partner dan Sundance Institute hingga distributor film besar seperti The Weinstein Company.
Bagaimana dengan di Indonesia? Para pembuat film dokumenter masih mengerjakan kampanye film sendiri, sehingga hasilnya belum maksimal. Suryani Liauw, Program Coordinator GoodPitch2 SouthEast Asia, mengatakan, “Beberapa komunitas film ada yang menyediakan workshop pendek, namun masih berfokus pada satu elemen khusus, misalnya bagaimana melakukan participant engagement.”
Padahal, yang dibutuhkan bukan sekadar film yang bagus, tapi juga kampanye yang terintegrasi agar film dokumenter tersebut bisa memberikan dampak lebih luas. “Inilah peran penting para pembuat film dokumenter merangkul seorang impact producer. Dia bertugas menyiapkan strategi kampanye dan pengumpulan dana, membangun kemitraan dan engagement dengan komunitas baik online maupun offline, juga membuka gerbang lobi ke para stakeholders, termasuk pembuat kebijakan,” tambah Suryani.
Impact producer tidak selalu harus sosok dari dunia perfilman, tapi bisa berasal dari kalangan profesional yang memiliki strategic leadership dan jejaring luas pada stakeholders dari isu yang diangkat oleh film tersebut. Dengan adanya impact producer, pembuat film dapat lebih fokus dalam proses produksi karena detail kampanye sudah ada yang menangani.
Program pendampingan produksi memungkinkan pertemuan para pembuat film dengan impact producer seperti GoodPitch2 SouthEast Asia. Program ini masih membuka kesempatan untuk para pembuat film dokumenter di Asia Tenggara berpartisipasi hingga akhir Mei 2016, di http://www.in.in-docs.org.
Kampanye film Bully (2011) menuai respons positif di dunia maya. Ternyata, menurut film ini, 60.000 remaja di Amerika memilih bolos sekolah tiap harinya untuk menghindari bully. Setidaknya, ada 33% orang dewasa yang mengalami ancaman bullying di dunia maya, dan 60% orang dewasa mengakui dirinya sebagai pelaku bullying di dunia maya.
Untuk mencapai target penonton satu juta anak, pada tahun 2012 sutradara Lee Hirsch --yang juga menjadi korban bullying semasa remaja-- terjun langsung sebagai pembicara dalam tiap pemutaran film, baik di sekolah maupun di komunitas.
Tim kampanye film ini menyadari bahwa Facebook adalah salah satu kanal penting dan tak terpisahkan dalam kehidupan orang tua dan remaja yang jadi korban bullying. Dibentuklah tim Facebook Responders, anggota komunitas yang menjadi sukarelawan untuk membantu menangani interaksi online The Bully Project secara personal dengan audiensinya.
April 2012 menjadi momen penting bagi kampanye film Bully. Film ini berhasil diputar di White House dan di bulan yang sama Presiden Obama mengumumkan dukungannya untuk gerakan sekolah yang aman dan antidiskriminasi pada siswa. Lewat kerja sama dengan lebih dari 200 mitra, termasuk Harvard Graduate School of Education, program edukasi film ini juga memproduksi beragam material informasi, seperti panduan diskusi tentang bullying untuk orang tua dan anak, serta sekolah.
“Kampanye Bully berhasil menjangkau pembuat kebijakan, juga komunitas di akar rumput, yaitu pelajar, para orang tua dan pendidik untuk terlibat secara langsung dalam The Bully Project,” jelas Suryani. Menurutnya, hal ini bisa menjadi contoh bagi mereka yang ingin melakukan kampanye serupa di tanah air. Hingga tahun 2013, kampanye The Bully Project masih terus berjalan dan menambah target mereka menjadi 10 juta anak yang menonton. Film yang telah meraih 13 penghargaan itu telah ditonton oleh 3,8 juta anak di seluruh dunia. (f)