Selalu ada celah dan kesempatan di tengah krisis. Seperti saat ini, di tengah pandemi COVID-19, produk lokal justru naik daun dan makin dicari. Alasan pertama adalah produk lokal mudah didapat atau terjangkau, tanpa perlu shipping. Kedua, produk lokal dekat di hati dan memiliki sisi emosional yang kuat. Dan alasan berikutnya adalah banyak produk lokal memiliki kualitas baik.
Dalam panel diskusi kedua di hari kedua Indonesian Women’s Forum (IWF) 2021 yang digagas Femina, 28 September 2021 lalu, topik The Rise of Local Brand ini menjadi kunci diskusi yang dimoderatori oleh Petty S. Fatimah, CCO Femina dan Direktur Editorial Prana Media, bersama 4 pembicara yang merupakan perempuan wirausaha yang sukses mengangkat kearifan lokal dan bertahan di tengah pandemi.
Gercep dan Kolaborasi dengan Komunitas
Pakaian yang nyaman dipakai di rumah sekaligus tetap tampak keren untuk aktivitas WFH selama pandemi ternyata banyak dicari. Salah satu yang sukses di jalur ini adalah Calla The Label.
Ketika pandemi menghantam, Calla The Label baru sekitar setahun berdiri. Awalnya, Calla The Label menghadirkan pakaian bercorak ramai dan penuh warna untuk keperluan travelling. Kampanye pertama di tahun 2018 pun bertema Happiness. Tren kala itu memang orang travelling dan berfoto OOTD. Namun pandemi membuat Calla The Label harus bertransformasi, karena tidak ada lagi orang yang berlibur.
Untuk tetap survive, Calla The Label mendengarkan kebutuhan konsumennya, para Calla Squad. WFH dan tetap gembira di tengah kesedihan silih berganti menerbitkan ide hadirnya lounge wear warna-warni. “Ini menciptakan keseruan baru. Lalu banyak orang-orang mulai suka bersepeda, kami buatkan jaket warna-warni. Kami menciptakan baju sehari-hari yang bisa dipakai Calla Squad. Make it very fun,” kata Yeri Afriyani, founder Calla The Label.
Ia mengakui bahwa saat itu memang hanya memanfatkan waktu dan sumber daya yang ada, karena banyak kendala, seperti hampir semua vendor tutup. “Survival mode. Ternyata diterima dengan baik. Malah viral,” kisah Yeri.
Salah satu kunci yang bisa ditarik adalah gercep, gerak cepat melihat peluang. Apalagi tren fashion cepat berubah, per 3 bulan. Sekarang, orang sudah mulai berani jalan-jalan, maka Calla mulai menciptakan baju-baju yang agak tebal untuk dipakai ke luar negeri lagi. “Membaca pasar harus cepat. Kita ikuti pasar ke (arah) mana. Tapi, tanpa melupakan DNA, dan kita punya komunitas. Apa yang mereka butuhkan, itu yang didulukan,” kata Yeri.
‘Memberdayakan’ komunitas adalah kunci lain yang dipegang Calla The Label. Lewat Calla Squad, Calla The Label mengembangkan dan mengenalkan produk lebih luas. Diakui Yeri, produk yang dikenakan influencer, key opinion leader (KOL) atau Youtuber bisa terlihat sebagai pilihan bagi audiensnya dan bisa menimbulkan panic buying. Para Calla Squad inilah yang menjadi influencer.
“Mereka punya kekuatan mengarahkan produk yang mau dibeli. Kami memanfaatkan KOL ke arah lebih baik, dengan produk yang honest. Para Calla Squad akan mendapat informasi paling baru dan bisa pesan produk baru terlebih dulu. Kami nggak sekadar mengusung story yang baik, tapi produk juga baik. Harus dijaga, agar ada engagement,” kata Yeri.
