Foto: DES
Kopitiam tradisional ini berada di kawasan pecinan Makassar, sekitar 200 meter dari Fort Rotterdam. Sebuah gapura dengan arsitektur oriental bertuliskan ‘China Town’ di depan dan ‘Gerbang Persaudaraan Indonesia–Tionghoa’
tampak di bagian depan kampung Cina. Tak jauh dari gapura itulah warung kopi yang didirikan oleh Liong Thay Hiong pada tahun 1946 tersebut berada.
Dahulu, Warung Kopi Phoenam yang hanya beberapa ratus meter dari pantai kerap dijadikan sebagai tempat singgah untuk menikmati secangkir kopi. Nama Phoe Nam berasal dari bahasa Tionghoa yang artinya persinggahan di selatan.
Meski telah dijalankan oleh generasi kedua, cita rasa kopi Phoenam masih tetap terjaga. Racikannya beraroma khas kopi Toraja dan rasanya manis dari susu kental manis. Kopi tidak hanya diseduh dengan air panas, tapi juga dengan air sari kopi.
Konsep kopitiam dibawa oleh orang Hainan asal Tiongkok ke Asia Tenggara sekitar tahun 1850. Mereka mendirikan warung kopi dengan menu sarapan seperti kopi, teh, telur, dan roti di beberapa negara tempat mereka menetap, seperti Indonesia, Malaysia, dan Singapura. (f)
Baca juga:
Topic
#makassar, #wisatamakassar, #wisatakuliner, #jalanjalanmakassar