Berkenalan dengan 7 Putri Sulamit yang Siap Berkarya untuk Sesama
1 May 2017
"Setiap wanita Indonesia bisa berkontribusi untuk lingkungan di sekitarnya," tegas Yohanna Limarno, salah seorang founder dari Program Putri Sulamit saat membuka acara Media Gathering Putri Sulamit "Berarti Lewat Hati" di Hotel Alila Seminyak.
Dalam acara gathering yang berlangsung selama dua hari, tepatnya tanggal 29-30 April 2017 di Denpasar, Bali, femina diajak berkenalan dengan tujuh wanita yang memiliki passion untuk membuat perubahan bagi dirinya sendiri juga orang lain. Mereka adalah wanita-wanita muda yang ditemukan dari berbagai provinsi di Indonesia oleh tim Putri Sulamit, mulai dari Sumatra sampai Papua. Yap, Putri Sulamit bukanlah kontes kecantikan seperti pada umumnya.
"Tahun lalu kami mengirim tim untuk mencari mutiara-mutiara yang ada di beberapa daerah di Indonesia. Kami tidak melihat dari tampilan dan kecantikan fisik, tapi lebih mengedepankan karakter dan kemampuan masing-masing. Ketujuh pribadi yang terpilih menjalani karantina selama 14 hari di Jakarta sehingga kilau mutiaranya semakin bersinar," kata Lisa Sanusi, founder Program Putri Sulamit.
Ketujuh Putri Sulamit adalah Akwilina Jeni (17) dari Ngabang, A.A Istri Putri Dwi Jayanti (20) dari Denpasar, Nishada Warih Segara Muncar (21) dari Surakarta, Poppy Indrawati (26) dari Serang, Trya Divinity Malensang (20) dari Manado, Duma Mariana Simanjuntak (20) dari Medan, dan Yunita Alanda Monim (19) dari Sentani. Akwilina saat ini memulai kegiatan sosial Menari Luar Biasa dengan passion menarinya ia mengayomi anak-anak dengan keterbatasan khusus, sementara Trya bercita-cita melestarikan musik tradisional.
Poppy yang berprofesi sebagai guru honorer menjalankan program Hijab Berbagi, yaitu mengumpulkan hijab yang sudah tidak terpakai untuk dijual lagi dan hasilnya didonasikan ke masjid-masjid di Banten. Nishada ingin membuat toilet gratis di pinggiran sungai Surakarta dengan alasan bahwa kesehatan memungkinkan seseorang melakukan banyak hal yang luar biasa.
Yunita yang terpilih sebagai Duta Genre (Generasi Berencana) telah berkeliling ke sekolah-sekolah di Papua untuk mengingatkan dampak negatif dari pernikahan dini serta pergaulan bebas berisiko. Di sisi lain, Duma yang bekerja sebagai cleaning service di stasiun kereta api dan mengikuti kuliah malam ini ingin menunjukkan bahwa cleaning service boleh punya mimpi dan tidak perlu merasa rendah diri.
Putri Sulamit Bali yang akrab dipanggil Gektri menjalankan program Deaf Talk untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap kaum tuli dan menginginkan kesetaraan antara kaum tuli dan kaum dengar. "Keterbatasan bukan penghalang untuk meraih mimipi," ungkap Gektri.
Kecantikan hati ini sesuai dengan inspirasi brand Sulamit yang diambil dari cerita klasik. Sulamit adalah seorang wanita pekerja di kebun anggur yang cerdas dan peduli kepada orang-orang di sekitarnya. Ketulusan hatinya menarik perhatian seorang bangsawan yang akhirnya memberikan fasilitas kepada Sulamit agar dapat berbuat kebaikan lebih banyak lagi. Komitmen serupa diberikan kepada ketujuh Putri Sulamit agar mereka bisa mendapat kesempatan dan ruang untuk berbicara dan bertindak menjalankan proyek masing-masing dengan dukungan penuh dari brand Sulamit.
"Harapannya program ini akan memberikan teladan atau inspirasi bagi wanita Indonesia lainnya untuk ikut berkontribusi bagi masyarakat, bahkan berprestasi di mata dunia. Ketujuh putri ini menjadi benang merah untuk mendefinisikan kecantikan wanita indonesia," jelas Lisa.
Selamat kepada Putri Sulamit, semoga program-programnya dapat berjalan dan berkesinambungan. (f)
Baca juga:
Selamat! Wakil Indonesia, Ariska Putri Pertiwi, Dinobatkan Sebagai Miss Grand International 2016
Topic
#Sulamit