Menerapkan Ekonomi Sirkular
Produk fashion yang eco-friendly dan punya ciri tersendiri sekarang semakin moncer dan banyak dicari. Ini bisa juga dianggap sebagai hikmah pandemi, ketika semua merasakan kesusahan yang sama, di sisi lain ada kesempatan untuk lebih membuka mata untuk melihat apa yang sudah dan belum dilakukan terhadap lingkungan, serta yang bisa kita lakukan di masa depan. Demikian disampaikan Chitra Subyakto, founder Sejauh Mata Memandang. “Belajar dari kesalahan kita, langkah kita selama ini belum tepat. Pandemi membuat banyak orang lebih terbuka pada kondisi kita ke depan,” kata Citra.
Walaupun telah bergelut di dunia fashion yang bertanggung jawab terhadap alam, Citra enggan menyebut dirinya sustainable. “Semakin kita baca tentang hal ini, semakin bingung. Di kantor, masih menggunakan banyak listrik, mengirim produk memerlukan bensin. Carbon foot print masih banyak. Tapi yang penting kita sama-sama belajar bahwa kita harus berproses untuk lebih bertanggung jawab. Lebih sadar sedikit-sedikit, karena kita hidup di dunia yang nggak sustain juga. Lakukan yang kita bisa,” papar Citra.
Saat ini, Citra mengungkap dirinya sedang mempelajari ekonomi sirkular (circular economy). Dulu, jelasnya, produk itu didesain, dipakai, dibuang. “Kita sekarang harus berpikir berputar, yakni barang didesain, dipakai, tapi setelahnya tidak dibuang. Bisa dibuat sesuatu yg baru, dengan upcycle atau recycle. Kita bukan negara teknologi, masih terbelakang untuk hal ini. Tapi saya yakin pelan-pelan kita ke arah situ dalam berkarya,” kata Citra.
Selain mulai terbitnya kesadaran untuk menjaga lingkungan, perilaku konsumen berubah di masa pandemi, mudah tergerak membeli benda-benda yang memiliki emotional value, bukan sekadar fungsi. Makin modern masyarakatnya, makin besar hal ini terjadi. Story memiliki peran penting, dan ini yang dilakukan Citra selama ini.
“Orang membeli sebuah story. Cerita pakaian ini inspirasinya apa, dibuat oleh siapa. Cerita itu yang harus kita bagikan ke teman-teman kita, misalnya cerita kita berusaha membuat produk yang lebih bertanggung jawab, yang nggak jadi sampah,”kata Citra.
Cerita narasi yang tidak muluk-muluk, namun menyentuh emosi, akan membuat produk kita berbeda dan menemukan pasarnya.
Konsisten Hasilkan Produk Berkualitas
“Keju itu nggak bisa bohong,” begitu cetus Ayu Utami Linggih, founder Rosalie Cheese, saat bicara tentang produksi keju, yang menjadi lahan bisnisnya. Ia mengungkap bahwa pembuatan semua keju hampir sama, dan hanya memerlukan 4 bahan saja. Namun, yang membedakan itu pada masa pencetakan setelah disaring dan masa pemeraman.
“Susu dipasteurisasi, lalu diberi rennet, seperti ragi dalam pembuatan roti. Setelah susu kental, disaring, didapat dadih, baru dadih dicetak. Pada saat pencetakan itu baru kita tahu keju itu mau jadi apa, yang rasa dan teksturnya seperti apa. Setelah dicetak digarami dan proses pemeraman. Proses aging memberikan rasa dan tekstur berbeda,” kata Ayu.
Proses pembuatan yang konsisten, tentu menghasilkan produk yang konsisten juga. Saat ini, Rosalie Cheese masih tergolong artisan, setengah pengerjaan menggunakan mesin, setengahnya tangan manusia (handmade). Seluruh pembuatannya dilakukan di Bali. Untuk menjaga kualitas, standar kebersihan dalam proses pembuatan keju harus diutamakan, bahkan ini sudah dilakukan Ayu sebelum pandemi. “Apalagi kadang orang makan keju langsung konsumsi tanpa dimasak. Jadi kami menjaga protocol kebersihan sangat ketat. Lokasi masih di rumah, tapi sudah kami ubah jadi standar pabrik,” kata Ayu.
