Keadaan yang berubah, aktivitas yang tidak bisa dilakukan seperti biasanya, dan situasi yang serba tak pasti karena COVID-19, sudah sewajarnya membuat kita merasa cemas, takut, dan stres. Dalam situasi seperti saat ini, sangat krusial bagai individu, keluarga, kolega, dan masyarakat untuk saling bantu, termasuk dalam hal menjaga kesehatan mental.
Seperti orang dewasa, anak-anak juga merasakan ketakutan dan kecemasan akan kematian, takut kalau keluarganya meninggal, takut mendapat perawatan medis, dan lain sebagainya. Saat sekolah diliburkan mereka pun kehilangan kesempatan bertemu teman-teman yang dapat memberi dukungan sosial dan penting bagi kesehatan mental mereka.
Ketakutan dan kecemasan pada anak-anak bisa membuat mereka jadi cenderung ingin mendapat perhatian lebih dari orang tua. Sebagai orang tua Anda harus memahami ini, meski mungkin merepotkan. Namun para pakar dari WHO mengingatkan, pertama-tama para orang tua harus lebih dulu mengendalikan stres pada diri mereka, sehingga bisa memberi contoh pada anak-anaknya. Jika ini terlalu berat, jangan ragu untuk mencari bantuan dari profesional.
Sementara pada lansia dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan khusus, disebut termasuk kelompok rentan COVID-19 kemungkinan akan membuat mereka sangat ketakutan. Walau tak selalu ditunjukkan. Ini akan menambah beban mental para lansia, terutama yang sebelumnya sudah terisolasi, mengalami kesepian, dan menderita penurunan kemampuan kognisi atau demensia.
Menjaga hubungan sosial bagi lansia adalah hal yang sangat penting terutama saat ini. Sebagian lansia mungkin cukup familiar dengan penggunaan alat komunikasi modern dengan fitur-fiturnya, tapi jika tidak, ada baiknya Anda mengajarkan cara yang mudah pada mereka. Dengan begitu, tatap muka langsung dapat diganti video call. Yang penting mereka tidak merasa kesepian.
“Perubahan yang terjadi sebagai efek dari COVID-19, termasuk social distancing, mendominasi kehidupan kita saat ini. Sangat penting kita saling bertukar kabar, menelpon, video-chat, kepada orang-orang yang kita sayangi, terutama yang memiliki kondisi mental khusus dan sensitif, " ujar Dr Hans Henri P. Kluge, WHO Regional Director for Europe. Menurutnya, kecemasan dan ketakutan itu harus kita kenali bukan diabaikan. (f)
Baca Juga:
Bukan Cuma Melindungi Dari Virus, Ini Sisi Psikologis Memakai Masker
Ini 5 Alasan Tidak Perlu Mudik di Tengah Pandemi COVID19
Stigma, Buntut COVID-19 Yang Bisa Merugikan
Topic
#corona, #covid19, #kesehatanmental