Foto: @ina7summits
Keberhasilan kedua wanita berusia 23 tahun itu menambahkan angka ke dalam bilangan kecil 418 pendaki wanita dari seluruh dunia yang dalam 30 tahun terakhir berhasil menjejakkan kaki mereka di puncak tertinggi dunia Everest.
Nama mereka pun berjajar dengan nama-nama wanita hebat, seperti Junko Tabei, pendaki wanita pertama di dunia yang berhasil menaklukkan puncak Everest pada 16 Mei 1975. Malavath Purna, wanita pendaki termuda asal India yang berhasil mencapai puncak pada 25 Mei 2014, saat usianya masih 13 tahun, 11 bulan! Serta Arunima Sinha, pendaki wanita pertama dengan disabilitas satu kaki, yang berhasil menaklukkan puncak Everest di tahun 2013.
“Kami akan melakukan pendakian selama 57 hari. Dari segi mental, kami harus selalu stabil, fokus, tenang, harus bisa membuat segala situasi jadi menyenangkan dan bisa mengatasi rasa bosan. Fisik juga harus selalu sehat dan fit selama durasi pendakian,” ungkap Mathilda (Hilda) dan tentang persiapan yang dilakukannya bersama Fransiska (DeeDee) kepada IDNTimes April lalu.
Kedua mahasiswi Universitas Katolik Parahyangan anggota unit pecinta alam Mahitala (Mahasiswa Parahyangan Pecinta Alam) ini tergabung dalam misi The Women of Indonesia’s Seven Summits.
Sebelumnya, Mathilda dan Fransiska telah berhasil menaklukkan enam puncak dunia lainnya, yaitu Gunung Carstensz Pyramid (4.884 mdpl/tahun 2014), Elbrus (5.642mdpl/tahun 2015), Kilimanjaro (5.895 mdpl/tahun 2015, Aconcagua (6.962 mdpl/ tahun 2016) dan Denali (6.190 mdpl/2017). (f)