Berdampak Sosial, Menguntungkan Secara Bisnis
Bergerak di bidang sosial itu jauh dari keuntungan bisnis? Tidak juga. Keduanya bisa ‘dikawinkan’, dan menghasilkan dampak sosial sekaligus nilai bisnis yang baik. Setidaknya, hal itu sudah dibuktikan oleh Duanyam, brand yang dibangun oleh Melia Winata, Co-Founder & CMO Du Anyam.
Du Anyam berawal dari menjual produk kerajinan anyaman karya mama-mama penganyam dari Nusa Tenggara Timur. Pemberdayaan perempuan ini dilakukan setelah mereka memetakan hal-hal yang menjadi isu sosial di masyarakat. Ternyata, masalah utamanya adalah gizi buruk. Karena ini bersumber dari kemiskinan, dan ingin membantu meningkatkan gizi anak-anak NTT, Du Anyam memberikan alternatif pekerjaan bagi para ibu di sana, selain menjadi ibu rumah tangga dan peladang. “Kami melihat ibu-ibu ini bisa menganyam, yang merupakan kearifan lokal. Kami coba dulu di 1 desa untuk (modal) tes pasar, mencari tahu seberapa besar produk kerajinan anyaman dibutuhkan,” kata Melia.
Masuk tahun ke-7, Du Anyam bisa membuktikan bahwa mereka bisa bertahan dan makin berkembang. Bermula dari 1 desa dan 8 ibu penganyam, sekarang Du Anyam bergerak bersama 1400 ibu di 50 desa dari 3 provinsi. “Value Du Anyam sebagai social enterprise memiliki 3 pilar: memberdayakan perempuan, meningkatkan kesejahteraan hidup terutama perempuan dan anak, dan promosi budaya. Tentu dalam konsep social enterprise kita perlu utk memahami value dari sosial impact dan value bisnis itu beratnya sama. Keduanya perlu dijalankan untuk bisa mempertahankan sustainable social enterprise,” papar melia.
Paling penting, kata Melia, ketika membangun suatu usaha, kita harus tahu kebutuhan pasar. Hal itu akan menjadi siklus, ketika pasarnya ada maka ibu-ibu penganyam tetap bisa berproduksi. Asar bisa bertahan, ia mengatakan bahwa kita harus adaptif dan inovatif. “Mereka sudah punya keterampilan menganyam keranjang untuk membawa hasil kebun dan upacara adat. Perlu inovasi dan adaptif melihat produk apa yg diinginkan pasar dan konsistensi terhadap kualitas. Kami sangat mengutamakan kulitas,” papar Melia.
Adaptif dan inovatif perlu terus menerus dilakukan, untuk menghadapi kompetitor di dunia social enterprise yang ternyata juga cukup banyak dan tidak boleh dianggap remeh. “Jadi, nggak hanya jual story, tapi juga harus melihat kebutuhan pasar, sehingga akan jadi perusahaan yg bertahan dan tumbuh,” kata Melia.
Sebagai pelaku usaha, Melia merasa bahwa di masa pandemi ini harus bisa menemukan peluang untuk tetap bertahan. Misal, dengan melihat perubahan perilaku konsumen. Karena orang lebih banyak di rumah dan menata rumah, Du Anyam melihat ada kebutuhan konsumen akan aksesori rumah. Karena itu, selama pandemi, mereka menghadirkan produk-produk aksesori rumah yang banyak dicari orang. (f)
Penulis: Gracia Danarti
Baca Juga:
Wanita Wirausaha Perlu Gercep, Geber dan Gaspol untuk Bangkit Hadapi Tantangan Ekonomi
Adaptasi Dunia Kerja yang Tak Lagi Sama
Ini Kata 4 Lady Boss Tentang Tantangan dan Keunggulan Perempuan Pemimpin
Topic
#IWF2021, #bisnis, #wanitawirausaha, #produklokal, #konferensi